Sarimin vs Jason Boure


teng-teng dung-dung..!

teng dung – teng dung..!

Hah! Gue pun terbangun kaget setelah sesaat tertidur sebentar disiang itu. Kaget, bukan karena pas gue bangun ada bencong lagi meluk gue. Tapi kaget, karena bunyi aneh yang tiba-tiba terdengar keras di sebelah kontrakan, tepatnya rumah tetangga cat abu-abu yang didepan rumahnya ada pohon mangganya itu..

‘Lah emangnya ada apa dengan pohon mangganya?’

Yaa.. gak ada apa-apa sih..

‘Terus..kenapa dong jadi harus menjelaskan di depan rumah tetangga ada pohon mangganya?’

Hehe.. kalau bilang ada jemurannya, nanti kamu malah nanya deh..  apaan aja yang lagi ngegantung di jemuran itu..!

‘Oh.. gitu ya? Oke deh.. tau aja deh maksud eiyke..’

Kembali ke asal suara yang memecahkan keheningan tidur siang abang tadi..

Ternyata suara itu berasal dari pentas topeng monyet yang sengaja disewa tetangga buat mentas dan menghibur anak-anak komplek. Anak-anak yang gue liat begitu girangnya kedatangan si Sarimin (nama default buat monyet yang atraksi) tersenyum sumingrah persis kayak mahasiswa yang bahagia saat dengar kuliahnya diliburkan.

Lihat mereka, gue jadi ingat zaman masih muda dulu.., yah sama lah kayak anak-anak tersebut.. nongkrong, tepuk tangan, dan dengan antusiasnya menyaksikan si sarimin beratraksi ria dengan lincah menggunakan berbagai perlengkapan mini sejenis sepeda, gerobak, cangkul, arit, dan perlengkapan lain yang biasa ada di ransel kuliah gue itu.

Si sarimin berjungkir balik, tidur, berguling, dan seolah menelpon. Namun si sarimin tentu tidak mengerti apa sebenarnya gerakan  yang dia lakukan, sampai membuat penonton tertawa. Yang ada di pikiran si Sarimin, pokoknya lakukan saja yang sudah diajarkan dan diperintah si bos, maka dia bisa dapat pisang saat selesai pertunjukan nanti. Sarimin gak perlu protes walau diperintah berkali-kali, gak pernah membangkang walau aksinya itu dikomersilkan majikannya untuk mendapatkan penghasilan. Karena si sarimin sadar dia hanya binatang yang gak punya : akal! (gak punya akal kok bisa sadar juga yak?!) Dan yang pasti, si Sarimin gak pernah terlintas untuk bertanya-tanya “buat apa gue melakukan semua ini..?? why???” bagi si sarimin life is just a matter of surviving..

Ya gak min?!

Bicara Si Sarimin yang easy going tidak pernah mempertanyakan tujuan hidupnya, gue jadi ingat Si Jason Bourne yang skeptis dalam film Trilogi Bourne kesukaan gue.

Gue ingat, dalam ending film trilogi Bourne -atau tepatnya di ujung film Bourne Ultimatum, Si Bourne (Matt Damon)yang tersudut dan ditodongkan pistol bertanya dengan seorang agen yang saat itu ingin membunuhnya, “apakah kamu tahu buat apa kamu membunuhku? Selama ini apakah kita mengerti mengapa kita melakukan semua ini?”. Setelah dikatakan seperti itu, kemudian si agen kebingungan dan tidak jadi menembak si Jason Bourne. Akhirnya Si Bourne melompat ke sungai, dan… TAMAT.

Jadi suatu saat nanti kalau kita ketemu preman yang mau ngebajak, tinggal ucapkan aja kayak di film Bourne tadi, “bang.. ke’napa pula lah kau mau me’malak-malak aku’ ini..? apakah abang menge’rti me’ngapa se’benarnya abang me’lakukan itu, bah?!”

Paling si abang preman malah tambah ganas menjawab, “buat anak bini gue dodol! Lu gak usah ngasih ceramah lahh, mending kasih dompet lu!!”

Hehe

Yah..! kalaupun nanti tidak berhasil menghindari preman, tetaplah pahami apa maksud Si Jason Bourne menanyakan ‘mengapa’ tadi. Pertanyaan ‘mengapa’ yang harusnya kita renungi bersama, dan menjadikan kita bisa memahami apa landasan kita berbuat. Pertanyaan ‘mengapa’ yang bisa menunjukkan apakah perbuatan yang kita lakukan sesuai atau tidak dengan prinsip akidah keyakinan kita. Pertanyaan ‘mengapa’ yang bisa menjabarkan alur hidup serta tujuan kita selama ini memilih  melakukan sesuatu yang kita anggap harus kita kerjakan.

Karena gue sadar saat ngaca gue sama sekali gak mirip sama Si Sarimin! (masa..?). Yang telak membedakan gue sama si Sarimin, jelas Si Sarimin bertindak hanya bersadarkan instinknya saja.. hanya merespon berdasarkan instinknya saja.. sedangkan gue, gue merespon setelah menggunakan akal.. karena gue manusia euy..!

Sama! sama seperti saat dahulu gue pernah mengikuti sebuah training yang dibawakan oleh seorang ustadz mualaf, ada kalimat menarik yang masih gue ingat, “kita selama ini cuma berkutat, dan diajarkan mengenai ‘what and how’ tapi gak pernah ‘why’. Kita mungkin tahu sholat itu apa, bagaimana caranya, tapi kita kebingungan menjawab kenapa kita sholat?.. kita mungkin tahu islam itu apa, dan bagaimana islam itu, tapi kita masih ragu menjawab mengapa kita harus islam..”

Beliau yang biasa dipanggil ustadz Felix Siauw itu, menambahkan argumen yang menghantarkan peserta training untuk lebih lanjut memaknai lebih dalam tujuan hidupnya, “banyak yang ketika ditanya manusia berasal darimana? dijawab dengan lantang dari Allah.., mau ngapain didunia? Dijawab dengan enteng beribadah kepada Allah.., Setelah mati kemana? Dengan lugas menjawab kembali kepada Allah.., tapi sayangnya mereka gak yakin 100% Tuhan mereka adalah Allah.. buktinya masih banyak yang mencampakkan aturan islam, dengan lebih memilih aturan yang melanggar islam”

Gitu juga, selama kita tidak yakin 100% dengan jawaban ‘because’ kita,  maka kita juga akan ragu atas segala perbuatan yang kita kerjakan apakah sudah memang benar atau malahan tidak.. kita mungkin juga akan ragu ibadah kita ini benar harus dikerjakan atau tidak..

Malah mungkin, selama ini kita melakukan aktifitas yang ternyata tidak sesuai dengan jawaban ‘because’ kita. Jawaban syahadat yang seharusnya kita jawab dan menjadi landasan kita melakukan aktifitas. Aktifitas yang juga ternyata tidak dibiarkan bebas sekehendaknya, namun diatur demi menjaga kemuliaan dan juga mengandung konsekuensi hasil akhir di akhirat nanti..

“Telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)” (Al Balad [90]:10)

“Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (Al Mudatsir [74]:38)

Sekarang kita diberi pilihan untuk bersikap. Memilih menjadi seperti Sarimin yang berperilaku sesuai naluri kebinatangannya,- karena ia tidak memiliki akal.. atau seperti Jason Bourne yang tidak ceroboh bertindak dan dengan sadar memikirkan buat apa ia membunuh sedangkan  itu adalah tindakan yang tidak benar..???

Pilihan ada ditangan kalian. Tapi mungkin yang ada ditangan kalian sekarang ini adalah selebaran kumal POPCORN.. dan POPCORN bukanlah pilihan, tapi membacanya adalah sebuah pilihan..

Ya kan? Garing euy! []

Akb-24 Nov 2010

 

  1. Nice blog and good post sob…
    Lanjut terus yah…
    Ditunggu kunjungan baliknya nih..
    dan jangan lupa tinggalin jejak di postingan ane ya sob…🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: