SBY di Surabaya v.s. Khalifah di Negara Islam


Presiden?

Sejak kemarin sore, aku bertolak dari kota Malang menuju kota Surabaya seusai UAS (Ujian Akhir Semester) terakhirku yakni mata kuliah Automata dan Bahasa Formal yang ternyata cukup sukses membuatku pusing setelah keluar dari ruangan kelas tempat ujian berlangsung. Dari kampus aku langsung menuju rumah kontrakan yang sekaligus menjadi tempat biasanya kegiatan dakwah dilakukan di sana. Sehari sebelumnya aku sudah menelepon travel untuk menjemputku sekitar jam 5 sore di rumah kontrakanku, maka usai sampai rumah kontrakan aku langsung ­packing-packing pakaian untuk digunakan selama di Surabaya nanti. Akhirnya jadilah 5 sore aku dijemput travel, yang satu jam kemudian baru travel itu benar-benar keluar dari kota Malang karena selama satu jam itu harus menjemput penumpang lainnya.

Sambil berada di perjalanan, sang pengemudi mobil travel yang aku sudah cukup akrab dengannya karena berbagai pembicaraan, menyalakan radio mobil untuk mendengarkan satu siaran yang memberikan berita-berita terupdate tentang kondisi rute jalan dari Malang ke Surabaya. Berkali-kali aku sempat tertidur selama di dalam perjalanan dan berkali-kali pula aku terbangun. Akhirnya sebelum memasuki gerbang tol Waru, aku memutuskan untuk tidak tidur lagi karena aku ingin menghapal jalan dari pintu gerbang tol Waru menuju Bundaran Waru Surabaya. Nah, ketika itulah aku mendengarkan sebuah siaran radio yang menyiarkan satu berita menarik bahwa Pak SBY, orang nomor satu di Indonesia datang ke Surabaya besok hari.

Dalam hati aku bertanya-tanya, “Tumben banget Pak SBY mampir ke Surabaya, ada apa ya?” Kemudian pagi harinya, di berita-berita yang kubaca dan kudengar ternyata Pak SBY akan benar-benar datang ke Surabaya hari ini. Beliau kemungkinan tiba di Bandara Juanda Surabaya sekitar pukul 11.25 waktu setempat. Beliau ada dua agenda penting di Jawa Timur ini, yakni membuka Kongres GP Anshor ke XIV di Lapangan Makodam V Brawijaya dan menghadiri pertemuan dengan petani, peternak dan nelayan di UPT Dinas Perikanan, Desa Lapo, Kecamatan Kota Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo, untuk menyikapi anomali perubahan cuaca.

Tidak tahu seberapa penting agenda ini, yang pasti seperti biasa ketika orang nomor satu di Indonesia ini datang maka jalanan disterilkan, termasuk bandara pun ikut disterilkan. Selain itu, tempat dimana nanti Pak SBY menginap akan dijadikan selayaknya instana negara di Jakarta sana, begitulah prosedur yang harus dilaksanankan. Pengamanan pun ditingkatkan, suasana di sekitar tempat presiden pasti begitu mencekam.

Rasanya seperti presiden yang satu ini ketakutan terhadap rakyatnya jika harus bertemu dengan para rakyatnya. Wajar saja, karena bisa jadi ketika ada rakyat miskin misalnya yang bertemu dengan presiden, maka ada begitu banyak pertanyaan yang tidak akan bisa dijawab oleh presiden. Kenapa mereka miskin? Kenapa banyak sekali koruptor di tataran wakil rakyat? Dan lainnya. Kalaupun menjawab, bisa dipastikan jawabannya penuh dengan diksi dan retorika tapi kecil akan makna. Karena sesungguhnya, jawaban yang paling benar dan pas untuk menjawab pertanyaan semisal tadi adalah diterapkannya Kapitalisme dan Demokrasi. Hanya saja banyak orang yang tidak mau memberikan jawaban seperti itu walau mereka sudah jelas-jelas tahu, bahkan orang sekelas presiden sekalipun. Sayang sekali…

Sungguh ironis, presiden negeri ini kebanyakan hanya melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan politik yang tidak tepat sasaran untuk menuju ke jantung dan akar permasalahan negeri Indonesia ini sehingga permasalahan-permasalahan negeri ini seolah tidak pernah selesai. Presiden sepertinya kebanyakan hanya sibuk menghadiri undangan-undangan acara yang memerlukan kehadiran beliau untuk membuka atau meresmikannya, atau berkunjung ke tempat-tempat tertentu hanya sekedar memberikan pengarahan yang pada dasarnya hal tersebut sama sekali tidak mampu menyelesaikan permasalahan rakyat secara penuh.

Coba saja presiden lebih berani untuk misalnya mengambil kembali BUMN yang diprivatisasi dan dijual kepada asing, menyadari betapa merugikannya kontrak kerja PT. Freeport dengan Indonesia, kemudian juga benar-benar memberikan penyelesaian masalah yang real dan praktis untuk rakyat. Kalau misalnya berbicara tentang kemiskinan, sebenarnya secara sederhana hal itu disebabkan karena tidak meratanya hasil dari pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang notabene juga milik rakyat Indonesia. Padahal, sumber daya alam yang begitu banyak berada di Indonesia ini sebenarnya lebih dari cukup untuk mengcover seluruh kebutuhan rakyat Indonesia jika benar-benar dikelola dengan baik dan hasil dari pengelolaan itu benar-benar dikembalikan kepada rakyat. Sayangnya, presiden beserta kabinet pemerintahannya tidak berani mengambil langkah ini. Mereka lebih memilih untuk menjualnya kepada perusahaan asing sehingga akhirnya hasil dari pengelolaah sumber daya alam di Indonesia tidak pernah sampai kembali kepada masyarakat namun justru tersendat di tangan-tangan para kapitalis, para asing. Untuk kepala negara beserta pemerintahannya ini, absolutely there are someone behind somebody!

Khalifah?

Jika dibandingkan dengan Khalifah negara Islam, dimana seorang Khalifah yang juga merupakan orang nomor satu di negara Islam ternyata sangat mudah ditemui. Tidak hanya itu saja, seorang Khalifah pun seolah-olah adalah seorang rakyat biasa, sangat sulit dikenali antara seorang kepala negara atau hanya seorang rakyat biasa. Bagaimana tidak? Dari riwayat-riwayat dan kisah-kisah yang ada, betapa mudahnya para Khalifah kebanggaan Islam berbaur dengan rakyatnya, juga memakai pakaian seperti layaknya rakyatnya, mengerjakan pekerjaan seperti rakyatnya. Tak ada pakaian sutera yang dikenakan, tiada pakaian mahal yang dipakai di depan rakyat. Mereka tidak akan tenang sebelum semua rakyatnya pun mendapatkan pakaian yang layak, mereka pun tidak akan tenang sebelum seluruh rakyatnya makan, dan seterusnya. Mereka lebih memikirkan rakyatnya bahkan daripada diri mereka sendiri. Subhanallah…

Mereka benar-benar mengerti permasalahan yang terjadi di tengah rakyatnya, dan mereka pun mempunyai solusi yang paling tepat untuk membereskan semua permasalahan itu. Tidak segan dan tidak pernah lelah bagi mereka untuk langsung turun ke lapangan, ke tengah-tengah rakyatnya untuk mengetahui keadaan rakyatnya sendiri. Dan hasilnya seperti apa?

Dapat kita lihat betapa baiknya keadaan rakyat mereka saat itu, kesejahteraan mereka di seluruh segmen rakyat. Tidak ada yang namanya kaya semakin kaya kemudian miskin semakin miskin karena semuanya sama! Sama-sama kaya, sama-sama sejahtera. Ingatkah kita pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Azis, dimana di masa itu perbandingan antara pembayar zakat dan penerima zakat sangatlah tidak sebanding. Di satu sisi, pembayar zakat semakin banyak sedangkan tidak ada satupun yang memenuhi syarat untuk menerima zakat ataupun mau menerima zakat. Hal ini dikarenakan karena seluruh masyarakat pada saat itu hidupnya berkecukupan, tidak ada yang miskin. Karenanya justru hal inilah yang menyebabkan tidak ada satupun yang pantas ataupun mau menerima zakat. Subhanallah, betapa menakjubkan!

Tentunya kesejahteraan dan seluruh kebaikan yang mereka dapat semata-semata bukan karena kemampuan seorang pemimpin negara Islam tersebut, seorang Khalifah! Sama sekali bukan, tapi yang lebih utama adalah karena sistem negara, sistem pemerintahannya yang menerapkan sistem paling sempurna dan paling baik. Sistem kehidupan yang berasal dari pencipta seluruh yang ada di alam semesta ini yakni Allah azza wa jallaa.

Sistem yang mematuhi seluruh aturan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Hingga kemudian Allah benar-benar memberikan berkah kepada mereka semua dari langit dan perut bumi, hingga kehidupan mereka, para orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah senantiasa berhiaskan rahmat, kesejahteraan, dan kebaikan tiada tara.

Hanya satu dan hanya bisa terjadi dengan diterapkannya yang satu ini : Sistem Kehidupan Islam yang benar-benar sama dengan apa yang dibangun oleh Rasulullah yang kemudian dipertahankan mati-matian oleh generasi terbaik sepanjang masa, sahabat dan sahabiah Rasulullah.

Indonesia ?

Kalo melihat negeri Indonesia, ada banyak sekali kata-kata yang bisa menggambarkannya. Namun, sayangnya kata-kata yang menggambarkannya adalah kata-kata yang negatif yakni kata-kata seperti menyedihkan, menyakitkan, dan seterusnya. Memang seperti itulah fakta keadaan Indonesia, banyak sumber daya alamnya namun menyedihkan keadaannya. Para pejabat dan orang-orang di pemerintahan yang tidak pro dengan kebutuhan rakyat, sistem kehidupan mahal yang kian lama kian menghisap darah rakyat yang sudah sekarat, dan penderitaan lainnya.

Sistem, semuanya ada pada sistem kehidupan yang telah gagal mengawal dan mengatur kehidupan manusia. Buktinya? Lihatlah keadaan yang sangat menyedihkan dari Indonesia sekarang, itulah buktinya!

Ingin berubah? Maka, tirulah langkah yang dilakukan oleh para pemimpin negara terbaik sepanjang masa, para Khalifah yang telah terbukti dengan menerapkan sistem paling sempurna, sistem Islam maka rahmat, kesejahteraan, dan kebaikan akan datang kepada masyarakat, kepada rakyat ini.

Tidak percaya? Maka jelaslah engkau tidak percaya dengan Allah, tidak pantas engkau mengatakan engkau beriman.

Karena Allah tidak pernah berbohong, dan selalu menepati janjiNya. Kembali kepada kita, apakah mempercayaiNya atau tidak!

By : Ardiannur Ar-Royya

Kamis, 11 Januari 2011

Surabaya, di rumah keluargaku yang sunyi karena telah ditinggal tidur oleh penghuninya. Dengan keadaan diri yang tetap bersemangat berdakwah walau berbagai masalah menghadang! ^_^

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: