PPZ “People Protest Zine” Story (Sebuah kenangan perjuangan semasa SMA)


oleh Akbar K. Laksana

Jika kami bersama, nyalakan tanda bahaya..

Jika kami berpesta, hening akan terpecah..

Kami tahu anda bosan, dijejali rasa yang sama..

Kami adalah kamu, muda, beda, dan berbahayaaa….

(Superman Is Dead, Jika kami Bersama)

Kenangan manis ini tersua kembali disaat menikmati putar-putar kota Banjarmasin di malam hari. Teringat momen-momen kebersamaan kami yang melewati malam dengan sebuah misi khusus. Sebuah misi menyebarkan propaganda di lingkungan kota. Menempel poster-poster berisi kritik sosial dan kecaman atas pelanggaran dari aturan Sang Kuasa. Ya! Saat itu saya dan kawan-kawan yang tergabung dalam PPZ (People Protest Zine)tengah beraksi menandingi bencong di kegelapan malam menebar pesona!..

Hal tersebut rutin kami adakan. Terlebih kalau ada masalah yang disebabkan wakil-wakil rakyat yang tidak becus menjalankan tugasnya. Misalnya saja saat itu sedang ramai diberitakan kalau para legislatif meminta laptop gratis seharga 20 jutaan perorang.. disaat rakyat masih kelaparan karena sulit untuk makan dan memperoleh penghasilan. Disaat pendidikan dan kesehatan merupakan barang mahal yang sulit untuk terkecukupkan.

Atau ketika sedang hangat-hangatnya kebijakan penaikan harga BBM yang sebenarnya menzhalimi rakyat. Maka poster-poster provokatif kami ciptakan; ‘Turunkan Kembali harga BBM’ , ‘Hentikan Privatisasi dan Swastanisasi Aset-aset Strategis Bangsa!!, ‘Rakyat menuntut Pendidikan dan Kesehatan Gratis’ dan berbagai poster lainnya yang merupakan wujud protes kami yang mewakili masyarakat kebanyakan. Bahkan surat-surat pemecatan wakil rakyat tak segan kami tempel dipagar-pagar gedung bertingkat yang berada dijalan protokol..

Ada kebiasaan khusus  sebelum beroperasi , kami  selalu berkumpul di rumahnya si Ihsan. Mengapa ngumpul dirumah Ihsan? karena dapat makan malam gratis! (hehe.. San, gimana kabar engkau di Jerman? Hati2 di tangap Skin Head! Yang super rasis, kulit loe kan berwarna tuh.. nah Skin head gak suka ngeliat ada orang yang warnanya beda dengan mereka).

Waktu berdetak tepat pukul 00:00. Maka itu saatnya PPZ beraksi! Bagai kelelawar ditengah malam , kami meluncurkan kendaraan ketengah kesunyian kota. Membentuk beragam formasi kelompok. Membagi regu penempatan wilayah. Dan tak lupa, membagi ‘amunisi’ yang siap di propagandakan. Satu regu, satu sepeda motor komposisi dua orang. Satu bertugas sebagai eksekutor menempel poster propaganda, yang satu lagi menjadi rider yang bertugas mengantar dan menjemput  eksekutor menjalankan tugas dan menyembunyikannya apabila ada satpol PP yang tiba-tiba datang.

Haha.. rencana nekad kami tersebut memang mengasyikan. Kadang menghasilkan cerita-cerita tersendiri setiap operasi tersebut selesai dilaksanakan. Ada kisah dimana saya pernah bertugas sebagai eksekutor satu tim bersama si Taufik yang menjadi rider. Ketika asik menempel di wilayah PLN-Mesjid Sabilal Muhtadin, saya dan taufik malah saling kebingungan karena terpencar. Alhasil saya yang sudah kehabisan amunisi karena kebanyakan menempel di depan kantor Harian Radar Banjarmasin –supaya kalo2 aja aksi kami bisa jadi berita masuk Koran– terpaksa berjalan mengelilingi Sabilal yang luasnya minta ampun. Rencananya saya menuju siring (pinggiran sungai martapura) yang kami jadikan sebagai check point. Namun, ditengah perjalanan saya malah berpapasan dengan PSK yang lagi nangkring menunggu pelanggan sedang berdiri santai. Masya Allah.. di lingkungan sekitar mesjid terbesar di kota ini, ternyata malah dijadikan pangkalan maksiat! Bagaimana ini?! Dimana para satpol PP?!

Sebenarnya saya sih bisa aja gebukin dan ceramahin tu PSK kunyuk supaya tobat. Namun, dikejauhan ternyata ada seseorang lelaki  yang gak kalah kunyuk sebagai germonya yang  ternyata ngejagaain si PSK itu.. Buset! Kalah jumlah ni.. germo gue si taufik lagi hilang sih..

Cerita lain dari si Wanda, yang pernah di godain bencong pas lagi asik nempel di pohon-pohon remang yang ada di depan KOREM 101. Syukurnya si Sadiqur yang menjadi rider wanda sempat menyelamatkannya sebelum wanda di sodomi beramai-ramai.. he..he..

Melihat dari fakta operasi kami yang demikian tersebut. Maka di operasi berikutnya kami membuat poster unik yang bertuliskan ‘pangkalan PSK Jalan soetoyo, PSK lain jalan terus!’ atau‘Jagalah Tempat Mesum ini!!!’ dan ‘HANYA PAJANGAN’ buat di tempel di bak sampah yang jarang  diperhatikan untuk membuang sampah, karena orang kebanyakan lebih suka buang sembarangan. Juga mengingat kekecewaan warga yang menerima pasrah kota Banjarmasin berpredikat sebagai kota terkotor secara nasional. Dan masih banyak  tempelan-tempelan yang lain bertemakan anti kapitalisme, dan sekularisme.

Acara brutal yang kami laksanakan pada malam minggu itu, merupakan operasi yang lumayan besar-besaran. Kalau melihat hasilnya maka pusat kota malam itu bagai terpenuhi oleh poster PPZ kami. Namun sayangnya seperti biasa pada pagi hari poster2 tersebut tinggal sedikit, karena digusur oleh pasukan kuning penyapu jalanan..  hanya beberapa saja yang masih pada tempatnya.

Yang membuat kami sumingrah, adalah saat mendengar cerita kawan-kawan yang mengontrol hasil kerja kami pas pagi harinya. Ternyata mereka masih mendapati beberapa poster di depan gedung DPR provinsi masih tertempel banyak. Dan poster di antara kaki patung bekantan depan Banjarmasin post yang mengangkang masih menutupi kemaluan si bekantan. Unik! Berhasil! Soalnya saat minggu pagi tiba, banyak orang yang berlari pagi di sekitar itu. Dan artinya propaganda kami setidaknya terbaca!.

Yah.. mungkin hanya itu usaha kami. Tak lama tertempel, mungkin kertas-kertas fotocopyan itu bakalan hilang tercabut petugas kebersihan. Namun, usaha yang kami lakukan ini sebenarnya muncul dari kesungguhan yang dalam, dan bukan iseng-iseng belaka. Kami membentuk PPZ awalnya karena tidak tahan menghadapi kondisi lingkungan yang sedemikian menjauh dari keteraturan yang digariskan Sang Pencipta. Dan kami ingin merubahnya lebih dari kemampuan biasa kami yang dulu sekedar dalam ruang lingkup SMA, menuju seluruh kota. Kami ingin bergerak menyadarkan dan membentuk pemikiran masyarakat tanpa kekerasan, tanpa anarkis, walaupun sedikit vandal..  Dan walaupun hasil yang tercapai tidak besar, itu dikarenakan masyarakat lebih banyak diserang oleh pemikiran negative yang lebih terstruktur.. mana mungkin PPZ yang upil ini bias menang bermodalkan kertas fotocopyan???

Paling tidak, semoga Sang Khaliq melihat  apa usaha kami. Karena kami yakin Alloh tidak melihat hasil, namun Aloh melihat usaha kita.. Alloh akan menolong orang yang menolong dienNya.

Itulah yang membuat kami bahagia, walaupun tubuh jadi kerempeng karena keseringan masuk angin dalam operasi PPZ. Kami berusaha tetap radikal! (akb)

(Ihsan, Razi, Didin, Wanda, Rio, Dian, Taufik, sadiqur, Abrari, Imam, Aswin,Reza, dan anggota PPZ yang lain.. apa kabar kalian diperantauan??? Kapan nih kita ngumpul lagi buat operasi???!!!  Supaya pas subuh disemprot pistol air sama abahnya Ihsan.. Hehe… AKU RINDU KALIAN!)

 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: