Berkaca Pada Mbah Maridjan


oleh Ahmad Adityawarman

Innalillahi wa inna ‘ilayhi raji’un. Gunung Merapi kembali memuntahkan isi perutnya, aliran awan panas yang juga mengalirkan air mata kesedihan atas berpulangnya nyawa-nyawa yang menjadi korban ke hadirat-Nya. Ke hadirat Allah, sang pemilik nyawa manusia dan juga yang menguasai Gunung Merapi itu sendiri. Dan di antara belasan jasad yang telah membujur kaku itu terselip sosok yang sudah tak asing lagi kita dengar. Ia disebut sebagai juru kunci Gunung Merapi, dikenal dengan nama Mbah Maridjan.

Saya rasa kematian beliau cukup istimewa. Tidak, ini tidak menyangkut status beliau sebagai juru kunci Merapi karena saya yakin seyakin-yakinnya Sang Juru Kunci sebenarnya yang menentukan tumpahnya isi perut Merapi maupun yang mampu meredam amarah gunung tersebut hanyalah Allah Yang Maha Kuasa. Mbah Maridjan, seperti halnya kita adalah manusia biasa yang suatu saat nanti pasti akan mati juga, seperti apapun cara kematiannya. Yang istimewa menurut saya adalah keberanian dan idealisme yang kakek ini mampu pertahankan hingga akhir hayatnya.

Ya, idealisme dan keberanian. Kakek mana yang mau bertahan di lingkungan gunung berapi yang sudah jelas tanda-tanda aktivitas vulkaniknya akan segera meletus? Kita ingat di berita-berita disebutkan ketika petugas mengungsikan warga sekitar lalu menyarankan Mbah Maridjan ikut beranjak mengamankan diri dari sana, si Mbah malah menolak dan berkata, “Saya masih kerasan dan betah tinggal di sini. Kalau ditinggal nanti siapa yang mengurus tempat ini?”

Wallahu’alam, apa yang dimaksud beliau dengan ‘mengurus tempat ini’. Tidak tahu apakah benar beliau bertahan di sana demi melaksanakan ritual-ritual seperti kata berbagai media. Namun yang jelas, berdasarkan penuturan teman saya di jejaring sosial yang pernah berinteraksi langsung dengan kehidupan warga di lereng Merapi sejak 2006, Mbah Maridjan adalah sosok yang taat beribadah bahkan amalan sunnahnya sangat baik. Anak perempuan beliau juga seorang da’iyah yang berjuang menghilangkan berbagai kesyirikan di kalangan masyarakat sana. Sayangnya hal ini rasanya malah tidak pernah diekspos oleh media. Teman saya itu berpendapat, Mbah Maridjan hanyalah korban dari kemusyrikan penguasa setempat, yang mempertahankan tradisi juru kunci Merapi hingga sekarang.

Sikap Mbah Maridjan di akhir hayatnya jelas menunjukkan rasa tanggung jawab beliau yang begitu besar atas ‘tugas & predikat’ yang disematkan kepada beliau. Beliau tahu bisa jadi yang dikatakan petugas benar, bahwa Merapi sudah siap meletus dan tentu ini akan berbahaya untuk keselamatan dirinya yang bersikeras untuk tinggal. Namun beliau paham beliau sendiri pemegang tanggungjawab ini, dan kalau bukan dirinya, siapa lagi? Dan tentu beliau tahu, nyawalah yang akan jadi taruhannya.

Hingga, ketika ketentuan Allah telah terjadi, ditemukanlah jasad Mbah Maridjan yang tak bernyawa lagi, tertutupi debu tebal dari awan panas merapi, dan subhanallah, dalam posisi bersujud.

Dan sekarang bagaimana dengan kita? Kita yang mengaku sebagai pengemban dakwah, kita yang menganggap diri kita adalah orang yang menerima dan melaksanakan tugas mulia dari Allah dan rasul-Nya sebagai penyampai dien ini, hingga tegaknya islam di muka bumi? Bukankah tugas kita ini adalah tugas yang jelas siapa yang memerintahkannya, jelas ganjarannya namun juga jelas segala rintangan dan hambatan untuk menjalankannya? Bagaimana jika kelak halangan itu semakin sulit, sanggupkah kita berkata “Saya takkan meninggalkan jalan ini, saya masih betah tinggal di sini. Kalau saya meninggalkan da’wah ini, siapa lagi yang akan menjalankannya?” Dan bagaimana jika akhirnya kita dihadapkan pada pilihan berat yang bahkan pilihan tersebut menuntut untuk mengorbankan nyawa kita? Masih beranikah kita berteriak lantang di garis depan dan terus melawan? SIAPKAH KITA UNTUK MATI??

Padahal baru sedikit saja amanah da’wah yang kita terima kita sudah mengeluh, merasa terbebani, menganggap hal itu tidak penting dan lain sebagainya. Hingga kita pun menjadi tidak profesional dan tak sungguh-sungguh menjalankannya, dengan berbagai alasan yang sebenarnya mengada-ada.. Inikah yang namanya pengemban tugas dari langit itu? Kemana idealisme kita yang seringkali kita umbar, kemana keteguhan yang sering kita ajarkan kepada objek da’wah kita? Tak malukah kita?

Dan karena hikmah itu ada di mana saja, dan tiap muslim diperintahkan mengambil hikmah yang berceceran itu, ada patutnya kita meniru satu hal pada almarhum sang ‘juru kunci’. Siapa tahu, dalam satu hal ini, kita jauh tidak lebih baik dibandingkan beliau. Wallahu’alam..

(lebih ditujukan untuk diri sendiri!)



 

    • adillah
    • November 23rd, 2010

    we have to believe in something that can’t be seen by eyes..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: