The Story of Panjul part 1


oleh Ridwan Taufik Kurniawan

Panjul (bukan nama sebenarnya) adalah mahasiswa di kampus seni. Dia adalah orang yang baik, rajin ikut pameran, bagus prestasi akademiknya, tidak sombong dan rajin menabung. Di suatu malam, di tengah kesibukan ngerjain tugas kuliah yang segunung, Panjul pergi ke warnet buat online (ya iyalah masa ke warnet mau kemping?). Panjul mengetik “google.co.id” (bukan promosi)  di address bar browsernya. Lalu entah kenapa naluri kepolosan Panjul mendorongnya buat iseng ngetik “sholat” disana. Apa karena masih dalam suasana syawalan? Atau memang malaikat kebaikan ngbantu ngebisikin di kuping kanannya?

Kita jawab itu lain kali. Yang jelas ini emang diharapakan jadi momen penting dalam perubahan hidup Panjul ke depan. Dia geserlah naik turun halaman googlenya, mencari artikel beruntung yang akan ia kunjungi pertama kali.

Sambil mencari artikel yang pas, Panjul gelisah, ia celingak celinguk dari box komputernya. Memastikan bahwa di sekitarnya tidak ada teman dekat dan akrab. Panjul ga pengen pas lagi asik baca artikel Islam dianya diledekin, ga bisa liat kalo Panjul lagi aneh dikiiit aja. Oke, sekarang semua sudah aman. Kebetulan artikelnya juga udah kepilih. Panjul mengencangkan sabuk pengaman, sambil mengkomat-kamitkan bismilah dia klik deh linknya.

Judul artikel itu, Kenapa Kita Tidak Sholat? Panjul ngerasa ada yang aneh dengan judul ini. Ah, sudahlah. Setelah dibaca sekilas, Panjul akhirnya ngerti kalo artikel itu isinya justru ajakan buat sholat. Maksud judul artikel itu sendiri akan lebih pas kalau diganti Mengapa Kita Masih Saja Tidak Mau Sholat?

Pandangan Panjul tertuju pada perkataan salah satu orang yang dijunjungnya, setidaknya itu pernah dia katakan di depan orang banyak pas masih bau kencur. Jelek-jelek gitu pas kelas 4 SD Panjul juga pernah diikutkan ibunya lomba pidato Isra’ Mi’raj di masjid kelurahan lho! Keren kan?

“Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat (dengan sengaja) berarti ia telah kafir.” (HR. Ahmad & Tirmidzi)

Panjul sedikit terpana, lalu meneruskan bacaannya.

“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat” (Al-Muddatstsir 74: 42-43)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan, “Orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja berarti ia telah melakukan dosa yang teramat besar. Dosanya di sisi Allah swt lebih besar daripada dosa membunuh jiwa yang tidak halal untuk dibunuh, atau dosa mengambil harta orang lain secara batil, atau dosa zina, mencuri dan minum khamr. Meninggalkan shalat berarti menghadapkan diri kepada hukuman Allah swt dan kemurkaan-Nya. Ia akan dihinakan oleh Allah swt baik di dunia maupun di akhiratnya. (Ash-Shalatu wa Hukmu Tarikiha, Ibnul Qayyim rahimahullahu, hal.7)

Panjul bergidik. Ia sendiri baru ingat, kesibukannya ngerjain tugas kampus tadi malem membuatnya harus begadang sampai dinihari, lalu terlelap sampai jam 7 pagi. Artinya dia ketinggalan sholat Subuh.

Pikirannya melayang membawanya lebih jauh ke masa lalu. Sejak hijrah ke Jogja entah sudah berapa ratus kali Panjul ninggalin sholat fardhu. Seingat dia kalo jadwal kuliah menuntutnya pulang agak sorean, dia selalu ninggalin zhuhur. Dia pikir ada keringanan buat orang yg “berjihad” menuntut ilmu kali. Haha.

Emang dulu pas masih dikampung enak. Orang tua dirumah kadang-kadang sih ngontrol sholatnya. Tapi sekarang? Boro-boro dah temen kos ngingetin. Pertama-pertama dulu, Panjul masih sering ngaji Quran di kos. Dia juga pengen berangkat sekali-kali ke masjid kampus buat sholat berjamaah, tapi pas mau berangkat temennya pada kompak ngeledekin. “Sok Islami lo, Jul, beragama tu biasa aja lahhh, ga usah fanatik, tar jadi teroris lho!!!”. Temannya yang lain menimpali, “ Gue Islam walaupun ga sholat, tapi sampe sekarang gue masih idup tuh”.

Panjul kesel campur bingung. Kenapa hak dia buat masuk surga malah dihalang-halangin? Kenapa hak dia buat ngindarin neraka malah dibilang teroris? Malah orang-orang disekitarnya begitu bangga dengan kesalahnnya. Sungguh berkecamuk pikirannya. Dan akhirnya, teman-teman kos Panjul menang! Hore! Sejak saat itu Panjul gak pernah lagi terlihat jalan ke Masjid. Sekarang Panjul bukan hanya sedang mendebukan Quran di rak bukunya, dia juga ga berangkat jamaahan di Masjid kecuali Jumatan doang, sholatnya juga lebih sering bolongnya (maklum, dikerjain cuma pas lagi mood)

Panjul tersadar dan kembali ke dunia nyata. Lamunan akan kesalahannya itu membuat Panjul sedikit syok dan membuatnya gak nafsu ngelanjutin online. Ia lebih memilih ngelanjutin renungannya di kos. Jendela browserpun ditutupnya. Tidak lupa dibungkus dulu artikel barusan ke flashdisk. Panjul berkemas lalu ngeloyor pulang, hampir aja dia lupa bayar di kasir.

***

Kasur yang agak lembab jadi tempat pendaratan Panjul pertama kali. Ia kembali tenggelam dalam renungan. Ia tak hanya takut telah mengecewakan orang tuanya, tapi juga Allah dan Rasulnya. Betapapun  banyak karya yang Panjul hasilkan di depan manusia, itu semua tidak membuatnya mulia di mata Allah. Selama ini Panjul memandang Tuhannya sebelah mata sambil membuat “tuhan-tuhan” lain yang ia “sembah”, semua elemen fana yang telah menjadikan Panjul lupa akan kewajiban sesungguhnya sebagai manusia. Panjul lebih memilih menghabiskan waktu bersama karya dan meninggalakan sholat. Panjul lebih suka menghabiskan waktu bersama tawa canda teman-temannya daripada menuntut ilmu agama. Panjul lebih suka makan di angkringan daripada rumah makan padang.

Tidak banyak harapan Panjul pada malam itu kecuali dirinya bisa jadi orang yang lebih baik. Panjul selalu berusaha sholat di awal waktu, dalam keadaan lapang maupun sempit. Ia juga makin rajin ke masjid. Adapun masalah dengan teman-teman kosnya tidak terlalu dibikin pusing, Panjul paham itu sudah resikonya sebagai orang istimewa, yang selalu jadi masalah bagi orang-orang sinis yang gak suka. Malah Panjul bertekad agar bisa jadi inspirasi yang senantiasa memberikan energi positif di lingkungannya, karena Panjul sayang teman-temannya.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS.Ali Imran 3:133)

Bagaimana kelanjutan kisah lika-liku kehidupan Panjul sebagai seniman muslim di kampus seni? Tunggu edisi serial Panjul berikutnya ya. Panjul miss you…hoho. Chao!

  1. wikkkk…bagus ini.
    Haha..kampus saya banget ini.
    (temen2 fotografer juga banyak yg model begini. Semoga suatu saat hatinya terbuka…)

    • yak. sedikit demi sedikit mulai ada harapan kesana mbak. amin
      jzk udh comment

    • rajabanjar
    • Oktober 9th, 2010

    artikelnya bagus, ceritanya simpel dan jelas.
    keren uuee….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: