Ramadhan Kampus Kehidupan


oleh Ahmad Adityawarman

Mungkin pernah terlintas di pikiran seorang gamer bahwa hidup ini seperti RPG, atau bahkan mengimpikan kalau perjalanan hidupnya bagaikan alur kisah pada Final Fantasy dengan ia sendiri sebagai Squall Lionheartnya. Itu ada benarnya. Usia kita yang terus bertambah dan mengindikasikan makin jauh perjalanan hidup kita membuktikan biasanya makin sulit tantangan yang akan kita lalui ke depan. Analogikanlah bahwa makin tinggi level kita makin berat pula musuh-musuh di hadapan untuk dikalahkan.

Ingatkah dulu kita terbiasa mendapatkan apa yang kita mau hanya dengan rengekan manja kepada orang tua kita. Lalu kita makin belajar bahwa untuk mendapatkan hasil itu perlu proses, kebanyakannya jumlah hasil tentu sebanding dengan besarnya proses.

Hidup bagi manusia memang bukan hanya masalah untuk bertahan hidup, namun hidup adalah bagaimana kita berusaha dan dapat meraih pencapaian. Jika tidak demikian maka apa bedanya kita dengan mammalia lain bahkan avertebrata tingkat rendah sekalipun. Dan ini menuntut kita untuk terus berkembang, belajar dan memikirkan. Hewan tak memerlukan ini, sebagai bukti tak ada dan insya Allah takkan ada kucing yang ngampus di Unlam. Karena bagi mereka sekedar bisa makan, buang hajat dan kawin itu cukup.

Masa kuliah adalah salah satu level itu. Dimana masa ini bukanlah tujuan namun hanya juga proses. Anda takkan betah berada di sini selama-lamanya berstatuskan mahasiswa. Kita di sini karena ingin mencapai step selanjutnya, level yang lebih tinggi dalam hidup ini. Profesi, penghidupan yang layak dan lain-lain.

Mungkin ada kemiripan dengan Ramadhan, sebuah bulan yang bila mampu kita optimalkan di penghujungnya kita akan menuai kemuliaan yang luar biasa. Puasa Ramadhan ialah proses itu. Dan hasilnya berupa ampunan sampai ketakwaan.

Ramadhan dan kampus dapat dimirip-miripkan dengan kepompong, tahap metamorfosa selanjutnya dari larva yang setelahnya akan melahirkan kembali kita menjadi individu kupu-kupu yang kecantikannya tak dapat dinyana sebelumnya. Maksimalkanlah, kawan. Demi Allah, tujuan akhir kita. Itulah kemenangan abadi dan sejati. Yang kepuasannya jauh lebih tinggi dibandingkan ketika kita menamatkan game RPG sekaliber Final Fantasy tanpa game over sekalipun.

(pengantar buletin bulanan Asy-Syifa FK Unlam)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: