Romantisme Perjuangan


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Langit masih saja bergemuruh, hujan turun dengan lebatnya. Pagi itu sangat dingin. Tidur dengan berselimut sangat nyenyak. Sangat enak. Jam 6.20 pagi, masih dalam suasana guyuran hujan yang sudah mulai mereda, ku langkahkan kaki menuju kamar mandi. Dingin sekali, hawa yang dingin ditambah air di bak mandi yang juga tak kalah bikin gigi bergetar. Ku percepat mandiku, karena aku sudah berjanji akan menjemput seorang kawan seperjuangan untuk pergi ke Banjarmasin. 7.40 selesai mandi dan siap-siap, hanya minum air putih setelah itu, aku pun langsung tancap ke kost kawanku tadi. Sebelumnya tak lupa ku sms kawan-kawan yang lain agar sudah siap di mesjid kampus untuk pergi ke Banjarmasin bersama-sama. Setelah menjemput kawanku tadi, kami lalu ke mesjid kampus untuk berkumpul. Hamper setengah jam menunggu akhirnya kami terkumpul, walaupun agak telat dari jadwal yang telah direncanakan. 5 orang dengan 3 buah kendaraan telah berkumpul dan langsung tancap gas menuju Banjarmasin. 7.20 kami take off.

Belum keluar dari kota Banjarbaru, baru sekitar 5 menit perjalanan, perjalanan kami di ramaikan oleh riuh hujan. Lebat sekali. Akhirnya masih berhenti sejenak untuk memasang jas hujan. Celakanya, hanya ada 2 buah jas hujan. Karena 2 orang yang 1 kendaraan tidak punya jas hujan. Akhirnya, seorang temanku yang naik motor sendiri meminjamkan jas hujannya kepada 2 orang tadi yang tak lain adalah adik tingkatku. Sungguh semangat berbagi dan ketulusan ukhuwah. Setelah memasang jas hujan, perjalanan langsung kami lanjutkan.

Dan sungguh luar biasa, hujannya begitu deras. Kaca helm ku berbunyi sangat keras, oleh karena gempuran air hujan yang bertubi-tubi. Ditambah lagi dengan genangan air di jalan yang muncrat akibat dilindas oleh mobil-mobil dan truk-truk yang melaju jauh lebih kencang daripada kami. Tak terbayang bagaimana keadaan kawan ku yang tidak memakai jas hujan tadi.

Sepanjang jalan gigi dan mulutku bergetar menahan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Kami harus bergegas ke Banjarmasin karena acara yang kami hadiri mulai jam 8.30. Tapia apa daya, karena jarak pandang menurun dan semakin kencang memacu motor semakin dingin akhirnya aku hanya santai-santai saja menggeber motorku. Padahal biasanya aku pasti menggeber motorku dengan kecepatan maksimum. Bangaimana dengan kawanku yang tadi? Pasti keadaannya lebih parah dari yang ku alami.

Di perjalanan kulihat ada banyak bendera salah satu partai parlemen yang berderet-deret. “Wah, ada pa gerangan banyak bendera?” Entahlah, pikirku dalam hati. Ku coba memutar memori, mana ada partai politik yang ada di parlemen ekarang mau hujan-hujanan, untuk menghadiri agenda partai, pakai motor, pagi hari minggu, menantang dinginnya air hujan dan cipratan becek di jalan, kalau mereka ketika sampai di tempat rapat tidak mendapatkan uang?

Bukannya iseng dan kurang kerjaan kami berhujan-hujanan pergi ke Banjarmasin. Karena ada agenda dakwah yang harus kami ikuti. Walaupun disana kami bukan sebagai pengisi, tapi kami adalah bagian dari qutlah dakwah, maka kami adalah “orang penting”. Tak peduli apakah nanti di tempat acara hanya akan duduk saja, karena kami adalah bagian dari jama’ah maka kehadiran kami adalah hal yang penting. Karena dalam sebuah jama’ah(organisasi) semua orang yang ada di dalamnya adalah orang yang penting.

Sampai disana, rasa dingin perjalanan telah terkikis oleh hangatnya salam dan sapa oleh kawan-kawan satu perjuangan yang lain, yang berasal dari berbagai daerah. Bertemu dengan tim dakwah ku waktu SMA dulu, bertemu denga ustadz-ustadz yang dulu pernah menjadi guruku, dan kawan-kawan yang lain. Sungguh rasa lelah dan dingin telah tereduksi dan menjadi senyawa keharmonisan ukhuwah.

Acara mulai, seorang Ustadz dari Jakarta yang menjadi pembicara, ahli tafsir. Ustadz yang selama ini hanya pernah ku lihat gambarnya di Media Umat akhirnya bisa ku lihat langsung. Retorika yang menawan, public speaking yang luar biasa, sungguh bisa membangkitkan semangat peserta yang hadir, termasuk aku dan rombongan teman-temanku dari Banjarbaru.

Dzuhur acara selesai, selama acara tadi kami di ajak untuk berkomitmen agar serius dan sepenuh hati dalam perjuangan mulia menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini. Dan aku dan kaan-kawan memasang target masing-masing yang harus kami capai sesuai dari paparan ustadz tadi. Juga saat acara tadi dilakukan gathering untuk suksesi acara yang akan kami laksanakan beberapa bulan ke depan.

Jam 13.50 aku dan kawanku tadi pulang dan langsung menuju Banjarbaru lagi. Ngantuk berat yang kurasakan. Dan begitu juga kawan yang ku bonceng. 14.45 sampai di Banjarbaru, ku antar temanku tadi ke kost nya.

Sebuah romantisme perjuangan. Ketika partai-partai lain, anggota partainya bertemu dan berkumpul, mereka biasanya akan bagi-bagi duit. Berkumpul hanya untuk memikirkan bagaimana nasib mereka dan partai mereka. Bagaimana mereka agar tetap bisa berkuasa di negeri ini. Tapi partai ini kurasakan berbeda. Kami datang dari berbagai wilayah, menantang hujan dan dinginnya udara, dan berkumpul untuk memikirkan bagaimana agar umat Islam yang sekarang terpuruk ini bisa bangkit kembali menggapai kemuliaan yang telah dijanjikan oleh Allah dan RasulNya. Mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta yang kami miliki untuk dakwah di jalan Allah. Ini baru sebuah cerita romantis. Tak seperti film-film dan sinetron-sinetron lebay yang ada di televisi. Inilah wujud cinta sejati. Cinta kepada Allah dan rasulNya, wujud dari kerinduan akan hukum-hukum Allah yang diterapkan dalam bingkai daulah Khilafah Rasyidah alaa minhajjinnubuwah.

Sebuah catatan perjalanan yang semoga bisa menjadi bahan bakar semangat bagi semua pejuang Syari’ah Khilafah. Dan juga sebagai bahan evaluasi bagi ku untuk terus memberikan yang terbaik dalam perjuangan ini. Dan mudah-mudahan apa yang telah kita komitmenkan bisa kita realisasikan kawan. Walau perjuangan ini terasa berat dan pahit, tapi ingatlah bahwa surge Allah itu sangat manis dan menyenangkan. Semoga kita bisa reunion di Jannah kelak, dan kalau bisa 1 RT..hehe

Banjarbaru, 20 Februari 2011

Pukul 00.00

    • zul
    • Februari 23rd, 2011

    mantaf gan

  1. OK GAN

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: