Berpikiran Biasa


Oleh Kukuh Pandu Herlambang

Berpikiran biasa. Berpikir yang hanya berlandaskan pada fakta yang terlihat di depan mata anda. Berpikir yang hanya mengambil sisi baik saja. Berpikir yang cukup melihat dari luar atau bentuk fisiknya saja. Berpikir yang seolah-olah mulia. Dan akhirnya anda dan pikiran biasa anda menarik kesimpulan dengan bangga bahwa itu hal yang biasa. Luar biasa!

Saya menyindir, dengan nyinyir. Siapa lagi kalau bukan kebanyakan pendahulu-pendahulu bangsa ini dan orang-orang yang sebaya dengan saya malah bahkan diri saya sendiri.

Bisa-bisanya setiap ada bencana rombongan besar tentara dari negeri asing nun jauh disana (tapi tidak dengan pangkalan militernya) datang dengan nyaman tanpa izin yang berbelit-belit lalu mendatangkan bantuan, fisik dan logistik. Masyarakat menerimanya dengan baik, disertai puja-puji, “Oh, mulianya hati anda dan pemimpin anda.” Heran? Jangan membuat saya tambah heran dengan keheranan anda. Cukup ingat saja bencana akbar tsunami di Aceh beberapa tahun silam yang menewaskan puluhan hingga ratusan ribu warga yang tinggal di ‘serambi Mekkah’ katanya. Kapal perang yang mengangkut sejumlah tentara dengan peralatan canggih tiba di bibir pantai wilayah NKRI tidak lama pasca bencana. Mereka berkostum Superman, Batman, Spiderman hingga Lucky Luke si cowboy. Gagah memang, ditambah kesan ‘mister nice guy’ maka mereka menjadi idola Indonesia.

Seperti tidak adil. Saat kapal laut milik polisi Diraja Malaysia cuma ‘nyerempet’ ombak di batas laut negara maka jutaan warga ramai-ramai menghabiskan minyak tanah untuk membakar bendera kain. Padahal cuma nyerempet.

Tapi begitu tentara U.S yang entah kita tidak tahu alat canggih macam apa yang mereka bawa bersandingan dengan kardus mie instan dan botol air mineral maka kita menganggapnya “Ah, tidak mungkin mereka macam-macam di tengah kondisi sengsara yang kita alami saat ini”, lantas kita tidak marah atau curiga sama sekali. Dan pada akhirnya tanpa mengaktifkan penginderaan jauh via satelit canggih yang mereka miliki, data-data yang membantu dari militer, politik, sosial dari negeri kita dengan mudah mereka dapatkan. Berpikir positif?

Berpikiran biasa. Begitu mudahnya kita memainkan emosi, perasaan untuk memimpin alur penarikan kesimpulan dari suatu kejadian. Seorang almarhum jenderal bintang lima yang selama puluhan tahun merampok negeri sendiri dengan kamuflase yang mengalahkan seekor raja bunglon dan berhasil mempertahankan opini “Enakan jamannya Pak Harto”, berangsur-angsur segera dinobatkan sebagai pahlawan. Begitu mudahnya gelar pahlawan disematkan saat ratusan ribu mahasiswa yang ‘berjuang’ mereformasi dinasti kemaruk yang bertahan di era orde baru dan mewakilkan dari mereka satu atau dua agar wafat diterjang peluru tentara. Belum sempat kita bertanya apa dan untuk apa yang mereka perjuangkan lewat pengeras suara dan lembaran karton berwarna lantas nyanyian “Ku kenang dikau pahlawan” dikumandangkan. Gampang sekali jadi pahlawan. Serahkan dirimu pada bajingan dan matilah. Biasa sekali. Amat biasa.

Berpikiran biasa. Saya ingin sekali mati dan menimbulkan kesan ‘surga’ bagi yang melihatnya. Tapi sebelum itu saya ingin mencoba hal-hal haram yang belum sempat saya rasakan. Menenggak alkohol mungkin ide brilian. Dua botol saya habiskan dan kaki ini tidak mampu lagi menumpu sekujur tubuh. Saya jatuh tersungkur dengan posisi bersujud, pas kebetulan menghadap kiblat. Saya tidak sadarkan diri, padahal sisa alkohol sempat jatuh dan memercik di lampu templok yang sedang menyala dan timbulah api yang besar membakar rumah saya. Hangus, mati. Tapi posenya bagus sekali, saya sedang sujud. Dan aktivitas apa yang erat kaitannya dengan pose bersujud kecuali sholat bagi seorang muslim? Baca saja berita-berita besok hari dan semua orang akan berkata, “Wah, alhamdulillah, subhanallah dia mati dalam keadaan sujud.” Good joke, husnudzan yang bagus sekali.

Oh, ya. Siapa yang mau saya beri amanah untuk menjaga bom C4 yang masih aktif dan bisa meledak sewaktu-waktu? Siap menanggung amanah ini walau saya sudah puluhan tahun mati. Walau ada tim gegana yang mendeteksi dan memperkirakan bahwa bom tersebut akan meledak kamu harus berani tetap di dekatnya. Walau dengan itu juga beberapa orang terdekat kamu tetap menemani dengan alasan mereka mempercayai kamu sebagai orang yang tangguh memegang amanah. Tak mengapa bom itu meledak dan kamu mati bersama beberapa orang tetangga. Karena toh kamu tetap akan di puji keesokan harinya dan Tuhan tetap menghukum kita berdua atas kebodohan yang berbeda.

Berpikir biasa? Husnudzhan? Pertahankan apa yang menurut kamu itu lugu dan bagi saya itu lucu.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: