Mahasiswa Islam


oleh Kukuh Pandu, aktivis dakwah ideologis UII

Kalian tahu setahun yang lalu pada 18 Oktober 2009 di depan gedung stadion indoor basket senayan Jakarta digelar Kongres “Jalanan” Mahasiswa Islam Indonesia. Kongres yang sebelumnya direncanakan untuk berjalan di dalam gedung beratap dengan fasilitas nyaman menjadi ‘liar’ setelah tiba-tiba diumumkan izin penggunaan gedung yang dibatalkan oleh pihak pengelola terkait. Kami, 5000 mahasiswa yang siap duduk nyaman mendengarkan orasi dalam gedung berpendingin udara harus bersorak-sorai begitu mendengarkan info tersebut. Bagi ribuan mahasiswa yang jauh-jauh datang dari berbagai penjuru Indonesia, Kongres Mahasiswa Islam Indonesia tidak berbeda untuk digelar seperti apapun juga bahkan di atas jalanan tempat kaki-kaki letih kami berpijak. Semangat yang bergolak dalam pikiran dan jiwa kami untuk menggaungkan ditegakkannya agama Allah sudah terlalu panas untuk dimanjakan dengan sebuah penundaan atau pembatalan acara akbar ini. Jalankan atau tidak sama sekali! Allahu Akbar!

Memori tersebut kawan, belum bisa dihilangkan dari pikiran saya meski sepersekian detik. Begitu jelas saya mengingatnya sampai-sampai terik matahari di ubun-ubun pun seperti masih terasa. Kemarin, juga pada tanggal 18 Oktober di tahun yang berbeda mahasiswa Islam kembali berkumpul di seputaran kota Jogja untuk mengenang kisah yang kelak akan tercatat dalam sejarah sebagai kongres mahasiswa terbesar yang pernah diadakan. Kembali Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) menjadi penanggungjawab acara. Jangan ragukan semangat kami, persis sama seperti setahun yang lalu bahkan lebih! Tapi, tidak dengan jumlah kami.

Terjadwal untuk memulai aksi pukul 13.00 WIB, namun aksi turun ke jalan baru di mulai satu jam berikutnya. Menjadi maklum karena panitia penyelenggara adalah mahasiswa dari STEI Hamfara yang bermarkas di Bantul pedalaman.

Jumlah peserta yang ditargetkan tiap kampus mengirimkan setidaknya 10 mahasiswa tidak terpenuhi. Jadilah aksi kemarin didominasi warna hijau tua dari almamater STEI Hamfara itu sendiri. Saat ditanyakan oleh panitia perihal jumlah kami yang sedikit, malu-malu kami menjawab dengan sejumlah alasan untuk menutupi kekurangan saudara kami sendiri.

Bagaimana mungkin kami menjawab terang-terangan bahwa mahasiswa yang bergerak dalam arus perjuangan terlalu risih untuk melakukan sedikit saja pengorbanan meninggalkan kuliah untuk turun ke jalan. Saya sendiri tidak nyaman mengutarakan alasan sebenarnya. Bahwa teman-teman saya adalah mahasiswa yang patuh pada perintah orangtua untuk serius menuntut ilmu di bangku kuliah.

Setelah mendengar alasan dari saya mereka tertawa. Saya pun menjadi ikut tertawa lalu melontarkan lelucon dalam batin, “KMII setahun yang lalu acara puncaknya adalah sumpah mahasiswa untuk menegakkan syariah dan khilafah. Pun begitu dengan refleksi kali ini yang diakhiri dengan pembacaan sumpah kembali dengan Alloh menjadi saksi. Maka teman-teman yang tidak bersumpah bisa duduk santai saja karena tidak ikut bersumpah setahun lalu juga sumpah pada hari ini.”

Seperti emosi teman saya turut mengatakan, “Kalo berjuang tanggung-tanggung seperti ini maka hasilnya pun tidak akan penuh.” Maka layak menjadi cerminan diri bagi mahasiswa yang tergabung dalam komunitas pergerakan untuk meresapi komentar tersebut. Manakala mahasiswa berkomitmen untuk bergabung dalam perjuangan dalam hal ini untuk menegakkan Islam, maka dia harus paham bahwa sudah sepatutnya seluruh bagian tubuh yang dimiliki memiliki lahan untuk beraktivitas di kesempatan yang berbeda-beda. Kita harus sadar dan maklum kapan kaki ini bergegas menuju kampus dan kapan kaki tersebut digunakan untuk melangkah dalam aksi turun ke jalan misalnya. Juga seperti isi kepala yang dalam waktu tertentu digunakan untuk memuaskan nafsu dosen dan di waktu yang lain memanaskan otak ustad-ustad pengajar Islam politik kita.

Menjadi lucu bila kita menggelari diri sebagai mahasiswa pergerakan namun aktivitas hanya dihabiskan di dalam ruang kelas universitas. Menjadi rancu status kita bila dikatakan sudah menjadi bagian dari dakwah Islam namun yang tertera di jadwal harian hanya aktivitas mengejar IPK tertinggi dan target lulus cepat. Kita ini kan mahasiswa Islam, kalau tingkah laku tidak ada bedanya dengan mahasiswa Kristen, Budha, Hindu yang menghabiskan waktunya di bangku kuliah lalu apa yang membedakan ke-Islaman kita sebagai mahasiswa dengan ke-kafiran mereka di dunia?

Cita-cita mahasiswa untuk lulus dengan status ‘mulia’ di kampus tentu tidak ada yang mempermasalahkan. Yang ditekankan itu benarkah kita sudah membagi tubuh kita sesuai ikrar diri kita sendiri kepada Allah yang memiliki hak cipta tubuh ini?

Alpa, lupa dan bolos dari rutinitas perkuliahan itu buruk! Tapi alpa, lupa dari kewajiban menyampaikan rahmat Islam ke seluruh dunia jelas lebih buruk. Dalam lingkup kampus aktivitas ini adalah mendakwahkan ilmu, pemahaman tentang Islam yang mahasiswa miliki kepada warga kampus sekitar. Baik sesama mahasiswa, tukang bersih-bersih, satpam hingga staf pengajar. Sedangkan opini utama yang urgen untuk disampaikan jelas adalah syariah dan khilafah sebagai solusi hidup manusia. Silahkan kita menyebarkan opini sebagai salah satu senjata perjuangan secara individual. Namun jangan lupa ajakan menyebar opini secara berkelompok dengan memanfaatkan jumlah massa yang besar yang tentunya gaungnya pun akan didengar secara luas. Kita tetap mahasiswa Islam pergerakan, baik di dalam kampus ataupun di jalanan. Karena itulah teriakan, peluh keringat dan yang utama ‘kemauan’ kita dibutuhkan sewaktu-waktu untuk lebih dekat kepada masyarakat dengan cara terjun ke jalanan.

Lupakanlah upaya untuk membohongi diri sendiri dengan meniru tingkah-laku dosen kalian semasa mereka masih duduk di bangku kuliah dengan mengatakan, “Waduh, nanti ada kuliah”, “Tugas kuliah banyak banget nich”. Karena kampus-kampus sekarang ini menerapkan 75% presensi kehadiran kuliah. Jadi, bila mata kuliah kita menghabiskan 14 kali pertemuan maka jatah untuk tidak masuk adalah 3 kali. Maka rajin-rajinlah hadir di dalam kelas dan bilamana teman-teman pergerakan di sudut kota yang lain membutuhkan tubuh anda secara fair jatah tidak masuk tersebut adalah hak.

Kalau seluruh hal di atas terlalu sulit dan terlalu meremehkan (karena pendapat saya pribadi) bagi kita semua maka mudah saja, mengundurkan diri dari perjuangan di jalan ALLOH bisa menjadi pilihan. Dan semoga ALLOH juga mengerti dan tidak mau repot-repot membalas jasa kita baik di dunia maupun di akherat.

———————-

gambar adalah dokumentasi Refleksi Sumpah Mahasiswa Islam di Makassar

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: