Helm dan Razia Polisi Depan Gang


oleh Ridwan Taufik Kurniawan

Suatu sore, kamu ingin pergi ke kosan temanmu untuk mengerjakan tugas. Jaraknya cuma beberapa blok dari kos kamu. Kosmu kebetulan berada di sebuah gang yang cukup sempit dan jarang dilewati. Ketika mengeluarkan motor dari garasi kos, seorang tetangga kemudian menegurmu dan ngasih tau kalo di depan gang ada polisi lalu lintas yang lagi jaga dan akan merazia pengendara yang kurang kelengkapan berkendaranya.

Kamupun sangsi dengan kabar tersebut. “Mana ada sih, polisi jam segini jaga, di gang sempit dan sepi pulak!”. Begitu pikirmu. Tapi apa yang kamu lakukan? Tanpa berpikir 1000 kali, bahkan tanpa berpikir satu kali-pun, kamu langsung mengambil helm yang awalnya tergeletak di kamar lalu mengenakannya.

Pertanyaan saya. Kira-kira kenapa terjadi demikian? Apakah kita yakin sama cerita tetangga kita? Apakah kita percaya 100% pada tetangga kita? Akal kita akan menjawab, TIDAK

Jawabnya adalah karena kita ga mau ngambil resiko dirazia dan kehilangan uang gara-gara kena pasal 20, alias 20ribu lenyap, cuma gara-gara ga pake helm! Kita mengabaikan kenyamanan tidak pakai helm dan merasakan semilirnya angin untuk tidak mendapatkan resiko kehilangan sejumlah uang! Betul?

BETUL!!!

Sebenarnya ilustrasi di atas saya tuliskan hanyalah untuk menjelaskan cerita saya tentang prinsip keyakinan. Keyakinan yang selama ini kita anut, yang mungkin udah built in alias nempel di tubuh kita semenjak orok. Keyakinan-lah, Kepercayaan-lah, agama-lah, apapun itu namanya hakikatnya adalah pandangan tentang dunia dan asal kejadiannya. Dengan sederhana, bagi beberapa orang ada yang mengatakan agama adalah cerita, kabar, atau berita, persis seperti kabar yang disampaikan tetangga kita tentang polisi yang tengah siaga di depan gang. Dan payahnya, kebanyakan orang saat ini pun punya pemahaman persis seperti pengendara dan warga gang tersebut. Mereka ketakutan dengan cerita tentang agama, tentang tuhan. Sayangnya, ketakutan ini tidak disikapi dengan kritis, dalam artian tidak dicari penyelesaiannya dengan pencarian jawaban.

Saya ingin mengatakan bahwa kita, muslim, dan kebanyakan penganut agama lain beragama hanya sekadar untuk menghidari resiko, “kalo cerita tentang neraka sungguh benar adanya, maka lebih baik aku beragama saja, daripada tidak beragama lalu di azab di neraka, toh kalo aku beragama juga ga ada ruginya, hanya butuh sedikit pengorbanan, lima kali shalat dalam sehari. Sekali lagi, DARIPADA DI AZAB DI NERAKA SELAMANYA!!?”.

Sungguh, postingan kami disini bukan untuk membuat ragu keyakinan saudara. Bukan pula untuk merapuhkan dan menyuruh anda keluar dari agama anda saat ini. Namun untuk perefleksian diri kita. Sudahkah kita beragama dengan benar, karena sesungguhnya beragama yang benar haruslah dibangun di atas pondasi yang kokoh. Pondasi itu adalah kesadaran akal kita dalam menjawab kebenaran apa yang selama ini kita sebut dengan keyakinan. Ingat, keyakinan sendiri asal katanya adalah ‘yakin’. Sedangkan bagaimana kita bisa sampai pada tahap ‘yakin’ jika kita sendiri tidak pernah coba membuktikan kebenaran keyakinan kita?

Sungguh surga Allah tengah menanti umatnya yang benar-benar serius menjalani kehidupan ini sesuai kitabuLLAH dan sunnah rasul-Nya. Dan sungguh, keseriusan dalam agama ini hanya bisa kita dapatkan dengan berlari mencari kebenaran dengan rasionalias dan daya pikir yang telah dianugerahkan Allah Sang Maha Pencipta.

Pertanyaan terakhir saya. Bagaimana mungkin kita mengharapkan surga, sedangkan kita saja tidak meyakininya?

wallahu’alam bishawab

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: