Melihat Wanita, Bagaimana?


Laki-laki dan Perempuan

Sedari dulu Allah telah menciptakan segala macamnya berpasang-pasangan. Lihat saja malam, ia diberikan Allah pasangan bernama siang. Kemudian lihat lagi laut, ia diberikan Allah pasangan bernama daratan. Bahkan lihat saja kucing, ia pun diberikan pasangan oleh Allah yang juga seekor kucing hanya saja berbeda jenis kelamin. Tentu masih banyak lagi jika melihat di sekitar kita semua, tidak cukup ditorehkan di atas tuts-tuts keyboard laptop ini.

Jika segala macamnya diciptakan Allah secara berpasangan, maka sudah pasti manusia yang dikatakan Allah sebagai makhluk ciptaanNya yang paling mulia mempunyai pasangan pula, dan sudah jelas pasangannya pun dari ras yang sama darinya. Manusia disediakan Allah pasangan bernama manusia pula, hanya saja Allah menciptakan pasangannya dari jenis kelamin yang berbeda, yang mana dari perbedaan jenis kelamin inilah yang kemudian juga menimbulkan beberapa perbedaan mendasar antara ia dengan pasangannya.

Sudah jelas sekali bagaimana Allah menetapkan pasangan bagi seluruh makhluk ciptaanNya termasuk manusia. Akan menjadi sangat canggung dan aneh jika saja Allah hanya menciptakan malam saja tanpa adanya siang, atau laut saja tanpa adanya darat, atau bahkan hanya menciptakan laki-laki saja tanpa adanya perempuan di dunia ini. Betapa menyedihkan dan suramnya dunia jika seperti itu?

Antara keduanya

Siang dipasangkan Allah dengan malam, kemudian laut dipasangkan Allah dengan daratan, juga laki-laki yang dipasangkan dengan perempuan. Sadarkah kita, bahwa diantara pasangan-pasangan itu ada sebuah batas yang berada di tengah-tengah mereka. Lihat saja antara malam dan siang, ada batasan waktu kapan siang ada kemudian menghilang dan akhirnya keberadaannya digantikan oleh malam, begitu pula sebaliknya. Antara laut dan daratan juga ada batasan bernama pantai ataupun sejenisnya yang menunjukkan batas akhir suatu daratan dan merupakan batas dimulainya suatu lautan, begitu pula sebaliknya.

Bagaimana laki-laki dan perempuan? Tentunya antara mereka pun ada suatu batasan! Batasan yang sejatinya memang telah ada semenjak mereka sendiri ada, batasan yang langsung berasal dari pencipta mereka, Allah azza wa jalla. Allah membuat batasan-batasan ini agar mereka, para laki-laki dan para perempuan tetap berada pada fitrah mereka sebagai seorang manusia yang merupakan makhluk ciptaan paling mulia dan mempunyai akal. Dengan batasan-batasan inilah, mereka masih tetap layak disebut sebagai seorang manusia yang mana ketika mereka melanggar batasan yang telah ada di antara mereka maka mereka tidak layak lagi untuk disebut sebagai seorang manusia. Kemungkinan, mereka hanya layak disebut sebagai seorang hewan atau bahkan bisa jadi lebih rendah daripada hewan. Hal itu mungkin terjadi jika mereka melanggar batasan atau hukum yang telah ditetapkan di antara mereka –laki-laki dan perempuan- oleh Allah, pencipta mereka.

Sejatinya semenjak awal kita semua harus meyakini bahwa tidak ada kesia-siaan ketika Allah menciptakan sesuatu, termasuk ketika Allah menciptakan batasan antara dua jenis manusia berbeda ini. Tentu semua itu ada manfaatnya jika dilaksanakan, dan jika diingkari maka tentulah akan menimbulkan keburukan dan ketidakbaikan.

Batasan seperti apa?

Kita semua sudah sepakat bahwa Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, ini sesuai dengan firmanNya :

(Dia) Pencipta langit dan bumi. dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat. (Q.S. As Syuura : 11)

Ternyata Allah tidak hanya sekedar menciptakan manusia secara berpasang-pasangan, namun juga memunculkan aturan, hukum, ataupun batasan di antara keduanya. Dan kemudian, jika dalam Islam ada Peraturan Hidup dalam Islam (Nizhamul Islam) maka tentu ada pula Sistem Pergaulan dalam Islam (Nizhamul Ijtima’i).

Di dalam Sistem Pergaulan dalam Islam inilah batasan dan hukum antara laki-laki dan perempuan diatur. Karena sesungguhnya yang terjadi antara laki-laki dan perempuan merupakan aktifitas yang secara nyata dan gamblang terjadi berbagai jenis interaksi di sana. Artinya, secara sederhana ada beberapa hal yang harus kita perhatikan ketika berinteraksi dengan lawan jenis, termasuk tentang melihat lawan jenis.

Hal ini disebabkan karena, sebelum kita berinteraksi, berbicara, dan seterusnya tentu aktifitas awal yang paling pertama terjadi adalah aktifitas melihat ini. Ada satu ungkapan yaitu “Dari mata turun ke hati.” Ya, memang benar semuanya berawal dari mata, semuanya berawal dari pandangan. Secara jujur, ketika seorang laki-laki melihat perempuan cantik dan kemudian menekuri lebih jauh wajahnya, maka kemudian muncullah semacam perasaan aneh di hati. Untuk perempuan, bisa jadi seperti itu pula walau sesungguhnya perempuan lebih condong melihat seorang laki-laki dari caranya berbicara daripada wajahnya. Berbeda dengan laki-laki yang lebih mengutamakan penglihatannya dari pada pendengarannya. Namun, hal ini bukan berarti ketika perempuan melihat seorang laki-laki tampan kemudian menekuri lebih jauh wajahnya maka tidak menimbulkan perasaan apa-apa. Tentu saja jika seorang perempuan melakukan hal yang serupa maka akan ada pula perasaan aneh pada hatinya.

Sebuah hadits Qudsi tentang pandangan mata ini yang menunjukkan betapa berbahayanya pandangan mata yang tidak dikendalikan. Yakni :

“Pandangan mata itu adalah sebuah anak panah daripada panah-panah Iblis. Maka barangsiapa meninggalkannya (mengelakkannya daripada melihat perempuan) kerana takut kepada-Ku, niscaya Aku ganti dengan iman yang dirasakan lezat-manisnya dalam hatinya.” (Riwayat Thabrani dan Hakim daripada Ibnu Mas’ud)

Memandang pun harus diperhatikan, karena seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa pandangan itu adalah pintu gerbang paling awal atas seluruh peristiwa-peristiwa selanjutnya, apakah itu baik ataupun buruk.

Lalu, bagaimana melihat perempuan yang benar agar tidak menimbulkan hal yang macam-macam?

Melihat wajah perempuan tidak boleh terlalu lama. Artinya ketika kita melihat dalam pandangan pertama, maka kemudian diharamkan bagi kita –para lelaki- untuk meneruskan pandangan pertama dengan pandangan-pandangan berikutnya. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah :

“Janganlah engkau ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Karena pandangan pertama adalah untukmu, sedangkan pandangan berikutnya bukanlah untukmu.” (HR Ahmad, dari jalur Buraidah)

Detik-detik pertama kita melihat wajah seorang perempuan, maka pandangan itu memang untuk kita. Namun, detik-detik berikutnya itu bukanlah untuk kita dan haram hukumnya bagi kita untuk melihatnya. Ini konteksnya ketika sedang berinteraksi atau berbicara dengan perempuan, lalu bagaimana misalnya jika tidak sengaja melihat seorang perempuan? Maka biarlah Rasulullah menjawab dalam sabdanya :

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai pandangan yang tiba-tiba (tidak disengaja). Maka beliau menyuruhku untuk memalingkan pandanganku.” (HR Muslim)

Pada intinya, baik disengaja ketika berbicara ataupun tidak disengaja maka wajib menjaga pandangan dan mengalihkannya.

Mungkin ada yang berpikir bahwa ketika berbicara dengan lawan jenis maka akan sangat tidak sopan jika kita tidak melihat kewajahnya, atau bisa jadi dianggap bahwa kita tidak mendengarkan lawan bicara kita karena pandangan mata kita tidak memandang kewajahnya. Nah, untuk hal ini penulis punya beberapa tips dan strategi agar tidak terjadi hal seperti ini, sehingga lawan bicara kita tetap merasa bahwa kita tetap memperhatikannya namun kita pun tetap bisa menjaga pandangan. Tips dan strategi ini sebenarnya diajarkan oleh seorang ustadz dari Banjarmasin sewaktu beliau mengisi acara taushiyah di sebuah organisasi remaja bernama MD (Muslim Drenalin).

Bagaimana tips dan strateginya? Intinya adalah mata kita memang seolah-olah melihat kepada wajah lawan bicara, namun sebenarnya kita melihat bagian lain dari kepalanya. Misalnya ketika berbicara dengan lawan bicara yang berlainan jenis, maka bisa saja ketika berbicara kita melihat telinganya –bagi yang tidak berkerudung-, atau pemandangan lain di samping wajahnya, dls. Atau bisa juga hanya melihat bagian samping kerudungnya –bagi yang berkerudung-. Intinya tidak langsung melihat ke bagian wajah terutama bagian mata yang sangat berbahaya, karena jika mata bertemu mata, inilah yang menjadi peluang besar syaithan bermain-main di sana hingga pada akhirnya sampai pada jurang kemaksiatan akibat timbul berbagai perasaan aneh di hati karena permainan cantik syaithan di mata.

Kalau penulis sendiri mengambil cara lebih aman, yakni terkadanga memandang ke wajah –di bagian yang telah disebutkan di atas- namun itu pun hanya beberapa detik, kemudian mengalihkan pandangan ke hal lain di sekeliling, misalkan kursi, meja, atau bahkan lantai di bawah, dan lainnya. Kemudian setelah beberapa saat memandangi di sana, pandangan mata biasanya dikembalikan ke bagian sisi wajah seperti yang telah disebutkan di atas. Dan sama seperti sebelumnya, itu pun hanya beberapa detik yang sungguh sangat singkat, kemudian pandangan pun dialihkan kembali kepada benda-benda di sekeliling penulis. Begitu seterusnya berulang-ulang, ditambah dengan raut wajah yang berpikir, sehingga tergambarkan bahwa walau pandangan kita ke arah lain, tidak ke wajah lawan bicara, namun ia tahu bahwa kita memperhatikan apa yang dibicarakan melalui raut wajah kita yang terlihat seperti orang berpikir. Ini sedikit tips, silahkan diambil jika bersedia.

Yang jelas, menjadi sebuah kewajiban bagi para laki-laki untuk menjaga pandangannya terhadap perempuan yang bukan mahramnya. Sesuai dengan firman Allah :

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. (Q.S. An Nur : 30)

Mengutip pendapat Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam bukunya yang berjudul Sistem Pergaulan dalam Islam. “Yang dimaksud ayat ini adalah perintah menundukkan pandangan dari apa yang diharamkan dan membatasi pandangan kepada apa yang dihalalkan saja. Maksud ayat tersebut bukanlah perintah untuk menundukkan pandangan secara mutlak. Sebab Allah telah menjelaskan bahwa terhadap perempuan yang mahram, maka tidak mengapa (seorang laki-laki beriman) melihat anggota-anggota tubuh perempuan itu yang menjadi tempat melekatnya perhiasan, seperti rambut, leher, tempat kalung [dada], tempat gelang tangan [pergelangan tangan], tempat gelang kaki [pergelangan kaki], dan kedua kaki perempuan. Sedangkan perempuan asing (yakni perempuan yang bukan mahram), seorang laki-laki hanya boleh melihat wajah dan telapak tangannya. Sebab ghadh al-bashar (menundukkan pandangan) bermakna khafdh al-bashar (merendahkan pandangan).”

Sehingga sudah jelas bahwa dilarang dan tidak diperbolehkan melihat aurat perempuan selain kedua telapak tangan dan wajah, karena kedua bagian inilah yang tidak mungkin ditutupi. Mengutip pendapat Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirnya yang disitir oleh Syekh Nashiruddin Al Albani dalam bukunya yang berjudul Jilbab Muslimah : “Maksudnya, mereka tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya kepada orang-orang ajnabi (yang bukan mahramnya), kecuali bagian yang tidak mungkin mereka sembunyikan.”

Walau begitu, ada pula aturan yang mengatur bagaimana caranya melihat seorang perempuan agar pandangan tetap terjaga. Seperti yang telah kita bahas di atas! Karenanya, melihat seorang perempuan pun tidak bisa semaunya, ada aturan-aturan yang harus dilaksanakan dan hal-hal yang harus dijaga. Karena seperti yang pernah penulis katakan, bahwa dari mata lah semua berawal, apakah itu sesuatu yang baik ataupun buruk.

Maka, jagalah mata dan pandangan kita agar tidak melihat sesuatu yang bukan hak kita. Walaupun memang tidak bisa dipungkiri bahwa di zaman sekarang, aurat perempuan begitu banyak terbuka dimana-mana, bertebaran, dan diumbar-umbar. Maka ketika melihat hal seperti ini, segeralah mengalihkan pandangan kepada sesuatu yang lain dan halal seraya mengucapkan istighfar. Dan bagi para perempuan yang masih saja mengumbar-umbar auratnya –baik itu yang belum memakai kerudung dan jilbab syar’i maupun perempuan-perempuan yang sudah memakai kerudung dan jilbab namun tidak memenuhi ketentuan syara- maka ingatlah sebuah hadits Rasulullah :
“Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan perempuan yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”[HR. Imam Muslim]

Dan bagi para laki-laki, mereka pun harus menjaga pandangan dan auratnya pula. Menjaga pandangannya terhadap apa-apa yang boleh dilihat pada diri seorang perempuan yang bukan mahram yakni wajah dan telapak tangan, dan tentu tidak boleh melihat aurat perempuan asing atau bukan mahram. Sedangkan menjaga aurat juga menjadi sebuah kewajiban bagi seorang laki-laki, tidak hanya seorang perempuan. Ini sesuai dengan firman Allah :

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada perempuan yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An Nur : 30-31)

Perintah menjaga kemaluan yang ada pada ayat di atas menunjukkan bahwa seluruh muslim maupun muslimah wajib menutup dan menjaga auratnya. Ustadz Muhammad Ali Ash Shabuni mengatakan bahwa “Para Fuqaha sepakat wajibnya menutup aurat bagi setiap muslim dan Muslimat, akan tetapi mereka berbeda dalam menentukan batasannya.”

Tentunya batasan aurat untuk muslimah sudah sangat jelas, yakni seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan, dan mayoritas ulama sepakat akan hal ini.

Sedangkan untuk seorang muslim (laki-laki), menurut Mazhab Syafi’i, aurat pada laki-laki terletak di antara pusat dan lutut, baik dalam shalat, thawaf, antara sesama jenis atau kepada perempuan yang bukan mahramnya, hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id Al Khudri; “Aurat seorang mukmin adalah antara pusar dan lututnya”. (HR Baihaqi). Dalam hadist lain dikatakan; “Tutuplah pahamu karena paha termasuk aurat”. (HR Imam Malik), (Dalam Mugni Al Muhtaj Hal:1 Juz:185). Mazhab Hambali, dan Mazhab Hanafi pun berpendapat sama seperti Mazhab Syafi’i bahwasanya aurat seorang laki-laki adalah antara pusar dan lutut.

Sehingga sudah sangat jelas bahwasanya kewajiban menutup aurat, menjaga pandangan terhadap lawan jenis yang bukan mahram menjadi sebuah kewajiban yang dibebankan kepada setiap muslim dan muslimah tak terkecuali. Maka kemudian, barang siapa yang mentaati perintah Allah yakni menjaga aurat serta pandangannya maka tentu Allah akan memberikan ridhaNya kepada mereka. Namun sebaliknya, jika ada yang berani melanggarnya, maka Allah pun tiada segan untuk menimpakan siksa dan musibah kepada dirinya sebagai bentuk kemurkaan Allah kepada dirinya karena tidak mentaati perintah Allah, pencipta dirinya.

Pada akhirnya, seluruh pilihan kembali kepada diri kita masing-masing! Maka, tiap pilihan tentu ada resikonya, maka bersiaplah atas segala resiko yang akan datang atas tiap pilihan yang kita ambil, apapun itu! Namun pilihlah sebuah pilihan, semata-mata karena Allah S.W.T.!

By : Ardiannur Ar-Royya

Malang, 09 Januari 2011 Pukul 12.10 wib

Setelah baru saja selesai liqo dakwah kampus di rumah kontrakanku tercinta!… ^_^

    • muslim
    • Januari 19th, 2012

    saya yakin anda tdk bs mlkknnya, amat sangat berat mlht wajah wanita hanya telinga atau bagian lainnya, tetep sj memandang wajah wanita seutuhnya, cb tanya hati anda apakah bs ngobrol dgn temen wanita dg mlkkn sprti itu,? walau dlm hati kita tdk terbesit sdikitpun nafsu, yg ada siwanita malah aneh

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: