Penjinak Bom Waktu dan Bom Ranjau


Oleh Akbar Khomeini

Ada sebuah kisah menarik mengenai dua orang veteran perang. Keduanya adalah mantan tentara spesial  yang terlatih kemampuan khusus. Yang satu mantan penjinak bom waktu, dan yang seseorang lagi mantan penjinak bom ranjau. Di kehidupan dipasca perang, keduanya memiliki kebiasaan yang berbeda dari orang tua kebanyakan lainnya. Mereka terlihat masih bersemangat beraktivitas, masih rajin berkeliling membantu sekitarnya, seolah hidup mereka masih terasa muda, penuh energi dan warna.

Sering.. diwaktu subuh buta, pak Ali sang mantan penjinak bom waktu sudah bangun lebih dahulu dibandingkan anak muda lainnya. Ia berangkat ke mushola kompleknya dan dengan merdunya mengumandangkan azan penanda waktu sholat telah tiba. Ia juga dikenal sebagai orang yang tak pernah lelah beraktivitas. Pagi setelah subuh, ia selalu membersihkan halaman rumah, bahkan membersihkan lingkungan sekitar kompleknya. Sekitar jam Sembilan pagi ,setelah membaca buku-buku agama, ia mulai membuat tulisan-tulisan islami dari ilmu-ilmu yang ia dapat. Kemudian setelah berzuhur, seperti biasa ia mengisi ceramah di masjid. Dan setelah ashar, ia kembali berkeliling dikompleknya dengan membagikan fotocopy-an dari tulisan yang ia buat pagi hari.

Tak berhenti sampai disitu, setelah magrib, pak Ali dengan ikhlas mengajar mengaji anak-anak di mushola kompleknya. Dan sering terbangun melakukan shalat tahajud di tengah malam. Dengan seabrek aktivitasnya itu,ia hanya beristirahat sebentar sekali..

Hal tersebut membuat takjub warga sekeliling yang menyaksikannya begitu luar biasa pak Ali memanfaatkan waktu, padahal usianya kini sudah sedemikian renta..

Begitu pula keseharian Pak Husin, seorang mantan penjinak bom ranjau yang sering dibicarakan warga karena kedermawanannya dan kebaikan perilakunya.

Semua orang tahu, dimana pak Husin berada pasti akan ada sebuah contoh teladan yang akan disaksikan. Dimana saat berjalan di tengah keramaian, pak Husin yang sudah ‘kepala enam’ itu sering memberhentikan perjalananya demi menolong anak-anak SD yang ingin menyebrang jalan. Kadang ia suka mensedekahkan duitnya kepada anak-anak loper Koran atau pengemis  yang kurus kering. Kadang ia suka menyapu taman sendirian padahal itu bukan tugasnya, dan paling sering pak Husin kalau berjalan kaki selalu membawa kantongan besar untuk menampung sampah yang ia pungut sepanjang perjalanannya..

Anak cucunya yang sering ikut berkeliling bersama pak Husin sampai malu karena mereka kadang tidak memiliki kepedulian seperti yang dilakukan pak Husin. Mereka bingung apa gerangan yang membuat kakeknya tersebut tak pernah lelah dan bosan bersikap ekstra baik seperti itu.

Rahasia tersebut terkuak setelah pak Ali dan pak Husin bercerita tentang masa lalunya.

Pak Ali bercerita tentang saat-saat mengharukan yang pernah ia alami. Pak ali pernah menyaksikan rekannya sesama penjinak bom tewas akibat ledakan bom yang belum sempat dijinakan. Saat itu pak Ali bertugas ditempat yang jauh dari lokasi bom, namun ia berkomunikasi dengan temannya tersebut, membantu untuk memikirkan cara agar bom waktu dapat dijinakkan.

Karena waktu yang begitu singkat teman pak Ali akhirnya tewas diledakan tersebut, sebelum berhasil memotong kebel penghenti waktu -yang padahal sudah berhasil diketahui dengan pengecekkan, namun sayang terlambat hanya satu detik..

Kemudian sejak saat itulah pak Ali sangat menyadari betapa berartinya ‘satu detik’ bagi dirinya. Betapa ternyata dalam tempo satu detik semuanya bisa terjadi. Hanya dalam satu detik terlambat, sebuah kesempatan bisa kita sia-siakan, bahkan hanya dengan satu detik yang tak bisa kembali lagi, nyawa seseorang bisa melayang.

Dan itulah yang selalu mendorong pak Ali agar memanfaatkan waktu hidupnya sebaik mungkin. Memanfaatkan detik-detik yang dilaluinya dengan usaha semaksimal mungkin beramal dan berkarya. Sehingga kisah duka dan kekecewaannya yang dulu pernah dirasakan akibat ‘terlambat satu detik’ tak lagi ia temukan disisa-sisa umurnya..

Begitu pula kisah dibalik sikap pak Husin yang begitu tulus membantu sesama..

Pak husin memiliki kisah tak jauh berbeda dari kisah pak Ali. Sebuah tragedi duka pernah terukir dalam riwayat tugasnya dimedan perang lampau,-menjinakkan bom-bom yang ditanam musuh dijalur jalan tank-tank tentara. Ia menyaksikan adik laki-lakinya yang sedang bertugas  tewas dengan menggenaskan akibat terinjak bom yang tidak terlihat tertutup tanah. Tubuh adiknya berhamburan tercerai berai, hingga pak Husinpun terkena sedikit serpihan ledakan saat itu.

Telak, duka dan pilu berkecamuk dalam perasaan pak Husin sepanjang hayatnya saat mengingat gambaran naas tersebut. Dan itulah yang membuahkan sikap pak Husin untuk terus terjaga pada setiap langkah kakinya dalam bingkai perbuatan baik. Kenangan pilu itulah yang mengkristalkan pada pikiran pak Husin bahwa setiap langkah kaki kita adalah lebih dari sebuah langkah biasa. Namun langkah, juga tindakan dari pilihan yang kita ambil untuk ‘melakukan langkah atau tidak’.

Makanya, pelajaran dari ‘salah langkah dimedan ranjau’ merupakan pelajaran berharga bagi hidup pak Husin. Dan pelajaran berharga itulah yang terus memacu pak Husin untuk memanfaatkan langkah kakinya dengan penuh perbuatan amal terbaik yang bisa ia persembahkan. Dan hal yang wajar kalau pak Husin di setiap perjalannya selalu membawa plastik buat mengumpukan sampah, selalu membawa duit untuk disedekahkan, selalu rela berbelok untuk membantu sesama. Karena -sekali lagi-, langkah kaki bagi pak Husin adalah kesempatan untuk sekaligus berkarya (beramal).

Yah, pemanfaatan detik  ala pak Ali. Juga pemanfaatan langkah ala pak Husin, patut kita teladani. Apalagi disaat usia kita yang terhitung masih muda sekarang ini.. semoga 86.400 detik yang diberikan Allah setiap hari, dan kesehatan betis untuk terus melangkah dapat kita syukuri dengan arti yang sesungguhnya..  amin.

(akb)

Cat: tulisan ini terinspirasi gara-gara tdk sengaja keinjak siput dibelakang rumah.. Hayoo! apa coba hubungannya? yang tau dapat hadiah!

 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: