Sick


oleh Abdurrahman Shalehan

Hanya fir’aun saja yang sepanjang hidup tidak pernah merasakan sakit. Sekaligus dia tidak pernah tahu betapa nikmat sehat. Allah memberi kita sakit adalah agar kita bisa merasakan betapa hebat, betapa nikmat rasanya ketika tubuh terasa bugar.

Saya berharap, otak saya memang sudah tercetak sebagai otaknya penulis, sehingga apa dan segala yang saya alami selalu saja ingin saya tulis. Terkecuali hal-hal yang membahayakan pikir. Pun begitu dengan pengalaman saya beberapa hari yang lalu ketika tubuh dilanda sakit;demam tinggi+mual yang hebat+lemas luar biasa, ringkih, lunglai, jerih, berdiri pun membutuhkan kumpulan tenaga yang berganda. Saya berfikir, mungkin dengan cara inilah Allah SWT membuat saya bersyukur, mungkin dengan cara ini pula –salah satunya— Dia menunjukan Cinta-Nya, dan sangat mungkin –harapan saya– dengan cara ini Dia ingin menghapuskan segala kesalahan-kesalahan yang selama sehat kerapa saya kerjakan, sengaja ataupun tidak.

Saya berharap memang begitu. Sebab, selama sehat kita, ah, saya maksudnya kerap kurang maksimal menggunakan nikmat bernama kesehatan itu. Mungkin lebih sering berleha-ria dan melupakan Penganugerah Kesehatan. Lupa Syukur. Lebih menghibukkan diri mengejar materi, parahnya lupa kelak nadi akan berhenti dan memati. Astagfirullah …

Bicara kesehatan, berarti bicara obat. Waktu saya sakit. Tak sedikitpun ada obat-obat kimia yang saya minum. Memang, sempat meminta kepada isteri untuk membeli paracetamol, karena sakit seperti ditusuk-tusuk di kepala begitu hebatnya, untungnya isteri mengingatkan kembali komitmen dan pemahaman tentang kesehatan ala Nabi –Thibbunnabawi. “Jangan sampai a. Apapun jenisnya obat kimia itu berbahaya bagi tubuh. Itu racun a. Lagi pula yang pian rasakan itu efek DOC+Colon Cleansing aja, nanti juga sembuh. Obat kimia juga belum tentu halalnya, kan ada yang di buat dari lemak babi”. Ya memang selama sakit otak saya “kurang sadar”, seperti lupa bahwa saya bekerja di Rumah Sehat El-Iman Kalimantan Selatan, pusat penjualan Herbalherbal Sunnah dan pengobatan Ala Nabi (Hijamah, Rukyah dll). Tapi syukurlah, ketika menulis note ini saya sudah bisa berkeringat dan bercanda bersama isteri.  Saya sembuh bro. Alahmdulillah … hahha, terimakasih ya Allah … tengkyu … hatur nuhun … matur suwun ….

Memang, selama tiga hari saya tidak makan nasi tapi; sari kurma, madu yang hampir setiap satu jam sekali saya minum, melon, pepaya, air kelapa dan yang paling dahsyat bahkan obat semua macam penyakit, begitu ujar baginda Rasulullah s.a.w adalah Habatussauda. “Sesungguhnya di dalam habbattussauda/jinten hitam terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit, kecuali kematian” itu salah satu hadistnya,om Bukhari perawinya. Ah, beruntung rasanya sudah bisa berkenalan dengan Thibunnabawi. Selama sakit saya juga sempat dibekam, direfleksi, direndam kaki dengan air panas. Ah, betapa merepotkan dan tidak lakilakinya saya waktu itu. Saya benci sakit; saya tidak mandi selama tiga hari. Ha.

Istri saya panik. Katanya malam itu saya seperti bukan saya. Mama juga. Adikadik di rumah saya rasa mereka merasakan sesuatu yang beda; ada sebagian anggota tubuhnya yang sedang berjuang melawan sakitnya. Beberapa teman juga saya libatkan dalam kerepotan ini; Bayu Maulana yang sempat saya ganggu kajiannya dan mas Fatkhul Habibie yang sudah bersedia jauh-jauh mengantarkan air kelapa; sueegerr mas, enak. Tak lepas dari itu uztadz saya di bogor sanapun saya (isteri) ributi. Syukron ustadz atas resepresep  herbalnya. Hidup Thibbunnabawi. Thibbun gharbi ke laut aje …

Hah, sorry kenapa note ini menjadi begini tidak menariknya. Saya sebenarnya ingin  menulis betapa harus-nya kita mensyukuri nikmat bernama sehat. Gunakan sehat sebelum datang masa sakit. Sakit itu tidak enak. Tidak enak makan. Tidak enak tidur. Tidak enak badan. Tidak enak mikir. Pokoknya tidak enak segalanya deh. Tidak enak bernafas. Tidak enak hidup?? Nah lo …

Tapi bro, yang jelas sakit itu bikin kita tidak enak ibadah. Bahkan seumur hidup saya baru waktu sakit kemaren shalat sambil baring. Tayamum. Nyentuh air seperti salju. Berdiripun berasa kaku. Tidak enak, tidak khusyu. Tapi kenapa waktu sehat kadang shalat kita kayak kilat?? Allah negur … Allah negur lewat sakit. Bahkan saat sakitlah kita berasa dekat dengan sesuatu yang terkadang kita anggap masih di alam yang entah; KEMATIAN. Bukankah sakit mengantarkan kita pada dua kemungkinan; SEMBUH atau MATI. Sebuah keniscayaan yang terkadang kita hindari.

Kawan, itu jika hanya manusia yang sakit. Lalu, bagaimana jika yang sedang sakit, bahkan tengah di ambang kematian adalah sebuah Negara??? Semoga saya tidak salah sebut; Indonesia namanya. Negeri yang saya, kita semua ada di sana. Terlalu sering sudah disebutkan dalam tulisantulisan tentang kekayaan dan kelebihankelebihan negeri ini, jadi tak usah lah lagi di ulangi. Dengar saja di jalan samping rumahmu atau gaung-gaung yang kerap ganggu tidurmu, itu truk batu bara bro. batu bara kita, tau.

Tapi penyakit apa yang tidak di punyai negeri ini? Bahkan penyakitnya tidak ada yang tidak menggerogoti nadi. Parah. Membuat negeri ini marah dan berdarah. Mereka –yang duduk di bangku penguasa– PIKIR untuk menyembuhkan negeri ini cukup di obati dengan pergantian orang. Otaknya sama aja serakah. Sampah. Tak terkecuali mereka yang mengaku membela ISLAM, menegakkan keadilan di bangkubangku Dewan Penyiksa Rakyat. Perjuanganmu kotor di lingkup najis sana woi. Alih-alih membela rakyat jelata malah menyetujui bangun rumah neraka. Koplak.

Tidak bisa begitu, sejarah sudah terlalu cukup membri bukti. Rezim berganti, kepala bertukar. Komunis sudah habis, namun justeru bencana negeri ini malah mengambil kapitalis menjadi system. Sebuah nestapa besar. Untuk menjadi Indonesia yang lebih baik, tidak bisa begitu. Penyakit akut negeri ini hanya bisa di obati dengan sesuatu yang suci. Turun dari Dia yang buat bumi. Aturan Langit kudu di ambil jadi pedoman jika Indonesia mau aman. “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orangorang yang;TQS 5/50.”

Saya sudahi. Terimakasih.

Banjarmasin,17;41 WITA

–garda1924–

 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: