Menulis Itu Berjuang


oleh Abdurrahman Shalehan

Maraknya media tulisan yang membodohi kian meraja. Sukar di bendung. Seperi air bah yang memberantakan bumi. Mencuci otak. Meracuni fikir. Menyesatkan.

Mereka, kaum perusak itu tak pernah diam mengganggu. Menebar opini-opini racun, membius masyarakat agar tetap merasa tenteram ditengah gerogotan keterpurukan yang kian jatuh. Diam. Tak melakukan perlawanan, tidak berontak terhadap kebusukan siasat kaum bar-bar. Padahal kodrat sesuatu yang hidup itu melawan ketika dijajah, berontak ketika diinjak, jika tidak bisa jadi ia sudah mati.

Tulisan, menjadi  media mudah untuk melakukan “kejahatan” di atas. Tulis buku, pasarkan, jadilah buku-buku berbahaya itu menempati rak utama di toko-toko buku, sebab toko buku yang ada pun kebanyakan sebelasduabelas saja dengan penulis-penulis liberal. Tanpa harus bersitatap racun-racun pemikiran itu menyebar seantero penjuru. Dan bagi pembaca yang tidak pandai memilah-milih mana yang layak dan tidak untuk diambil terlebih diperaktekan, bersihlah otak mereka. Sesat fikirlah jadinya. Lalu, bersorak iblis menyaksikan “pemikiran”nya di adopsi manusia.

Maka, harus ada tandingan. Tentangan. Perlawanan terhadap tulisan-tulisan semacam itu. Harus ada tulisan yang mencerahkan. Menjernihkan fikir. Memotivasi. Meluruskan. Menginspirasi. Memahamkan. Menggugah. Merubah. Merevolusi. Artinya menulis adalah berjuang. Berjuang untuk: menebar kebenaran. Menegakkan haq dan menumbangkan yang bathil. Memberi manfaat. Memotivasi ummat agar tak henti menyuarakan kebenaran di tengah gerusan zaman yang kian membabi buta. Kian sampah. Berjuang menyelamatkan otak-otak yang masih bersih dari racun-racun fikir yang disebarkan musuh-musuh kebenaran. Musuh-musuh ISLAM.

Maka, disinilah ladang juang pernulis-penulis muslim. Mereka ada untuk merubah paradigma sesat kaum sekuler. Atheis. Liberal. Demokrasi. Kafir. Sosialis komunis. Mereka ada untuk mengembalikan loyalitas ummat kepada ISLAM. Mereka ada untuk membumikan dan menegakkan kalimat “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah” di muka bumi.

Menulis itu, mampu membadai otak. Menyetrum nadi semangat yang terkadang mulai malas bedetak. Asalkan yang kita tulis adalah kebenaran. Maka InsyaAllah kita akan mendapat ganjaran karena menebar manfaat pada sesama. Mereka saja, kaum perusak fikir itu tidak “malu” menebarkan kesesatan. Keburukan. Lalu, kenapa kita yang sejatinya ingin menebar kebaikan harus berfikir panjang?

Menulislah, karena dengan itu kita bisa melakukan perlawanan …

Menulis itu berjuang kawan.

Banjarmasin, 09-01-11

18.39

–garda1924–

*KabarburukuntukkaumbarbaR*

NB: dan tentunya ada perjuangan nyata selain menuangkan gelisah melalui hitam tinta. Ada amanah yang selalu menunggu pundak kita untuk memikulnya. Dakwah itu bukan hanya menulis kawan, pun begitu sebaliknya. Iya kan?

 

    • adillah
    • Januari 10th, 2011

    I do.. coz A Drop of Ink can Move A Million People to Think, right?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: