Distorsi Makna “Jilbab” di Universitas Brawijaya


Awalnya…

Pagi itu, seperti biasa sekitar jam 07.00 pagi, aku mulai berangkat dari rumah kontrakanku menuju ke kampus. Hari itu kebetulan aku ada jadwal kuliah pagi sekitar jam 07.30 pagi sehingga harus membuatku berangkat pagi-pagi seperti ini.

Melewati jalan seperti biasanya, dari arah Perum Joyogrand kemudian menuju Merjosari dan akhirnya sampai di persimpangan Toserba Sardo Gajayana. Selanjutnya mengambil jalan pintas melewati sebuah gang kecil bernama Kertoasri, dan melaju lurus menuju Ketawang Gede dan keluar di jalan besar M. T. Haryono. Dari depan gang Ketawang Gede, aku memilih langsung membelokkan kendaraan tersayangku ke kanan dan masuk ke kampus melalui –yang sering disebut- pintu gerbang teknik. Setelah membayar tiket masuk ke universitas –karena tidak ada stiker universitas- seharga Rp 1000, aku pun melaju mengikuti jalan yang ada hingga sampai di sebuah pertigaan teknik, tepat dimana Kafetaria atau kantin teknik berada. Di pertigaan ini, tujuanku adalah belok kiri, menuju jalan utama dari Universitas Brawijaya, namun ketika hendak belok kiri sesaat mataku menangkap sebuah spanduk yang sepertinya baru saja ditempel. Dalam waktu yang amat singkat itu, sempat kulihat kata-kata yang menjadi primadona dari sekian banyak kata-kata yang ada di spanduk itu yakni kata “JILBAB”. Bahkan kata-kata itu dicetak dalam huruf tebal dan warna tersendiri yang berbeda dari kata-kata yang lainnya. Spanduk yang berbicara tentang jilbab!

Waktu itu sebenarnya aku memang tidak terlalu memperhatikan isi spanduk yang ada karena memang singkat saja aku melihatnya, namun aku bisa menebak dan mengira bahwa spanduk itu adalah buatan Lembaga Dakwah Kampus yang di sini diberi nama sebagai UAKI (Unit Aktivitas Kerohanian Islam). Kemudian, setelah beberapa kali melewati daerah yang sama dan melihat lebih seksama spanduk itu akhirnya aku memahami bahwa isinya adalah sebuah arti dari ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang jilbab dan mengajak para muslimah di Brawijaya untuk memakai jilbab, terakhir di bawahnya terdapat lambang seluruh SKI (Sie Kerohanian Islam) atau sering disebut LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) di Universitas Brawijaya, dan tentu tidak ketinggalan dari UAKI sendiri. Artinya spanduk itu merupakan pesan yang ingin disampaikan kepada seluruh masyarakat kampus di Brawijaya dari seluruh Lembaga Dakwah universitas tersebut. Mungkin merupakan peran nyata dari Lembaga Dakwah di sini…

 

Berpikir…

“Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Ahzab : 59)

Itulah penggalan dari sebuah surat Al-Qur’an yang merupakan isi dari spanduk yang saat ini sedang kita bicarakan. Ayat ini berbicara tentang jilbab, yang mana Allah mewajibkan bagi para wanita muslimah untuk mengenakan jilbab agar mereka mudah dikenali dan tidak diganggu.

Sejenak aku termenung, berpikir sesuatu yang aneh tentang ayat ini. Aku fokus pada firman Allah bahwa jika wanita muslimah memakai jilbab maka ia akan mudah dikenali dan tidak akan diganggu. Rasanya ingin sekali aku berkata bahwa ayat ini berbohong, ayat ini tidak sesuai dengan kenyataan yang ada saat ini. Kenapa?

Coba kita lihat fakta dan kenyataan yang ada sekarang, jika melihat-lihat dan mengikuti pendapat kebanyakan orang tentang jilbab maka rasa aneh itu kian nyata. Perempuan yang –mungkin- mereka mengaku beragama Islam, mengaku –mungkin- sebagai muslimah dan dikatakan orang banyak bahwa ia berjilbab rasanya justru sulit sekali dikenali sebagai seorang muslimah. Jika kita ingin berpikiran sederhana saja mengenai bagaimana sebenarnya seorang wanita muslimah itu maka dengan mudah kita bisa melihat contoh nyata pada Khadijah misalnya, atau Aisyah –istri kesayangan Rasulullah-, atau mungkin Fatimah yang kisahnya dengan suaminya benar-benar menunjukkan betapa mulianya seorang wanita muslimah, dan sudah tentu dari para sahabiyah-sahabiyah lainnya. Namun jika kita mau jujur dengan keadaan muslimah sekarang, rasanya sudah sangat jauh dari definisi sederhana yang ada.

Lihat saja faktanya! Ada peristiwa penggrebekan di sebuah rumah kemudian ditemukan dua pasang muda-mudi yang sedang asyik berduaan memadu cinta, kemudian ketika diminta surat nikah tidak ada, akhirnya diminta memperlihatkan KTP mereka berdua dan di sana tertulis agamanya adalah Islam, yakni seorang muslim dan muslimah. Kemudian jika kita melihat di layar TV negeri kita, lihatlah para pemandu acara, pemain sinetron, wartawati, dls tentulah kebanyakan dari mereka adalah seorang yang beragama Islam, artinya mereka seorang muslimah. Namun benarkah seorang muslimah bisa dengan mudahnya menampakkan perhiasan yang dimilikinya yang itu seharusnya hanya boleh terlihat kepada suami ataupun mahramnya. Atau lihatlah di sekitar kita, di kampus, di sekolah, di kampung, dls tentu banyak sekali mereka yang –seperti pendapat orang banyak- berjilbab namun ternyata kepribadian mereka sama sekali tidak sesuai dengan arti seorang muslimah yang sudah kita sepakati bersama tadi. Aneh bukan?

Kemudian jika pada ayat tadi dikatakan bahwa muslimah yang –seperti pendapat orang banyak- berjilbab maka mereka akan aman dari berbagai gangguan, atau yang sejenisnya. Maka kemudian lihatlah fakta ketika wanita-wanita yang dimaksud tadi sering menjadi bulan-bulanan iklan, atau lebih parah mungkin hanya sebagai barang pemuas nafsu laki-laki bejat, dls. Atau lihat saja ketika kita –para laki-laki- berada di kampus kemudian sedang bersama teman-teman kita maka mungkin ketika ada seorang gadis yang menurut salah seorang teman kita cantik lewat dihadapan kita dan teman-teman kita, maka bagi mereka, teman-teman kita –para cowok gatal- pasti akan melakukan sesuatu untuk menarik perhatian si gadis atau bisa jadi langsung merayu si gadis, walau gadis itu berjilbab seperti anggapan banyak orang, bagi mereka itu tidaklah menjadi persoalan. Nyata sekali bahwa ternyata jilbab –seperti anggapan orang banyak- tidak bisa menjaga kehormatan seorang wanita. Maka benarkah bahwa jika memakai jilbab akan aman dari gangguan? Nyatanya tidak kan? Dan sekali lagi, bukan kah ini aneh?

Lalu, melihat semua ini, benarkah ayat Al-Qur’an itu, bahwa muslimah akan mudah dikenali dan akan aman dari gangguan? Sementara kenyataan di sekitar kita berkata dengan lantang bahwa semuanya tidaklah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Al-Qur’an? Apakah kemudian Al-Qur’an itu berbohong pada kita semua? Apakah tidak layak kita percayai apa yang dikatakan Al-Qur’an karena tidak sesuai dengan kenyataan?

Baik, simpan dulu pikiran seperti itu. Jangan men-justice atau yakin pasti bahwa Al-Qur’an berbohong, mari bersama kita berpikir mencari jawabannya. Kemudian setelah itu bolehlah kita memutuskan dan memastikan apakah Al-Qur’an itu berbohong atau tidak?

Bersama, mari menekuri tiap alunan kata yang penulis rangkaikan dari tarian jari di keyboard notebook milik Abu Nabil ini –notebooknya bukan milik penulis lho! Hehe..- semoga pembaca bisa menikmatinya, anggap saja seperti makanan enak yang paling disukai ya? –walau jelas ga bisa-

Mari bersama penulis merangkai bangunan pemikiran kita tentang ini!

 

Antara spanduk dan di belakangnya

Jika kita semua usai membaca sebuah tulisan, tentu kita ingin tahu siapa penulisnya, yang mana orangnya, seperti apa bentuknya, dan sudah tentu seperti apa pemikirannya tentang islam. Tentu kita tidak akan memikirkan hal seperti ini misalnya, memakai alat apa tulisan itu dibuat, kemudian kalau yang dipakai adalah sebuah notebook maka merknya apa, berapa RAM nya, berapa kapasitas hard disknya, dan berapa-berapa yang lain, sudah tentu kita tidak akan menanyakan hal itu. Kenapa? Karena itu bukanlah hal yang penting juga bukan merupakan substansi atau ruh dari tulisan yang kita baca itu.

Analogi yang sederhana ini juga bisa kita gunakan untuk spanduk yang saat ini menjadi primadona pembicaraan kita. Spanduk punya pesan yang ingin disampaikan, dan dalam hal ini spanduk ingin memberi nasihat kepada orang-orang yang melihat dan membaca pesannya agar berjilbab, khususnya bagi para muslimah yang ada di kampus. Kemudian jika kita bertolak dari analogi sederhana yang baru saja kita bicarakan, tentu kita bisa menebak bahwa masyarakat kampus yang melihat spanduk tersebut secara alami akan mencari tahu siapa atau organisasi apa yang membuat spanduk tersebut. Dalam spanduk ada pesan bagi para muslimah untuk memakai jilbab maka masyarakat kampus yang ingin mengetahui seperti apa sebenarnya yang dinamakan dengan jilbab itu, mereka secara alami akan melihat kepada “siapa” pengusung atau pencetus adanya spanduk tersebut, yakni dalam hal ini adalah para personil, kru, dan orang-orang yang acap kali aktif dan erat hubungannya dalam suatu organisasi yang bernama LDK (Lembaga Dakwah Kampus). Mereka akan melihat –khususnya kepada para muslimahnya- bagaimana cara mereka berpakaian, lebih jauh mereka juga ingin tahu bagaimana sikap, karakter seorang muslimah yang berjilbab, apa yang membuatnya berbeda dari para muslimah lainnya yang tidak berjilbab, dan sekuat apa penjagaan diri mereka. Secara alami hal ini pasti akan terjadi, karena memang terkadang manusia perlu mendapatkan suatu penggambaran nyata akan sesuatu yang mungkin mereka baca, atau pendapat yang sampai kepada mereka.

Kemudian, tentu ada suatu pertanyaan yang harus dilemparkan ke permukaan ketika masyarakat kampus mulai mencari tahu tentang jilbab, atau bahkan menjustifikasi jilbab itu seperti apa dengan melihat dan mengamati para personil, kru, dan orang-orang yang berada di belakang spanduk –pencetus adanya spanduk itu- yang berisikan ajakan untuk berjilbab tersebut, yakni bisakah menjadi sesuatu yang dibenarkan jika masyarakat ingin mengetahui dan menjustifikasi jilbab itu seperti apa dengan melihat para –bahasa kerennya- aktivis dakwah kampus khususnya para muslimahnya, atau secara sederhana benarkah pakaian muslimah aktivis dakwah kampus sekarang memang bisa merepresentasikan arti pakaian takwa yang bernama jilbab ini secara menyeluruh dan –sudah pasti- sesuai dengan hukum syariat yang sebenarnya?

Baik, sebelum kita menentukan atau bahkan men-justifikasi apakah pakaian jilbab para mayoritas muslimah aktivis dakwah kampus –Universitas Brawijaya- sekarang memang sesuai dengan hukum syariat secara benar atau mungkin kurang tepat bahkan salah, maka tentu kita akan membahas terlebih dahulu mengenai hukum-hukum jilbab itu sendiri dan bagaimana para ulama besar yang kualitas keilmuannya terjamin memandang dan memberikan pendapat mereka tentang hal ini yakni, tentang jilbab yang syar’I dan sesuai hukum syara itu seperti apa.

Mari kita lihat pembahasannya di bagian berikutnya –semoga tidak bosan-…

 

Jilbab dan kerudung

Banyak orang yang menganggap bahwa kerudung itu sama dengan jilbab, benarkah? Kalau begitu mari kita dengarkan sebuah perkataan dari istri yang paling disayangi Rasulullah yakni Aisyah binti Abu Bakar.

Aisyah pernah berkata : “Seorang wanita ketika menunaikan shalat harus mengenakan tiga pakaian, yaitu baju, jilbab, dan khimar. Adalah Aisyah pernah shalat dengan memanjangkan kain sarungnya untuk dia jadikan jilbab.”

Atsar di atas diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (VIII : 71) dengan sanad shahih dan para perawinya biasa dipakai oleh Muslim. Baik, jika kita melihat redaksi dari perkataan Aisyah di atas, maka ada satu hal yang menjadi fokus pembahasan kita kali ini yakni pada kata-kata baju, jilbab, dan khimar. Mari kita renungkan, mengapa pada bagian kata jilbab dan khimar di atas dipisahkan. Redaksi yang digunakan bukan seperti ini : jilbab atau khimar, dan baju yang bisa menyiratkan bahwa antara jilbab dan khimar itu merupakan sesuatu yang mirip bahkan sama karena pada penyebutannya diberikan kata hubung “atau.” Sayangnya, redaksi yang digunakan adalah jilbab, dan khimar yang sudah jelas dua benda ini merupakan sesuatu yang berbeda.

Khimar merupakan bahasa arab dari kerudung. Allah SWT pernah berfirman (artinya), “…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” (QS An-Nur : 31). Dalam ayat ini terdapat kata Khumur yang merupakan bentuk jamak atau banyak dari Khimar. Sedangkan arti Khimar sendiri adalah kerudung, yaitu apa-apa yang dapat menutupi kepala (maa yughaththa bihi ar-ra’su). (Tafsir Ath-Thabari, 19/159; Ibnu Katsir, 6/46; Ibnul ‘Arabi, Ahkamul Qur’an, 6/65)

Mengenai kerudung sendiri, dalam surah An-Nur ayat 31 di atas dikatakan bahwa Allah memerintahkan para muslimah untuk memakai kerudung kemudian menutupkannya hingga ke atas dadanya. Karena dalam ayat tersebut, Allah SWT tidak berfirman wal-yadhribna bi-khumurihinna (dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka) lalu berhenti, sehingga seorang muslimah bebas memilih cara mengulurkan atau mengikat kerudungnya. Namun Allah SWT melanjutkan firman-Nya dengan tambahan ‘ala juyubihinna (ke atas dada mereka), sehingga bunyi lengkapnya adalah : wal-yadhribna bi-khumurihinna ‘ala juyubihinna (Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka).

Karenanya, bagi para muslimah yang dengan sengaja memakaikan kerudung mereka dengan cara mengikatkan ke belakang atau memasukkannya ke dalam baju dengan alasan apapun maka mereka telah meninggalkan kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada para muslimah yang beriman dan tentunya mereka melakukan dosa karena telah melanggar perintah Allah untuk menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka.

Ini tentang khimar atau kerudung! Bagaimana dengan jilbab?

Sebelumnya aku rasa kita sudah sepakat mengenai perbedaan antara jilbab dan kerudung melalui atsar Aisyah binti Abu Bakar di atas. Kemudian, di atas pun sudah aku berikan definisi dari berbagai sumber dan diperkuat dengan dalil-dalil tentang kerudung itu sendiri. Sekarang saatnya kita berbicara tentang jilbab!

Jilbab yang berasal dari bahasa arab ini jika diartikan secara sederhana menggunakan kamus standar bahasa arab maka artinya adalah pakaian yang dalam (gamis) atau selendang (khimar), atau pakaian untuk melapisi segenap pakaian wanita bagian luar untuk menutupi semua tubuh seperti halnya mantel.(Al Mu’jamal-Wasit)

Mengenai jilbab, Allah SWT berfirman (artinya),”Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min, Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (QS Al-Ahzab : 59). Dalam ayat ini terdapat kata jalabib yang merupakan bentuk jamak (plural) dari kata jilbab. Memang para mufassir berbeda pendapat mengenai arti jilbab ini. Imam Syaukani dalam Fathul Qadir(6/79), misalnya, menjelaskan beberapa penafsiran tentang jilbab. Imam Syaukani sendiri berpendapat jilbab adalah baju yang lebih besar daripada kerudung, dengan mengutip pendapat Al-Jauhari pengarang kamus Ash-Shihaah, bahwa jilbab adalah baju panjang dan longgar (milhafah). Ada yang berpendapat jilbab adalah semacam cadar (al-qinaa’), atau baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan (ats-tsaub alladzi yasturu jami’a badan al-mar`ah). Menurut Imam Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi (14/243), dari berbagai pendapat tersebut, yang sahih adalah pendapat terakhir, yakni jilbab adalah baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan. Bahkan dalam kamus bahasa arab lain dikatakan bahwa jilbab merupakan pakaian yang memang mirip seperti mantel, lebar serta menutupi seluruh tubuh wanita.

Kemudian jika kita ingin mencari tahu apakah jilbab itu bentuknya benar-benar harus memanjang menutupi seluruh tubuh maka ada baiknya kita melihat kembali kepada firman Allah pada surah Al Ahzab ayat 59 pada kalimat, “…mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Pada ayat ini terdapat dua kata penting yang harus kita perhatikan benar-benar, yakni pada kata mengulurkan dan seluruh. Tentu secara sederhana kita bisa mengetahui arti mendasar dari dua kata ini, jika berbicara tentang kata mengulurkan maka tentulah artinya memanjangkan sesuatu (dalam konteks kali ini adalah kain) baik dari arah kiri ke kanan atau sebaliknya dan bisa juga dari atas ke bawah. Sehingga jika dipadankan dan dikombinasikan dengan kata-kata “seluruh tubuh mereka” maka secara sederhana artinya baju, pakaian, kain, atau lebih tepatnya jilbab ini harus lah dipakai dengan cara memanjangkan ke seluruh tubuh! Tidak setengah tubuh, tidak seperempat apalagi tidak sama sekali! Karena hanya dengan cara memakai jilbab secara memanjang dari leher dan tubuh bagian atas hingga ke tubuh bagian bawah lah maka perintah Allah dalam ayat ini bisa dipenuhi. Jika tidak dipanjangkan, atau panjangnya tidak memenuhi standar yang sudah ditetapkan maka juga tidak akan memenuhi perintah dari ayat Allah ini.

Yang perlu sama-sama kita ingat adalah bahwa memang menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk taat pada aturan Allah namun kita tidak bisa sembarangan memberikan justifikasi bahwa untuk taat pada aturan Allah itu kita bisa melakukan ini, ini, atau itu sesuai dengan kemauan kita. Karena untuk taat pada aturan Allah itu pun Allah memberikan beberapa syarat yang harus kita taati dan penuhi hingga amal dan aktivitas kita itu bisa diterima oleh Allah karena memang telah memenuhi syarat untuk taat kepada aturanNya.

Karena itu, kesalahpahaman semacam ini perlu diluruskan, agar kita dapat kembali kepada ajaran Islam secara murni serta bebas dari pengaruh lingkungan, pergaulan, atau adat-istiadat rusak di tengah masyarakat sekuler sekarang. Memang, jika kita konsisten dengan Islam, terkadang terasa amat berat. Misalnya saja memakai jilbab (dalam arti yang sesungguhnya). Di tengah maraknya berbagai mode busana wanita yang diiklankan trendi dan up to date, jilbab secara kontras jelas akan kelihatan ortodoks, kaku, dan kurang trendi (dan tentu, tidak seksi). Padahal, busana jilbab itulah pakaian yang benar bagi muslimah.

Di sinilah kaum muslimah diuji. Diuji imannya, diuji taqwanya. Di sini dia harus memilih, apakah dia akan tetap teguh mentaati ketentuan Allah dan Rasul-Nya, seraya menanggung perasaan berat hati namun berada dalam keridhaan Allah, atau rela terseret oleh bujukan hawa nafsu atau rayuan syaitan terlaknat untuk mengenakan mode-mode liar yang dipropagandakan kaum kafir dengan tujuan agar kaum muslimah terjerumus ke dalam limbah dosa dan kesesatan.

So, pilihan ada di tangan kalian wahai para muslimah! Pilihan untuk menjadi seorang bidadari dunia maupun akhirat atau menjadi teman syaithan yang sangat hina dihadapan makhluk-makhluk Allah? Let’s choose a right choice because of Islam

 

Muslimah Brawijaya?

Semoga penjelasan tentang jilbab juga kerudung di atas bisa memuaskan dan juga membukakan pikiran kita semua tentang makna sejati dari jilbab dan kerudung itu sendiri, tentunya agar kita tidak salah dalam melihat yang mana jilbab juga kerudung. Karena jilbab adalah baju kurung yang memanjang hingga ke bagian bawah tubuh dan menutupi seluruh tubuh (kecuali telapak tangan) di atas baju biasa. Sedangkan kerudung adalah kain yang digunakan untuk menutupi kepala (kecuali wajah) yang diulurkan hingga ke bagian dada.

Nah, mari kita kembali ke pembicaraan tentang spanduk yang berbicara tentang jilbab ini. Tentu kita sudah sepakat di perbincangan kita sebelumnya bahwa orang-orang yang membaca isi pesan tentang jilbab kemudian ingin mencari tahu sebenarnya jilbab itu seperti apa maka tentulah ia akan melihat kepada mereka-mereka yang berhubungan langsung dengan spanduk berisikan pesan tentang jilbab itu sendiri. Ya, orang-orang yang mencari makna jilbab itu pasti akan melihat para muslimah penggiat lembaga dakwah kampus ataupun fakultas yang telah membuat dan mempublikasikan spanduk tentang jilbab itu!

Orang-orang itu akan melihat bagaimana cara mereka berpakaian, cara mereka mengenakan kerudung dan jilbab mereka, cara mereka bergaul, bahkan hingga cara mereka berbicara. Kemudian dari sana lah mereka –mungkin- akan menentukan dan memutuskan jilbab itu seperti apa, kerudung itu seperti apa, sifat seorang muslimah sejati itu seperti apa, dls. Mereka, para muslimah Brawijaya akan menentukan pandangan masyarakat Brawijaya akan makna sejati dari jilbab dan kerudung itu seperti apa!

Sayangnya, ada beberapa hal yang harus kita ingat bahwa apa yang kita lihat itu belum tentu benar, sama dengan suara yang jumlahnya banyak bukan berarti itu pasti benar. Tidak seperti itu! Sama seperti hal yang sedang kita bicarakan ini, bukan berarti dengan hanya melihat jilbab dan kerudung dari para muslimah di Brawijaya aktivis dakwah maka kita bisa menentukan bahwa itulah yang dinamakan jilbab dan kerudung. Tentu tidak akan menjadi masalah jika memang yang dipakai adalah benar-benar jilbab sesuai ketentuan syariat, namun bagaimana jika ternyata pakaian yang mereka pakai kurang sempurna, atau lebih parah ternyata salah. Karenanya, kita juga tidak bisa menentukan sesuatu itu benar atau tidak hanya dengan melihatnya secara kasat mata, kita perlu mencermatinya lebih jauh lagi.

Karena itulah sebelumnya sudah aku sajikan sebuah pembahasan tentang jilbab dan kerudung beserta dalil-dalilnya agar itu bisa menjadi pijakan kita mencermati apakah jilbab yang kini dikenakan oleh para muslimah Brawijaya aktivis dakwah kampus memang sesuai dengan syarat yang telah ditentukan atau tidak. Mari kita cermati!

 

 

Maaf, ternyata kurang sempurna!

Kurang sempurna, aku yakin inilah kata-kata yang tepat untuk ditujukan kepada mayoritas muslimah Brawijaya –tidak semuanya- sebagai aktivis dakwah kampus di sini berdasarkan hasil pencermatan terhadap pakaian yang mereka kenakan dan yang mereka anggap sebagai jilbab. Memang pembahasan kali ini lebih fokus kepada jilbab, karena untuk pembicaraan mengenai kerudung sepertinya sudah cukup jelas walau nanti akan ada beberapa hal yang akan dibicarakan.

Jilbab yang tidak sempurna, kata yang tepat memang untuk para muslimah Brawijaya yang mengenakan jilbab ini. Tidak semua, tapi menjadi mayoritas bagi mereka, para muslimah Brawijaya yang memakai –yang aku sebut- jilbab tidak sempurna ini, walau ada beberapa dari mereka yang memakai jilbab sempurna berdasarkan syarat-syarat jilbab syar’i dari pembahasan yang sudah tersaji di atas!

Mengapa bisa disebut tidak sempurna? Jawabannya sederhana jika kita mengacu pada pembahasan dasar-dasar dan syarat akan sebuah jilbab yang dimaksudkan oleh Allah dari pembahasan sebelumnya.

Kata kunci tetap ada pada  kata “mengulurkan” dan “seluruh” dalam surah Al-Ahzab ayat 59. Dari pembahasan yang ada, secara sederhana dapat ditarik sebuah benang merah yakni untuk memenuhi perintah Allah di ayat ini maka jilbab yang ada harus dikenakan memanjang –diulurkan- dari tubuh bagian atas hingga tubuh bagian bawah dan menutupi kaki (irha). Jika jilbab yang diulurkan atau dipanjangkan hanya sebatas pinggang, bagian atas kaki, yang intinya tidak sampai diulurkan hingga tubuh bagian bawah yang benar-benar bagian bawah dan menutup kaki, maka jilbab seperti ini tidak sempurna! Bahkan mungkin hanya pantas disebut sebagai pakaian atau baju biasa, bukan jilbab.

Sayangnya, pakaian seperti itulah yang dikenakan oleh kebanyakan muslimah Brawijaya aktivis dakwah kampus, yakni jilbab tidak sempurna yang panjangnya hanya sampai pinggang atau paling jauh hingga bagian atas kaki yakni paha kaki. Ini tentu lah tidak memenuhi syarat sah atau benar sebuah jilbab, karena jilbab yang mereka pakai tidak menutupi seluruh tubuh seperti yang dimaksudkan pada surah Al-Ahzab ayat 59 itu. Jilbab yang mereka kenakan hanya sampai menutupi pinggang atau paling jauh paha kaki, sedangkan sisanya ditutup dengan memakai rok. Memang sejatinya jilbab mereka diulurkan dari bagian atas tubuh namun sayangnya tidak menutupi seluruh tubuh karena hanya diulurkan hingga bagian pinggang ataupun paha kaki.

Jilbab potongan –begitu biasa disebut- ini tidak layak sebenarnya disebut sebagai jilbab karena tidak memenuhi beberapa syarat seperti misalnya menutup seluruh tubuh, berbentuk seperti lorong (tidak terpotong), dls seperti yang sudah dibahas pada bagian jilbab dan kerudung di atas. Inilah poin penting ketidaksempurnaan pakaian yang dipakai oleh muslimah Brawijaya sekaligus aktivis dakwah kampus di sini. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pakaian mayoritas muslimah Brawijaya aktivis dakwah kampus ini kurang sempurna, dan tidak memenuhi syarat jilbab syar’i yang benar seperti apa. Maaf, ternyata kurang sempurna!

 

Distorsi…

Jika benar terjadi bahwa masyarakat Brawijaya akan mencari dan menentukan arti dari jilbab itu dari melihat pakaian keseharian para muslimah aktivis dakwah kampus di sini maka tentulah akan terjadi distorsi makna dari jilbab sebenarnya atau paling tidak orang-orang itu akan bingung karena ada dua versi jilbab, pertama jilbab potongan yang sebenarnya tidak memenuhi syarat syar’i sebuah jilbab yang banyak dikenakan oleh mayoritas muslimah aktivis dakwah kampus di sini dan kedua jilbab panjang tidak berpotongan yang memenuhi syarat syar’i sebuah jilbab yang juga dipakai oleh para muslimah aktivis dakwah kampus walau jumlahnya minoritas.

Kalo perkara bingung memang tidak begitu menjadi masalah walau tetap harus dibereskan dan diluruskan, namun jika masalah pendistorsian makna, ini yang menjadi masalah cukup besar. Akan menjadi sangat berbahaya jika efek dari pendistorsian makna ini akhirnya menjadi sebuah doktrin buta yang membuat orang yang terdoktrin secara tidak sengaja ataupun didoktrin secara sengaja tidak menerima pendapat lain yang bertentangan dengan jilbab potongan ini. Ini yang berbahaya! Akhirnya, bukannya malah mentaati aturan Allah bagi para muslimahnya untuk berjilbab namun justru tidak memenuhi aturan Allah karena tidak memakai jilbab yang tidak sesuai dengan ketentuan syar’i.

Distorsi, ini yang sangat berbahaya akibat kurang tepatnya permahaman terhadap aturan berjilbab dari Allah.

 

Jilbab potongan dan Jilbab Lorong

Ada sebuah cerita menarik dari seorang teman! Waktu itu ia pernah menanyakan alasan kepada seorang temannya yang kebetulan memakai jilbab potongan padahal jilbab itu ia ketahui ketidaksempurnaannya. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab “lebih baik pakai jilbab potongan seperti ini tapi tidak memperlihatkan lekuk tubuh kemudian kerudung serta jilbabnya tidak ketat dan tidak pendek. Daripada pakai jilbab lorong tapi masih memperlihatkan lekuk tubuh kemudian kerudung juga jilbabnya masih ketat dan pendek!”

Mengapa ia beralasan seperti ini? Wajar mungkin, karena ia sering melihat muslimah-muslimah yang memakai jilbab lorong namun ternyata sering terlihat lekuk tubuhnya ataupun jilbab dan kerudungnya masih ketat, masih ada kemungkinan untuk tersingkap auratnya karena kerudungnya pendek misalnya.

Kemudian, jika kita balik bertanya kepada para muslimah yang memakai jilbab lorong namun masih memperlihatkan lekuk tubuh kemudian jilbab juga kerudungnya masih ketat dan pendek. Mungkin jawabannya akan seperti ini, “Lebih baik memakai jilbab lorong yang sesuai dengan syariat daripada memakai jilbab potongan yang tidak sesuai dengan syariat!”

Nah lo, sekarang bagaimana? Keduanya sama-sama punya alasan kuat kan? Bingung?

Baik, kalau begitu mari sama-sama berpikir!

Sebenarnya apa yang dilakukan oleh akhwat pertama adalah sebuah tindakan meng-generalisir. Maksudnya seperti apa? Bisa jadi akhwat yang dilihatnya berjilbab namun ternyata masih menampakkan lekuk tubuh kemudian jilbab juga kerudungnya masih ketat adalah akhwat yang baru saja “memulai” dalam proses memakai jilbab, ia mungkin belum begitu paham hukum, syarat syar’i jilbab itu seperti apa. Karenanya, menjadi sebuah kesalahan jika tidak mau memakai jilbab hanya karena hal ini!

Kemudian akhwat kedua. Ia sebenarnya juga salah karena seharusnya pengertian jilbab itu juga bukan hanya diartikan dari sisi sebagai baju lorong namun masih ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi agar menjadikan jilbab itu benar-benar syar’i. Jika memang jilbabnya belum sempurna seperti perkataan akhwat yang pertama, maka menjadi kewajiban baginya untuk menyempurnakannya!

Yang lebih baik bagi keduanya adalah akhwat pertama tidak lagi memakai jilbab potongan dan segera beralih kepada jilbab lorong yang tentunya memenuhi syarat syar’i. Sedangkan akhwat kedua, ia haruslah menyempurnakan jilbab lorongnya sesuai ketentuan syar’i yang ada.

Jilbab tidak bisa disebut syar’i jika hanya diartikan sebagai sebuah baju seperti lorong. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadikan jilbab lorong itu benar-benar jilbab syar’i yakni (dikutip dari Buku Syaikh Nashiruddin Al-Albani berjudul “Jilbab Wanita Muslimah”),

1.      Menutup seluruh tubuh, selain bagian yang dikecualikan (wajah dan telapak tangan).

2.      Bukan untuk berhias.

3.      Tebal, tidak tipis.

4.      Longgat, tidak ketat.

5.      Tidak diberi wangi-wangian.

6.      Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

7.      Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.

8.      Bukan pakaian untuk kemasyhuran.

9.      Menutup kaki (irha).

Jika jilbab yang dipakai seorang muslimah adalah jilbab tanpa potongan yakni menjulur dari bagian atas badannya hingga bagian bawah menutup kaki kemudian memenuhi syarat-syarat di atas maka jilbab itu adalah sebuah jilbab syar’i dan sudah tentu ini memenuhi perintah Allah untuk memakai jilbab. Sehingga seorang muslimah, dalam kehidupan umumnya memakai tiga pakaian yakni baju sehari-hari yang kemudian di atasnya ditutupi jilbab yang menutup ke seluruh tubuhnya tanpa potongan dan kerudung yang diulurkan di atas dadanya.

Mengenai kerudung, syarat syar’inya memang hingga menutupi dada. Sehingga jika seorang muslimah memakai kerudung hingga menutupi bagian dadanya, maka ia sudah melaksanakan perintah Allah secara sempurna pada surah An-Nur ayat 31. Tapi, tidak menjadi masalah bahkan akan menjadi lebih baik jika mereka memanjangkan lagi kerudungnya daripada yang sudah ditentukan agar tidak mudah tersingkap. Itu lebih baik kurasa!

 

Sebuah Jawaban!

Mengapa para muslimah yang oleh masyarakat dikatakan berjilbab ternyata sifat dan tingkah lakunya sama sekali tidak menunjukkan seorang muslimah sejati? Mengapa mereka yang dikatakan telah berjilbab ternyata begitu mudahnya diganggu bahkan dilecehkan oleh orang lain khususnya oleh kaum adam? Mengapa dan mengapa?

Ya, jawabannya sangat sederhana dan mudah. Tentunya karena masyarakat telah salah menentukan jilbab dan kerudung syar’i itu seperti apa sehingga bagi mereka pakaian dari para wanita muslimah jadi-jadian –begitu biasa disebut- adalah jilbab dan kerudung sesuai aturan Islam, padahal hal itu sangatlah salah. Apa yang mereka kenakan dewasa ini hanyalah baju biasa yang jauh sekali dari syar’i!

Karena itu pulalah Allah tidak menurunkan perlindungannya karena para muslimah itu sendiri tidak berusaha melindungi diri mereka dengan pakaian hijab berupa jilbab dan kerudung yang syar’i! Bahkan sifat dan tingkah laku mereka hampir tidak bisa dibedakan lagi antara seorang wanita muslimah dan juga wanita kafir!

Jika ditanyakan mengapa keadaan wanita muslimah dewasa ini begitu menyedihkan? Jawabannya adalah karena mereka sendiri lah yang membuatnya menjadi seperti ini! Mereka tidak berusaha melindungi diri mereka sendiri hingga Allah mencabut perlindungannya kepada mereka karena murka dengan tindakan mereka yang tidak mau memakai pakaian takwa yakni jilbab dan kerudung syar’i dan melawan perintah Allah. Wajarlah jika seperti ini!

 

Sempurnakanlah Ukhti!

Ada perasaan yang aneh yang aku rasakan –mungkin begitu pula dengan ikhwan yang lain- ketika melihat seorang wanita –lebih dikenal dengan akhwat- berjilbab dan berkerudung lebar serta panjang, berjilbab dan berkerudung sesuai dengan ketentuan syar’i! Perasaan apa itu? –rahasia. He-

Yang pasti adalah bahwa wanita yang berjilbab dan berkerudung akan terlihat lebih cantik dan anggun. Tidak hanya itu, ia juga akan disegani oleh para wanita lain yang mungkin belum mengenakan jilbab dan kerudung yang tertutup rapat sepertinya. Bahkan, para laki-laki hidung belang pun –begitu ~chio~ biasa menyebutnya- atau mereka yang gemar mendekati para wanita, merayu, dls dijamin pasti tidak berani untuk menganggu apalagi merayu mereka, para wanita muslimah yang menutup rapat seluruh tubuhnya dengan pakaian takwa. Bahkan ingin berbicara pun rasanya segan! –cerita dari penulis RDRK!-

Dengan jilbab dan kerudung yang syar’i maka seorang muslimah akan tampak jauh lebih anggun dan cantik –kata penulis RDRK lagi. He- dan ia pun bisa dengan mudah dibedakan dari para wanita kafir. Selain itu, yang terpenting adalah mereka akan benar-benar mendapatkan perlindungan dari Allah sebagai hadiah atas usaha mereka untuk menjaga diri mereka sendiri.

Karenanya bagi para wanita muslimah yang mungkin belum memakai pakaian takwa ini, maka segeralah secepat mungkin mengenakannya, mengenakan jilbab dan kerudung yang syar’i. Atau bagi para wanita muslimah yang mungkin sudah berjilbab dan berkerudung namun ternyata belum sempurna –baik yang jilbab potongan ataupun jilbab lorong- maka sempurnakanlah! Sungguh, Allah lebih menyukai amal yang disempurnakan semata-mata karena keimanan kepadaNya!

Kemudian warnai lah dunia ini dengan sifat dan tingkah laku yang mulia, jadilah muslimah sejati nan tangguh seperti Khadijah juga Aisyah. Dan khususnya di kampus ini, Universitas Brawijaya. Hiasilah kampus ini dengan pakaian takwa kalian yang sempurna, kerudung dan jilbab yang syar’i serta sifat, pemikiran, pemahaman, tingkah laku keislaman kalian yang mulia!

Seperti kata Rasulullah, bahwa baik buruknya sebuah negeri tergantung seperti apa sifat dan tingkah laku wanitanya. Jika wanita-wanitanya adalah wanita sholehah, maka kebaikan pula pada negeri itu. Dan jika sebaliknya, wanita-wanitanya adalah wanita murahan tak bermoral, maka kehancuran dan kemaksiatan lah yang ada pada negeri itu.

Sempurnakanlah ukhti, sempurnakan jilbab dan kerudungmu, maka sempurnalah pemenuhanmu terhadap perintah Allah yang Maha Agung…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka :

1.      Jilbab Wanita Muslimah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani.

2.      Nizhamul Ijtima’i, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani.

 

Malang, 07 Desember 2010

Selesai pada pukul 9.29 PM di kamar kontrakanku yang senantiasa menemani. Ditambah dengan seorang teman yang sedang asyik membaca materi kuliahnya serta seorang teman lagi yang tengah terlelap di kamarnya.

Maaf atas semua kesalahan pada penulisan artikel ini, tidak lain hanya ditujukan untuk berdakwah. Jika memang ada kesalahan maka tolong penulis diperingatkan, dan kalaupun benar maka semoga hati kita tidak sombong untuk mengambil kebenaran itu.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: