Creativity Block


oleh Akbar Khomenini

“Beda antara orang kreatif dan yang tidak hanyalah pada kemampuan orang kreatif dalam mengatasi aral (pengahalang) kemampuan kreatifitas”(Madhukar Shukla)

HuhuY! Yang pasti saya setuju sekali dengan definisi kreatif ala M’bah Madhukar tersebut. Yang berarti semua orang sebenarnya berpotensi dan punya bakat untuk kreatif. Namun ada penghalang tertentu yang menyebabkan adanya kecenderungan orang yang satu bisa lebih kreatif dari pada yang lain. Dan mereka yang kita anggap kreatif itu sebenarnya sama aja dengan kita. Hanya saja, mereka mampu dan berhasil mengatasi penghalang-penghalang kretifitas tersebut agar potensi kreatifnya tidak terpendam atau terkekang selamanya..

Kamu tau siapa Mark  Zuckerberg?? Mark Zuckerberg seorang mahasiswa yang luar biasa, nakal tetapi punya banyak ide kreatif. Ia sempat dihukum petinggi kampus lantaran membuat situs yang menilai penampilan fisik mahasiswa Harvard. Tetapi itu tidak membuat kreativitas Mark surut, apalagi mati. Tiga bulan setelah hukuman, dia malah sukses menciptakan situs yang kini sangat mendunia, yaitu Facebook!.  Luar biasa bukan?

Lalu, bagaimana agar kita (anak ilkom) dapat mengembangkan atau -lebih mencurahkan imajinasi kretif kita agar dapat terealisasi nyata seperti si Mark atau orang-orang kreatif lainnya?

Tentu saja, langkah awalnya adalah dengan mengenali apa saja aral kretifitas itu. Ringkasnya, aral kreatifitas (creativity block) adalah kondisi internal maupun eksternal (lingkungan)  yang menghalangi proses kreatif. Aral internal berasal dari dalam diri individu sendiri dan bisa berbentuk pola pikir, paradigma, keyakinan, ketakutan, motivasi, dan kebiasaan.

Sedangkan aral eksternal lebih pada kondisi lingkungan. Ada kalanya seseorang mempunyai bakat-bakat kreatif dan tertantang untuk mengembangkannya. Tapi sayang lingkungan sekitar bukannya mendukung dan mewadahi, tapi malah menghalanginya.

Nah, untuk lebih jelasnya mari kita kupas satu persatu secara singkat aral-aral kreatifitas tersebut.

Aral Pola Pikir

Dalam konteks kreativitas, dikenal dua pola berpikir. Pertama, pola pikir produktifyang artinya jika dihadapkanpada sesuatu masalah,  maka seseorang akan berusaha menemukan cara berfikir berbeda yang lebih baik, cara pandang baru (sekalipun tidak orisinil), sikap dan perilaku berbeda, merespon dengan cara-cara non konvensional, bahkan unik. Pola semacam itulah yang membuka jalan dan selalu merangsang kreatifitas seseorang.

Kedua, pola pikir reproduktif yang artinya apabila dihadapkan pada masalah, seseorang itu akan cenderung merespon dengan cara yang sama, mengulang pola pikir atau cara penyelesaian lama yang dianggap berhasil (padahal hakikatnya belum tentu). Dan itulah sebab mengapa pola pikir reproduktif menjadi salah satu penyebab utama kekakuan berfikir, dan dengan demikian menjadi aral kreatifitas. Orang-orang yang seperti inilah yang biasanya terlalu menganggap perubahan adalah hal yang tabu.

Aral Paradigma

Kurang lebih dengan aral pola pikir adalah aral paradigma. Paradigma adalah cara mempresepsi, memahami, dan menafsirkan dunia sekelilingnya. Paradigma seseorang sangat mempengaruhi kreatifitas. Seseorang dengan paradigma antikonflik umumnya kurang menyukai perubahan, atau bahkan membenci perubahan. Mereka tidak memandang perubahan sebagai peluang perbaikan. Padahal kreatifitas merupakan aktifitas yang dapat lahir atau terstimulasi melalui benturan, persinggungan, percampuran, dan penyatuan berbagai unsur  yang berbeda atau bahkan saling bertentangan selama hal tersebut masih dalam koridor yang dapat dibenarkan.

Aral Keyakinan

Keyakinan bisa menjadi pendorong atau justru menjadi faktor penghambat kreatifitas. Kreatifitas sering memunculkan output baru yang berlawanan atau mengalahkan hal lampau, mengalahkan senioritas, mengalahkan pengalaman, atau mengalahkan hirarki. Dalam hal keyakinan yang menabukan inisiatif, mengharuskan penghormatan berlebih pada senioritas, hirarki, atau pengalaman misalanya. Maka manifestasi kreatifitas umumnya relatif terhambat. Maka beruntunglah kita yang masuk dalam kestrukturan HIMAKOM periode ini, karena HIMAKOM justru mengarahkan semua anggotanya menjadi mahasiswa-mahasiswa yang kreatif tanpa batas-batas seniorotas-hirarki tadi.

Aral Ketakutan

Mungkin dari berbagai aral kreatifitas yang paling mudah dikenali adalah rasa takut. Aral ini bisa berupa takut diabaikan, takut dicemooh, takut dievaluasi, takut dihakimi, takut dianggap bodoh, takut pada ketidak sempurnaan, takut mencoba, takut ambil resiko, takut ide tidak berjalan seperti yang diharapkan, takut gagal, dll.

Salah satu sebab mengapa banyak sekali mahasiswa yang enggan melakukan aktivitas perubahan meski mereka menyaksikan banyak sekali kebobrokan didepan mereka adalah karena ketakutan.

Aral Motivasional

Tanpa motivasi, orang cenderung tidak terdorong dan tidak tergerak untuk meraih sesuatu yang diinginkannya. Padahal kreatifitas sering menuntut satu rangkaian persiapan pemikiran, pendefinisian persoalan, dan pemecahannya. Semuannya membutuhkan dalam derajat tertentu usaha dan kerja keras. Maka, bila motivasi rendah orang cenderung kurang menyukai kerja keras, kurang tekun, dan enggan memanfaatkan kemampuan kreatifnya untuk memecahkan tantangan.

Aral Kebiasaan

Orang-orang kreatif  umumnya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang merangsang kreatifitas. Sementara orang-orang yang kurang kreatif juga memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu, yang sayangnya malah meredam kreatifitas. Misalnya : suka menghindari masalah (bukan mencari solusi), malas berfikir, menghindari tantangan, menghindari tanggung jawab, menghakimi ide-ide baru, mudah berpuas diri, dll. Bila dihadapkan pada kebiasaan tersebut maka tantangan kreatifitas tak ada artinya.

Aral Sosial

Kreatifitas kadang selalu dipengaruhi oleh aspek  sosial. Situasi sosial tertentu yang cukup apresiasif dan menghargai kreatifitas dengan layak sehingga bisa lebih memotivasi individu untuk produktif dan kreatif. Sementara situasi sosial lainnya relatif  kurang apresiasif dan bahkan mengekang. Maka sering dibeberapa tempat, kreatifitas kurang begitu dihargai. Misalnya masyarakat cenderung lebih menginginkan anaknya untuk bekerja di sebuah perusahaan tertentu daripada merintis sebuah usaha baru. Hal ini tentu menjadi hambatan tersendiri bagi jiwa-jiwa muda yang kreatif.

Aral Organisasi

Banyak sekarang ini organisasi bisnis menempatkan kreatifitas sebagai motor sekaligus bahan bakar inovasi. Hal ini seharusnya juga ada pada HIMAKOM wadah semua anak ilkom untuk berkarya. Sekalipun peran kreatifitas diakui besar, namun banyak organisasi gagal menyediakan lingkungan atau iklim yang kondusif bagi kreatifitas itu. Organisasi yang konservatif biasanya kurang merangsang kreatifitas. Seperti batasan-batasan hirarki, aturan yang tidak fleksibel, ketiadaan wadah bagi ekspresi kreatif, buruknya komunikasi. Semoga saja HIMAKOM tidak mencelakakan dirinya menjadi oraganisasi seperti itu..

Nah, dalam upaya menuju kemajuan HIMAKOM, maka kita harus menghalau semua penghalang-penghalang kreatifitas tersebut agar potensi kreatif yang selama ini terpendam dalam diri dan organisasi kita dapat berkembang dan menyegerakan terjadinya kemajuan yang kita cita-citakan.

Dan ingat!, berkreatifitas bukan berarti melanggar aturan Sang Super Creator, yaitu Alloh! Pikirkan saja, kreatif adalah melakukan sesuatu dengan lebih baik. Maka aturan Alloh yang sudah sangat benar pasti baik tersebut tidak mungkin lagi dilanggar dengan dalih membuat lebih baik lagi bukan? Maka jelas melanggar aturan Alloh bukan lagi kreatif, tapi bodoh! Setuju? Ayo berkarya!

(akb, dari berbagai sumber)

 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: