sunatan massal ala pemerintah


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Minggu, 26 Juni 2010, pagi hari yang cerah. Aku bangun dengan semangat yang luar biasa. kenapa..? karena hari ini adalah hari yang ku tunggu-tunggu. kenapa jadi ku tunggu..? karena beberapa hari sebelumnya, ada seorang kaka tingkat yang mengajak aku dan beberapa orang temanku untuk berpartisipasi dalam sebuah acara sunatan massal. ya sunatan massal, tapi bukan jadi peserta buat di sunat (cat:penulis sudah khitan..), tapi buat nyunat peserta yang mau di sunat. Ya lumayan lah, buat menggali ilmu. sebagai seorang calon dokter umum (insyaAllah, Amin…), masalah sunat-menyunat adalah keahlian yang harus dimiliki dokter umum. walaupun sebenarnya di kampus nanti juga akan diberikan materi “nyunat” tapi masih lama, mungkin di atas semester 4, dan itu pun hanya dilakukan pada phantom, bukan pada manusia asli. ya jadinya kurang greget. Tak ada tangisan dan perlawanan.

Karena yang di ajak tak hanya aku, tapi juga teman-temanku, ada 5 orang. Kami janjian dirumah salah seorang teman sebut saja “kumbang” (wew, kaya baca koran rubrik kriminal az) yang rumah nya tak jauh dari TKP tempat sunatan massal dilakukan. seharusnya kami berkumpul sebelum jam 7 pagi, tapi entah kenapa budaya indonesia begitu melekat di diri kami, hingga ujung-ujungnya kami baru bisa berkumpul semua sekitar jam 7.45 pagi. kami pun langsung tancap gas. seorang teman kami tinggalkan karena masih berada di luar kota katanya dia akan langsung ke TKP.

Setelah “kujuk-kujuk” sekitar 30 menit karena sebenarnya kami tak ada yang tahu TKP tepatnya ada dimana, yang kami tahu TKP di Beruntung Jaya Pal 6, ternyata Beruntung Jaya itu luas. Tapi akhirnya setelah ganti navigator kami berhasil sampai di TKP dengan selamat. Sekitar jam 8.15, TKP sudah lumayan banyak di datangi orang. Ternyata masih banyak yang belum sunat, hehe. karena kami bingung bagaimana caranya masuk ke tempat “operasi”, kami mencoba menghubungi kaka tingkat yang mengajak kami. tak lama, ternyata ada warga yang menyuruh kami langsung ke tempat “operasi”. Tanpa banyak cincong dan tak jadi menelpon kaka tingkat kami langsung masuk. Masuk dengan penuh keyakinan, seakan-akan kami sudah terlatih dan handal dalam masalah sunat-menyunat. Padahal hal paling “canggih yang pernah di ajarkan kepada kami di kampus baru ngambil darah vena. Maklum baru semester 2. tapi dengan santai nya kami masuk dengan “sok”, yang penting tampilannya meyakinkan.

Begitu kami masuk, setelah bincang-bincang sebentar, kami langsung disuruh mengambil “posisi”. Karena memang belum berpengalaman maka, kami hanya mendampingi “ahlinya” saja. Sebenarnya ini bukan kali pertama bagiku mengikuti acara sunatan massal semacam ini. sebelumnya juga pernah di gedung sultan suriansyah, juga di ajak oleh oknum yang sama. Yang berbeda kali ini aku lebih bisa memberikan kontribusi. Aku naik tingkatan, yang sebelumnya cuma jadi obsevator, sekarang jadi asisten. Walaupun cuma jadi jadi asisten tapi itu juga lumayan buat nambah ilmu. Mungkin kesempatan lain aku akan langsung “main” jika disuruh, asal ada yang mendampingi.

Ada 4-5 anak yang aku handle, jam sudah menunjukkan pukul 10.00. Aku dan kawan-kawan pun langsung get out lagi karena ada aksi yang harus diikuti. Walaupun kami tahu bahwa kami sudah terlambat, tapi tak apalah, yang penting datang dulu.

seperti valentino rossi yang lagi berlaga di sirkuit MotoGP, aku dan kawan-kawan ngebut supaya masih sempat mengikuti aksi. ternyata alhamdulilah aksinya masih berlangsung. walaupun aksi jalannya sudah hampir kelar. tanpa buang waktu kami langsung memparkir motor di sabilal, dan langsung berlari menuju barisan para pejuang-pejuang Islam dalam mengkoreksi pemerintah. Aksi itu adalah aksi Tolak Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang dilaksanakan oleh DPD I HTI Kalsel.

aksi yang luar biasa, meskipun panasnya mentari begitu menyengat, keringat membanjiri tubuh mereka, sama sekali tak menyurutkan semangat mereka dalam berfastabiqul khairat, menyerukan Islam kepada masyarakat dan pemerintah.

seperti yang sudah di sah kan oleh pemerintah per tanggal 1 juli TDL naik 10 persen untuk mereka yang menggunakan listrik dengan beban di atas 900 watt. Pemerintah berdalih dengan dengan pengurangan subsidi, pemerintah bisa menghemat APBN sebesar 8 triliyun rupiah. alasan yang jika dilihat sekilas begitu bijak dan pro rakyat. Tapi apakah benar seperti itu? Ternyata tidak. Jika memang benar pemerintah mau menghemat APBN pemerintah sebenarnya bisa menghemat hingga 50 triliyun rupiah, jika bahan bakar yang digunakan untuk pembangkit listrik menggunakan gas. Padahal Indonesia adalah salah satu penghasil gas terbesar di dunia, tapi kenapa pemerintah tidak melakukan hal itu? apa pemerintah begitu “bodohnya” hingga tak mengetahui potensi negerinya sendiri? Tentu bukan karena itu. Lalu apa?

Masalahnya adalah sistem yang dianut oleh negeri kita, dan pemimpin-pemimpin kita. Negeri kita menganut sistem kapitalis-sekular yang ujung-ujungnya menyengsarakan rakyat. dengan naiknya TDL, maka akan terjadi efek domino di masyarakat. Harga kebutuhan hidup akan naik, biaya produksi akan naik, pengangguran akan bertambah karena banyak usaha kecil menengah yang tak mampu membayar biaya produksi barangnya. Ujung-ujungnya beban hidup masyarakat yang sudah sangat berat akan bertambah berat lagi.

Di sisi lain, para wakil rakyat, yang katanya refresentasi dari keinginan rakyat, seakan menjadi buta dan tuli. Mereka tak melihat dan mendengar lagi jeritan rakyat karena kehidupannya semakin terhimpit dan semakin susah. Sungguh wajah asli demokrasi telah tampak jelas.

Padahal Islam sebagai sebuah sistem yang komprehensif mengatur kehidupan sudah memberikan solusi atas krisis energi yang di alami negeri kita tercinta.

“Umat Islam itu bersekutu dalam 3 hal, air, api, dan padang gembalaan.” (HR.Abu Dawud & Ibnu Majah)

Sudah jelas sekali bahwa api (baca: sumber energi) adalah harta milik kaum muslimin, dan kaum muslimin harus mendapatkannya secara cuma-cuma. sedangkan tugas pemerintah adalah mengelolanya. Tapi apa yang dilakukan oleh pemerintah kaum muslimin sekarang, contohnya Indonesia, mereka malah dengan entengnya menjual aset-aset negara. Blok cepu hingga Freeport di tanah mutiara hitam di jual atas nama liberalisasi.

Sungguh Islam adalah rahmatan lil alamin. Solusi bagi kehidupan manusia. Dan lihat, dengar, rasakan apa yang terjadi pada kaum muslimin tanpa Islam sebagai sebuah paradigma mendasar di setiap sendi kehidupan.

Sungguh hari ini aku telah merasakan 2 tragedi sunatan massal. Pertama sunatan massal dalam arti circumsisi. Dan yang kedua, ternyata pemerintah juga hobi mengadakan sunatan massal di seluruh Indonesia. Mereka menyunat hak-hak rakyat Indonesia. Dan jika ini terjadi terus menerus jelas hak-hak masyarakat akan dikebiri alias SUNAT HABIS…haha

Ironinya DEMOKRASI…..!!! Termasuk sistem moyangnya, KAPITALIS-SEKULER.

wallahu ‘alam

Banjarmasin, 1 Juli 2010
Selesai ditulis pukul 14.15

setelah sekian lama tak menulis…..

Iklan
    • Helmi
    • Oktober 16th, 2010

    AllahuAkbar!
    Turunkan TDL..! Kembalikan aset! Jangan jual perusahaan milik rakyat! Tambah terus aksi sunatan! (eeh..!)
    Anyway.. selamat menyunat

    Salam,
    Saudaramu.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: