Someone Behind Somebody


Suatu ketika disebuah sudut dunia imajinatif..

Dalam beberapa saat, gue pernah mengalami kerancuan berfikir mengenai pencapaian sukses. Dahulu yang tertanam dikepala ini sebuah kesuksesan merupakan pencapaian pribadi dengan tekad yang kuat untuk mencapai visi dengan disiplin nan penuh komitmen. Gue pun pernah menganggap sebuah prestasi yang telah tercapai merupakan hasil dari pengasahan disiplin intelektual pribadi. Sepenuhnya merupakan hasil dari kaidah kausalitas (saja) yang telah dijalani hingga seseorang yang seriuslah yang berhasil mencapainya. Tapi tahukan anda..? ternyata pemahaman itu keliru..!

Manusia bukanlah makhluk yang memiliki kekuatan untuk mengukuhkan dirinya. Manusia adalah makhluk yang tak mungkin memiliki eksistensi tanpa bantuan sekitarnya..

“Interupsi! Memangnya kenapa? Menurut eiyke sih bener-bener aja bang..! ,seorang banci dari ujung ruangan menyahut.

“Bukankah seseorang bisa ‘menjadi’ jika ia berusaha mewujudkannya. Jika kita ingin menjadi pedagang martabak telor yang sukses maka kita akan berusaha menjalani arah menuju keinginan kita. Jika sudah menjadi pedagang mertabak telor yang sukses, maka itulah keberhasilan yang kita dapatkan karena hasil jerih payah kita, bukan jerih payah orang lain. Ya kan..? Begitu pula jika ingin menjadi terkenal secara intelektual maka kita yang mesti merancang bangunan menuju puncak pencapaiannya. Dan hal itu merupakan hasil pencapaian kita seutuhnya.

Bukankah suatu kaum tidak mungkin bisa berubah jika kaum tersebut tidak mau mengubahnya? Termasuk kita. Kadang, orang sekitar kita bukannya malah mendukung, malah melecehkan, menghina-hina impian dan angan-angan kita untuk maju mewujudkannya..! bukankah begitu kan bang..?!”

Yah.. sekilas sih memang begitu. Sekilas semuanya merupakan jerih payah diri kita sendiri.. hmm..

Tapi coba bayangkan, peperangan yang dilakukan oleh seorang jenderal bukanlah kemenangan atas dirinya saja. Disamping didukung oleh marinir, pasukan infanteri, atau yang mungkin dianggap sepele seperti juru masak pasukan yang berkreasi didapur-walaupun bukan dimedan pertempuran- bagaimana mungkin perang dimenangkan? Seorang jenderal setegap apapun membutuhkan suplai makanan untuk diri dan pasukan tempurnya. Seandainya gak ada yang menyuplai makanan, jenderal yang tegap itu bakalan kelaparan hingga tak kuat berperang, bahkan mengacungkan tongkat komandonya. Setiap manusia membutuhkan orang lain dalam kehidupannya..

Contoh lain deh.. seandainya punggung  kita gatal dan sulit untuk digaruk, dengan cara apa kita bisa meredakan gatalnya coba? Kita pasti membutuhkan orang lain untuk minta digarukkan..

“eh.. tapikan bang..bisa saja kita menggaruknya pake penggaruk punggung yang terbuat dari tempurung kura-kura kayak yang ada dirumah eiyke..! hayo..!”

Lah.. tetap saja kita gak bisa mengatakan itu hasil dari jerih payah kita sendiri. Siapa coba yang membuat garukan dari tempurung kura-kura tersebut..? orang lain juga kan..!

“tapi kalau kita sendiri yang bikin..!” (si banci masih ngotot..)

Tetap kita tidak bisa menafikan peran kura-kura dalam membuat alat penggaruk itu kan..?! Sukses yang kita lakukan, sesungguhnya merupakan sukses kolektif yang dilakukan banyak orang untuk diri kita. Mereka lah pihak-pihak yang pasti berperan secara langsung atau tidak memberi gotong royong tindakan yang memuluskan usaha kita. Tak akan mungkin kita bisa menulis skripsi mantab jikalau kita tak mengawalinya dari belajar abjad dari orang yang mengajari. Tak akan mungkin kita bisa mencapai sarjana kalau yang bangun universitas tidak pernah ada. Atau akan sulit kita mengerti arti sabar dan menahan emosi seandainya tidak sekalipun hinaan orang sinis menghampiri diri kita.

Atau kamu sendiri gak bakalan ‘sukses’jadi banci, kalau teman kamu siapa namanya.. yang jakunnya gede itu..?

“mince bang maksudnya..?”

Ya! Seandainya si mince gak menghasut-hasut kamu mengajak ke dunia kebancian kan..!? padahal kamu sendiri dulunya seorang lelaki  tulen. Yang suka main bola di kebon kampung sebelah, yang pulangnya suka nyolong kelapa Bang Mamat itu kan..

“ya bang.. saya telah menempuh jalan yang salah.. maafkan saya..”

Ya oke. Kali ini gue maafkan..

#Dialog orang gila dicukupkan..

Meskipun dialog dengan banci sableng tadi begitu menjijikan, mau tidak mau gue kukuh dengan pemahaman bahwa sebuah pencapaian tidak mungkin terjadi tanpa bantuan pihak-pihak sekitar kita (selain pastinya ada pula Allah). Orang-orang yang mungkin tidak terlihat nyata membantu diri kita tetapi sesungguhnya mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk keberhasilan kita. Mereka mendoakan kesuksesan kita, yang tanpa kita tahu bisa jadi peran orang itulah yang sangat berarti dibandingkan usaha kita sendiri.

Dan gue pun tak bisa menampik, peran itulah yang telah diberikan oleh seorang ibu untuk keberhasilan anak-anaknya. Gue jadi teringat ibu yang kini terpisah pulau jauh disana yang menjadi sosok pembangun kepribadian gue saat ini..

Ibu yang bagi gue merupakan sosok mulia nan perkasa dan berhati lembut. Sosok yang pengertiannya begitu dalam mengalahkan dalamnya samudera. Sosok yang membuatkan gue teh hangat saat SMA dulu sering pulang kehujanan dari percetakan untuk mengurus buletin SMA. Sosok yang selalu membangunkan gue untuk sholat subuh saat masih terlelap karena telat tidur. Sosok yang membuatkan nasi goreng saat sarapan pagi.

Sosok yang mengajarkan tentang kasih sayang dan ketegaran menjalani hidup melalui sikap dan perilakunya tanpa menceramahi. Sosok yang tetap menyayangi gue meski seringkali membuat kecewa. Sosok yang gue cium tangannya yang mulai berkerut saat gue pergi atau pulang berkelana..

Uh.. padahal engkau tak tahu ibu. Anakmu ini kadang masih bengal dan mungkin belum bisa membanggakanmu. Anakmu yang masih menyusahkan dan suka bermanja sikap egois ini seperti tak peduli akan keadaan dirimu disana, saat sering  terhanyut dalam kehidupan dunianya sendiri.

Egois! Itulah cap yang gue berikan pada diri gue sendiri disaat masih suka mementingkan diri sendiri. Namun gue yakin 1000% ibu tak pernah memberikan cap tersebut pada diri gue. Ibu dengan kelembutan kasih sayangnya, kedalaman pengertiannya, tetap melantunkan doa-doa kebaikan untuk menguatkan di setiap langkah anaknya meraih kesuksesan.

Oh ibu, kenapa kau tega menyayangi anakmu yang kurang ajar ini?? (jawabannya tentu bukan karena ibu penyayang binatang). Kapankah anakmu ini akan membahagiakanmu?

Padahal ketika ditanyakan siapakah sosok yang harus dihormati didunia ini, Rasulullah sampai mengatakan tiga kali untuk menjawabnya : ibundamu, ibundamu, ibundamu..

(22.58 wita, 22-12-2010, Hari Ibu)

 

  1. Nice blog and good post sob…
    Lanjut terus yah…
    Ditunggu kunjungan baliknya nih..
    dan jangan lupa tinggalin jejak di postingan ane ya sob…🙂

  2. keren bro, makin berbobot aja tulisan nih.

    • adillah
    • Januari 21st, 2011

    mother, how are u today? miz u coz Allah…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: