Hard Level


oleh Akbar Khomeini

Kadang kita selalu dihadapi oleh berbagai aral sepanjang perjalanan kita menempuh tujuan. Sayangnya, yang paling sering terjadi, kita selalu merasa lemah dan tak mampu untuk menghadapi halangan  tersebut seraya mengambil langkah mundur : putus asa, menyerah, berhenti.

Padahal segala halangan dan rintangan merupakan sebuah tantangan bagi sorang pejuang. Yang semakin lama dia menempuh perjuangannya –seharusnya- akan semakin beragam dan sulit pula tantangannya.

Seorang samurai besar pasti akan merasa harga dirinya direndahkan apabila pihak lawan lebih memilih menerjunkan seorang bocah untuk menjadi lawan tandingnya. Bagi dia yang sudah berada di level jauh lebih tinggi dibandingkan bocah yang bahkan belum kuat untuk memegang katana itu, akan merasa lawannya tidak sepadan dan tidak pantas berhadapan dengannya. Karena, buat apa selama ini dia berlatih dan mengalahkan berbagai samurai lain yang hebat, hanya untuk dihadapkan dengan hal remeh temeh, yang bagi dia merupakan sesuatu yang sepele.

Sama halnya pula, kita mungkin pernah bermain game dan saking keranjingannya kita berhasil sampai level sangat tinggi yang sulit dicapai. Namun, suatu saat dalam level yang tinggi kita malah mendapati permainan itu semakin
mudah, bukankah membuat kita malah menjadi kurang bersemangat untuk meneruskannya?

Kita mungkin akan berseloroh.. “halah..! musuh di level satu buat apa muncul lagi dilevel lima puluh ini..? terlalu mudah! Gak ada yang lebih menantang nih..?!”tentunya kita akan menuntut tantangan yang lebih sulit dari tantangan yang biasa kita hadapi. Tantangan yang akan melatih kita menjadi professional  dalam permainan itu. Yang menjadikan kita master dan berhasil menempuh level-level berikutnya dengan skill yang sudah terasah tajam dari level permainan sebelumnya.

Ego akan menuntut pemuasan..

Lantas, kenapa? kenapa kita selalu merasa paling melarat didunia saat tantangan itu muncul dalam kehidupan nyata? Kenapa kita cengeng saat ujian yang sebenarnya adalah tantangan dan harus kita selesaikan untuk menaikan derajat (level) kita itu muncul? Kenapa kita membanci jikalau tantangan itu menguras harta benda, dan mungkin bahkan fisik yang selama ini sangat penting bagi kita?..

Sedangkan disaat kondisi kenasiban kita stabil dan adem ayem, kita selalu bergombal ria ingin menjadi seorang pejuang muslim yang tangguh dan mengharap ditinggikan derajat sehingga pantas disejajarkan dengan para sahabat.. Kita asik bermimpi ria mendapatkan hadiah yang terbaik di surga atas semua perjuangan yang selama ini sudah kita rasakan puas.

Padahal tidak ada jalan lain untuk menaikan level selain menaikan taraf kesulitan dilevel. Apa bedanya kalau level sebelumnya tidak berbeda dengan level sesudahnya..?

Mana mungkin Allah menguji ‘orang besar’ dengan ujian yang ‘kecil’?

“Apakah kamu mengira akan dibiarkan begitu saja, padahal belum terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang diantara kalian?” (QS.At taubah [9]:16)

Ujian merupkan jalan bagi seorang mukmin mendapatkan identitas kesejatiannya. Ujian yang bertubi dan meningkat merupakan hiasan perjalanan dakwah Rasulullah, para sahabat, tabi’in, tabi’at, tabi’in tabi’at dan seluruh pejuang islam. Ujian merupakan komponen dalam kurikulum ketaqwaan. Ujianlah yang menjadikan  seseorang tangguh dan membentuk diri hingga pantas disebut ‘pejuang’ dengan embel-embel ‘sejati’ karenanya..

Kemudian apakah sekarang kita masih takut dengan ujian yang sebenarnya tantangan itu??

Sabar, tawakal, dan terus berusahalah teman.. dan daki level-level itu secara perlahan..

“Allah tidak akan memberikan beban (taklif) kepada seseorang diluar batas kemampuannya” (QS.Al Baqarah [2] :286)

“Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad [47]:7)

(akb)(28-10-2010)

 

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: