Memaknai Tahun Baru


oleh Gilang Zulfairanatama

Sebuah persaudaraan, yang mem-bintang di langit  cinta. Setiap langkah, yang menggetarkan gunung-gunung keangkuhan. Dan kebersamaan, yang membuat perjalanan sukar ini menjadi menyenangkan.

Seperti ucapan Rasulullah yang menyentuh hati ‘Umar, “Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dari doamu.” Semoga saya tidak pernah lupa berdoa tentang kebaikan kalian.

“.. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tiada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia akan tetap tinggal di bumi ..” (Ar Ra’d 17)

dua hal yang kusesali

hari-hari yang panas tanpa kesejukan puasa

malam-malam yang dingin tanpa kehangatan shalat

(‘Abdullah ibn ‘Umar)

 

Mengagumkan  kata-kata ‘Abdullah. Baginya cukup dua hal untuk disesali, dan kita?

Ada banyak cerita besar di depan jalan ini. Dan kita akan sampai di ujung jalan, lalu menjadi tokoh utamanya. Begitu indah cerita besar seorang Al Jauzy yang abadi sejarahnya dalam kitab “Al Kuniy wal Alqab”.  Sisa potongan pensil yang digunakan oleh Al Jauzy dalam menulis hadis pernah dikumpulkan dan dipakai untuk memasak air untuk memandikannya saat meninggal sesuai dengan wasiatnya dan ternyata cukup. Bahkan masih ada yang tersisa. Maka abadilah karya-karya jihadnya dalam pensil yang meng-abu, abadilah manfaatnya hingga ke syurga..

 

Maknailah tahun baru dengan menuliskan cerita besar kita sendiri.

Mari sedikit menyelami sajak Sean Covey dalam 7 Habits-nya

“.. Untuk tahu nilai satu menit, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta

Untuk tahu nilai satu detik, tanyakan pada orang yang selamat dari kecelakaan

Untuk tahu nilai satu milidetik, tanyakan pada peraih medali emas olympiade ..”

 

Pesona Sang Waktu memang melebihi keindahan dunia dan seisinya. Bahkan seorang penyair seperti Dante akan berkata, “Waktu adalah satu-satunya harta yang benar-benar kita miliki.” Waktu yang telah meliuk di sela langkah kaki, tidak akan pernah kembali. Sekali hilang, maka hilang selamanya. Maka janganlah kalah dengan Napoleon Bonaparte yang berucap lantang, “Boleh saya kalah dalam pertempuran, tapi saya tidak pernah kalah dalam memanfaatkan waktu!”

 

Maknailah tahun baru dengan memenangkan Sang Waktu.

Sst.. saya sedang memutar sebuah nasyid di winamp. Mari sedikit bersenandung..

“Bangkitlah mujahid, bangkitlah

Rapatkan barisan, rapatkan

Ayunkanlah langkah perjuangan

Mati syahid atau hidup mulia..”

 

Sebuah novel karya Al Ustadz Habibburrahman El Shirazy, “Bumi Cinta”. Begitu anggun mengisahkan keteguhan iman Muhammad Ilyas. Dan tahu kan, bagian yang paling menarik? Benar, akhir ceritanya yang  menggantung. Linor, seorang agen wanita cerdas, dari kecil telah dididik oleh organisasinya menjadi pembunuh. Yang karena pertemuannya dengan Ilyas, pelarian diri, dan persembunyiannya di rumah keluarga Muslim telah mengubah hidupnya.

Ketika ia telah menjadi muslimah yang berhijab dengan jilbabnya, lalu perjumpaannya kembali dengan Ilyas. Malam itu, dari kejauhan ia ditembak oleh agen lainnya. Dan akhir ceritanya? Lebih baik Anda baca sendiri, hehe. Kita telah belajar bahwa perjuangan hanya menyisakan dua pilihan: mati syahid atau hidup mulia..

 

Maknailah tahun baru dengan sebuah perjuangan:

Thariq ibn Ziyad telah bertekad. Maka dibakarnya kapal-kapalnya sendiri. Hingga ia dan pasukan hanya punya satu pilihan; Maju melawan musuh. Tidak ada jalan kembali bagi Thariq karena kapal-kapal telah hangus mendebu. Jika kalah, maka itulah syahid. Jika menang, maka bersiaplah hidup mulia.

maknai tahun baru dengan menjulangnya khilafah dan membuminya syariah.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: