SAATNYA JADI PEMUDA (emangnya dulu tua?)


oleh Budi Permana

*toeng* tentu aja kemarin kita lebih muda. Tapi, yakin?

Setelah dipikir-pikir “masa muda dulu” sudah kita gunakan buat apa? Apa pernah kepikiran tujuan hidup kita? Dulu, waktu kawan2 masih imut & lucu, kalo disuruh milih antara selembar 100 ribuan atau 5 keping uang receh, kawan-kawan bakal milih yg mana? “Jelas dong yang jumlahnya 5″ hehe .. becanda doank.

Kalo sekarang, disuruh milih antara hal positif ma negatif, milih yang mana? “Wah susah nih pilihannya, ada pilihan yang lain ga?”. Ada kok pilihan lain yang lebih gampang, milih surga atau neraka? *toeng toeng toeng*

Masa muda usiaku kini

Warna hidup tinggal kupilih

Namun aku telah putuskan

Hidup di atas kebenaran

(Edcoustic “Masa Muda”)

Ok, kawan-kawan, tak dapat disangkal lagi bahwa setiap perubahan yang terjadi didunia ini tidak pernah lepas dari peran pemuda. Bukan pemuda yang “leda-lede” tetapi pemuda-pemuda yang bertaqwa kepada Tuhan mereka yang dengan hal itu, Allah mengangkat derajat mereka.

“Sesungguhnya Allah benar-benar kagum terhadap anak muda yang tidak memiliki kecenderungan terhadap hal-hal yang negatif yang mampu ia lakukan. (HR Ahmad dalam Musnadnya 4/158)

Lihatlah persembahan yang pernah dilakukan pemuda-pemuda bertaqwa ini, bahkan penduduk langit dan bumi pun bangga terhadap mereka :

AZ ZUBEIR BIN AWWAM, teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, juga pemimpin dakwah Islam di zamannya. Umurnya waktu itu adalah 15 tahun.

THALHAH BIN UBAIDILLAH, pembesar utama barisan Islam di Mekkah, singa podium yang handal, tentara berkuda yang mahir, donator utama fii sabilillah, yang mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhatul khoir (pohon kebaikan). Usianya waktu itu adalah 16 tahun.

SA’AD BIN ABI WAQASH, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, pelindung Nabi ketika perang terutama saat perang Uhud yang mencekam. Umurnya baru menginjak 16 tahun.

ALI BIN ABI THALIB, as sabiqunal awwalun pionir kaum muslimin di saat kritis baru berusia 10 tahun. Seorang yang menggantikan Rasulullah tidur dikasurnya pada saat kaum kafir menghadang dan siap membunuh Rasulullah tetapi yang mereka temukan ternyata Ali.

ZAID BIN TSABIT, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis (arab, ibrani, suryani, dll) yang Rasulullah bersabda (perintah): “Wahai Zaid, tulislah”. Mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun. Namanya-pun tercetak indah dalam Al Qur’an secara harfiah.

MU’ADZ BIN AMR (14 th) dan MU’ADZ BIN ‘AFRA’ (13 th) telah berhasil melukai orang elit sekelas Abu Jahl di perang badar.

USAMAH BIN ZAID, namanya terkenal harum sejak usia 12 th ketika Rasulullah menunjuknya sebagai penasehat pribadi bersama Ali bin Abi Thalib dalam permasalahan fitnah “Aisyah selingkuh”, saat 15 tahun menjadi penghubung antara sahabat dengan Rasulullah, puncaknya pada 18 tahun ia memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di Syam.

Imam Syafi’i pada usia 7 tahun sudah menghafal Al Quran, dan pada usia 12 tahun sudah menghafal kitab Al Muwaththa’ karangan Imam Malik. Bayangkan apa yang kita lakukan pada usia 7 tahun dulu? Main kelereng! Dan itupun kalah mulu

Bayangkan pula Muhammad Al Fatih, pada usia 21 tahun telah menguasai 6 bahasa. Dia adalah seorang sosok pemimpin terbaik yang telah berhasil menaklukan Konstatinopel, penaklukan yang telah ditunggu umat Islam selama 800 tahun sejak Rasul memberikan kabar gembira bahwa kota tersebut lebih dahulu ditaklukan daripada Kota Roma.

Apakah mereka tokoh-tokoh dongeng fiktif? Bukan, mereka adalah manusia biasa yang nyata seperti kita, yang telah mengukir prestasi gemilang di masa mudanya. Merekalah agen perubahan Islam yang mampu mendobrak kawasan barat dan timur sehingga Islam menyebar ke seantero jagad.

Kalau kita melihat masa kita ini, “rasanya kok janggal”. Bayangin, usia 12-18 th, jika saat ini seusia SMP-SMA ya…rasakan dengan penuh perasaan seragam biru dan abu-abu itu telah mengemban dan menyelesaikan kerja-kerja besar. Kita ulas sedikit sosok Usamah bin Zaid yang berumur 18 th saat memimpin pasukan segelar sepapan menghadapi negara elit Romawi. Bukankah kemampuan panglima perang itu sangat kompleks, tak hanya strategi dan ilmu kemiliteran, tapi juga meliputi kepemimpinan, psikologi massa, politik situasi, logistik, kemampuan komunikasi dan negoisasi, wibawa, dan seabrek kemampuan elit lainnya. Dan itu dikuasai Usamah muda belia 18 th, kiranya pendidikan macam apa yang tertempa dalam diri beliau. Latihan, training, olah pikir, rasa dan kemampuan seperti apa yang telah beliau lampaui. Jawabannya akan anda temui setelah semakin intens belajar Islam (ayo belajar lagi!).

Intinya lihatlah sosok Usamah kala itu dengan pelajar kelas 3 SMA saat ini. Bak mission impossible yang hanya terjadi di alam imajinasi dan mimpi jika ada pelajar kelas 3 SMA saat ini sekaliber Usamah. Lalu apa yang sebenarnya terjadi di masa kita sekarang ini? Izinkan saya menuliskan sebuah puisi yang cukup menohok dan menghenyakkan saya. Betapa tidak? Faiz, penyair yang masih duduk di Sekolah Dasar tersebut, sudah mampu menuliskan puisi seperti ini:

Setiap hari kami saksikan kesadisan

di luar logika,

juga pertikaian yang tak selesai

diiringi goyang bor patah-patah,

gosip para selebriti

serta gentayangan para hantu

setiap jamnya

Kami larut dalam kisah cinta

anak sekolah berseragam putih merah

putih biru dan putih abu-abu

sambil menertawakan si Yoyo, Cecep, Sin Chan, dan bidadari,

lalu sibuk mendukung bintang baru lewat SMS

Dari pagi sampai malam

kami menghafal televisi

kami cerna kelicikan, darah, goyangan,

dan semua jenis hantu

sambil mendebukan buku-buku

Di sekolah, guru bertanya

tentang cita-cita

dan sambil menguap panjang

kami menjawab

Kami ingin jadi orang paling berguna bagi negeri ini

seperti yang pernah dinasihatkan

orangtua, guru, pejabat, politisi, ulama, dan selebriti kami di televisi

Inilah realita pemuda sekarang, mereka disibukkan dengan sesuatu yang sama sekali tidak berguna bagi dirinya. Malam yang dulu menghadirkan kedamaian sejati merasuk kedalam relung-relung kalbu. Semesta pun bertasbih, sucikan nama-Nya. Subhanallah Walhamdulillah wa laa ilaaha illAllah, Allahu Akbar. Tenang … begitulah yang dirasakan…Tetapi kini semua itu berubah. Malam sekarang dipenuhi hingar-bingar pemuda pemudi yang sibuk melakukan maksiat. Yang saya sendiri tidak sanggup menuliskan data betapa banyaknya kerusakan-kerusakan yang dilakukan pemuda-pemuda sekarang, mulai dari kasus pornografi, perzinaan, seks bebas, narkoba dll.

Sehingga wajar bila Anda bertanya, kenapa pemuda sekarang berbeda sekali dengan pemuda masa lalu yang telah menorehkan namanya dengan tinta emas dan bumi pun bangga memiliki penghuni seperti mereka. Apa sebenarnya yang membedakan mereka sehingga perbuatan mereka ibarat dua sisi mata uang yang saling berhadapan. JAWABANNYA TIDAK LAIN ADALAH ORIENTASI HIDUP MEREKA!!! Jawaban dari pertanyaan ini akan menentukan arah dan makna hidup.

Kalau pemuda sekarang kehilangan orientasi yang benar tentang hakikat hidup mereka, ada yang memaknai hidup mereka dengan materi, sehingga segala aktifitasnya hanyalah untuk mendapatkan materi. Dia menganggap materi dapat memberikan kebahagiaan sejati padahal bila kita berpikir betapa banyak orang kaya yang melakukan bunuh diri, betapa banyak orang kaya yang mengalami frustasi karena merasa sia-sia bekerja mati-matian dan telah mempersembahkan hidupnya hanya untuk bekerja tetapi ternyata dia juga belum mendapatkan kebahagiaan sejati.

Ada juga yang memaknai hidupnya dengan gelar, pangkat dan jabatan, Sehingga yang dia kejar dalam hidup hanyalah ketiga hal tersebut. Padahal kesemuanya pasti akan sirna.

Berbeda dengan pemuda-pemuda Islam dulu, mereka menganggap bahwa diri mereka hanya layak dihargai dengan surga sehingga aktifitas mereka hanyalah mencari Ridha Allah, Dengan ketaqwaan inilah Allah menjadikan mereka orang-orang terbaik. Pemuda dahulu memiliki orientasi yg jelas tentang hidup mereka. Mereka begitu mengerti dari mana mereka berasal, untuk apa mereka hidup, dan kemana nantinya mereka akan dikembalikan.

Jadi sekarang dah tau bagaimana cara menjadi pemuda terbaik, hanya cukup memahami hakikat hidup? Pemahaman seperti ini hanya bisa didapat dengan pemahaman yang benar yang bersumber dari Allah SWT yang menurunkan Al-Qur’an melalui utusannya Nabi SAW. Sehingga wajib bagi kita, bukan hanya mampu menghafal dan melantunkan ayatnya tetapi benar-benar memahami isinya. (Budi Permana)

Iklan
    • syafaat
    • September 20th, 2010

    oke boz ,,mantaplah

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: