Unyil, Upin dan Ipin Main Bola


oleh Fajar Gemilang Ramadhani

Garuda di dadaku…

garuda kebanggaanku…

Ku yakin hari ini pasti menang….

Lagu yang mendadak ngetrend, sejak beberapa minggu terakhir ini. Lagu yang terus dinyanyikan di radio, TV, bahkan koran-koran. Mulai dari acara olahraga, berita nasional, sampai program-program gosip pun ramai mengumandangkannya. Ada apa gerangan..?? Kenapa jadi bisa burung garuda tiba-tiba hinggap di dada orang??

Wah ternyata, Timnas Indonesia berhasil masuk final piala AFF. Katanya sih Timnas sudah lama sekali merasakan dahaga gelar. Konon katanya, Timnas Indonesia yang dapat julukan sebagai macan asia tak pernah merasakan “manisnya” gelar Champion piala AFF, bahkan sejak bernama piala Tiger. yah, bingung juga kenapa jadi ga konsisten. katanya garuda di dadaku, tapi gelarnya macan…hedeh..hedeh… bingung aku…

Tapi kali ini beda. Beda dengan ajang-ajang sebelumnya. Katanya nih, Indonesia begitu optimis bisa memboyong tropi tahun ini. Entah kenapa kepercayaan diri itu muncul. Apa gara-gara naturalisasi 2 legion asing, C. Gonzales dan Irfan Bachdim (yang lagi digandrungi n jadi idola baru di blantika sepak bola tanah air). Saya selaku pecinta dan pengamat sepak bola, juga merasakan ada yang berbeda pada Timnas kali ini. Dari segi permainan, jelas ada yang sangat berubah. Pemain Indonesia jadi lebih berani memainkan bola, dan bermain dari kaki ke kaki, dan mengandalkan kecepatan. Hal yang sebenarnya sebuah potensi, tapi sebelum ajang ini tak pernah muncul setiap laga yang dilakoni Timnas. Tapi sayang, note kali ini saya tak akan membahas performa Timnas apalagi strategi yang akan dipakai oleh Alfred Riddle (walaupun sebenarnya naluri pengamat dan komentator saya sedang bergelora). Ada hal yang lebih menarik bagi saya untuk disajikan sebagai hasil tarian jemari saya di atas tuts keyboard laptop saya.

Apa kah gerangan..??

Dari kabar-kabar burung yang saya dengar(bukan burung garuda), bahwa malam ini (26 des 2010) akan dilangsungkan league pertama Final piala AFF antara Malaysia dan Indonesia (padahal bagi saya, laga Final suatu ajang sepak bola tak seru jika harus dilangsungkan home away, wah lagi-lagi keceplosan komentarnya) yang di adakan di negeri jiran Malaysia. Kenapa ini menjadi menarik, bukan hanya karena ini laga final tapi juga (kata kabar burung yang juga saya dengar tadi) ini seperti perang adu gengsi, atau kalo kita pake bahasa yang lebih sarkas ini adalah sebagai ajang “balas dendam” Indonesia terhadap semua perlakuan “tidak mengenakkan” yang dilakukan oleh Malaysia. Ambalat, rasa sayange, reog ponorogo, samapai TKI mungkin sedikit mengingakan kita akan “perang dingin” yang sudah lama berlangsung antara 2 negeri serumpun dan seaqidah ini.

Teringat ketika hari jumat kemarin, saat ada acara dikampus saya. Persentasi dari salah satu kelompok adik tingkatku. Hal yang paling menarik adalah ada gambar yang ditampilkan dalam slidenya. Gambar si Unyil sedang menggantung Upin&Ipinyang sebelumnya sudah babak belur. 2 tokoh fiksi yang seharusnya terus memberikan teladan dan pelajaran-pelajaran yang berharga,

Bicara Indonesia ada hal yang sangat unik, kalo bicara kekayaan bangsa yang dicuri oleh bangsa lain. Entah kenapa saya merasa negeri ini begitu ironis. Begitu ribut, teriak-teriak, memaki, menghujat ketika lagu rasa sayange, reog ponorogo, batik, dll di ambil oleh bangsa yang satu rumpun dengannya, bahkan satu akidah. Tapi adakah kita pernah mendengar teriakan, keributan, makian kepada bangsa-bangsa yang telah mengambil kekayaan negeri kita. Adakah teriakan yang keluar ketika Blok Cepu dan Natuna dikeruk dan keuntungannya dibawa ke luar negeri, Adakah makian yang terdengar ketika rakyat Papua masih menggunakan koteka, kelaparan, dan keterbelakangan padahal di bawah kaki rakyat papua terkubur mungkin jutaan kilogram emas, dan juga uranium yang sangat berharga.

Aneh, betul-betul aneh. Kalo dipikir-pikir mana yang lebih berharga, batik atau minyak bumi? reog atau emas dan uranium?? pertanyaan yang tak perlu ku jawab, karena yang membaca pasti sudah bisa menjawabnya.

Padahal Rasulullah pernah bersabda:

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain.”

Sebuah hadits yang begitu indah, mengabarkan bahwa persaudaraan itu bukan hanya karena nasab, kesamaan rumpun, letak geografis atau sekat negara. Tapi persaudaraan itu adalah AQIDAH.

Aku membayangkan bagaimana serunya Unyil sedang bermain bola bersama dengan Upin&Ipin, bukan sebagai lawan dan saling mencaci dalam pertandingan. Tapi sebagai saudara satu AQIDAH yang menjunjung tinggi nilai ukhuwah dan persaudaraan. Mungkinkah?? Tentu saja mungkin. dan pasti akan terjadi. Sebentar lagi kawan. Percayalah padaku. Karena aku (dan juga kamu) telah dikabarkan oleh Allah melalui lisan RasulNya.

“Tsumma takuunu khilafatan alaa min hajjinnubuwwah”

hingga lagu yang akan berkumandang nanti…

syari’ah di dadaku..

khilafah kebanggaanku…

ku yakin hari ini ISLAM menang…

Kobarkan semangatmu….

Kibarkan Royya-Liwa mu..

ku yakin hari ini ISLAM menang…

 

Banjarmasin, 26 desember 2010

pukul 11.30

***

aku adalah pecinta permainan indah dalam sepak bola. tak terlalu penting siapa yang akan menang. Yang paling penting bagaimana ukhuwah itu seharusnya….

  1. atau liriknya gini (ini pernah jadi yel-yel mahasiswa Sidoarjo pas KMII):
    “Al Roya’ di dadaku
    Ar Liwa’ kebanggaanku
    Khilafah hari ini pasti tegak
    Laa Ilahaillallah
    Muhammadurrasulullah
    Saatnya Khilafah memimpin dunia”

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: