Ahmadiyah, antara Pelecehan Islam dan Kebebasan Beragama?


Warga v.s. Ahmadiyah

Masih hangat dalam ingatan kita akan kejadian bentrok antara warga dengan penganut Ahmadiyah di Cikeusik yang kemudian menewaskan tiga orang penganut Ahmadiyah dan juga melukai banyak sekali warga. Kasus yang kemudian disinyalir sebagai sebuah bukti bahwa Islam tidak mempunyai sikap tolerir dan sikap beragamanya identik dengan kekasaran dan pemaksaan ataupun ekstrimis. Pencitraan terhadap Islam yang entah darimana mulai mencuatpasca kejadian ini. Berbagai pihak yang kental sekali sikapnya yang memusuhi Islam dan mendukung Ahmadiyah memanaskan isu ini, mereka sangat setuju bahwa Islam pantas untuk di cap sebagai agama yang tidak tolerir, keras, ekstrimis, dan kejam. Terhitung orang-orang pentolan JIL (Jaringan Islam Liberal) yakni Ulil Abshar Abdalla, Yenny Wahid anak sulung Gus Dur sekaligus Direktur Eksekutif The Wahid Institute, juga orang-orang dari Setara Institute dan HRWG (Human Right Watch Group) sangat mengamini cap jelek namun tak beralasan terhadap Islam ini.

Padahal bentrokan yang terjadi lebih karena adanya beberapa pihak dari Ahmadiyah sendiri yang kemudian memulai bertindak kasar dan membahayakan warga. Sejak awal, warga sudah jengah dengan kegiatan Ahmadiyah yang dipimpin Suparman karena Suparman tetap saja meneruskan aktivitasnya untuk menyebarkan pemahaman-pemahaman Ahmadiyah. Warga pun berniat mendatangi rumah Suparman untuk meminta baik-baik kepadanya agar menghentikan aktivitasnya. Untuk menghindari bentrokan, aparat mengosongkan rumah Suparman. Suparman, istri, dan sekretarisnya pun dievakuasi ke Polres Pandeglang. Namun, ternyata datang sekitar 17 orang anggota Ahmadiyah dari Jakarta, Bogor, dan lainnya. Mereka membawa peralatan perang berupa batu-batu, golok, samurai, panah, ketapel, serta alat dokumentasi berupa kamera video. Aparat datang untuk meminta mereka kembali pulang, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Namun, mereka tidak mau pergi dan malah menantang. Salah satunya malah berkata, “Jika bapak-bapak tidak bisa mengamankan kami, biarkan kami menjaga diri kami sendiri hingga mati!”

Polisi pun kembali datang dengan didampingi Sarta, warga setempat. Tujuannya adalah membujuk mereka agar mau dievakuasi. Terjadilah cekcok mulut. Kemudian salah satu anggota Ahmadiyah itu membacok lengan Sarta hingga luka parah. Sarta berteriak kesakitan dan terdengar oleh Ujang, keponakan Sarta. Mereka yang mendengar pun datang hendak menolong Sarta. Namun, ketika sampai di depan rumah Suparman, mereka diberondong batu oleh para anggota Ahmadiyah. Salah seorang dari anggota Ahmadiyah itu mendemonstrasikan golok di halaman rumah Suparman. Lalu warga mundur karena kekuatan tidak seimbang. Selang beberapa waktu kemudian datanglah warga dari berbagai pelosok mengepung rumah Suparman dan terjadilah bentrokan hingga menewaskan tiga orang anggota Ahmadiyah dan banyak lainnya yang terluka.

Pelecehan atau Kebebasan Beragama?

Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh Ahmadiyah akan sangat wajar jika menimbulkan kemarahan bagi umat muslim. Dimana-mana, mereka pasti akan marah jika tahu bahwa apa yang mereka yakini dengan tentunya dalil dan dasar yang kuat bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para nabi yang kemudian dipungkiri Ahmadiyah dengan adanya nabi setelah Nabi Muhammad yakni Mirza Ghulam Ahmad. Ditambah lagi ketika mereka mengacak-acak ayat Al-Qur’an yang kemudian dikumpulkan dalam Tadzkirah, kitab suci mereka. Bahkan dalam kehidupan bermasyarakat, Ahmadiyah sampai membuat mesjid khusus jamaah Ahmadiyah, tidak mewajibkan jihad dan lainnya.

Jika apa yang dilakukan oleh kelompok Ahmadiyah ini bukan sebagai pengacak-acakan konsep Islam lalu disebut apa? Jelas sekali apa yang mereka lakukan sebenarnya memungkiri konsep dasar aqidah Islam yang justru sangat penting dan mendasar dalam kehidupan seorang muslim. Mereka menyebut diri mereka sebagai bagian dari umat muslim, dari umat Islam padahal Rasulullah pun tidak pernah mengajarkan seperti ini, beliau sudah menekankan bahwa beliau, Muhammad Saw adalah penutup para nabi dan rasul. Dan hal ini pun sudah termaktub jelas dalam Al-Qur’an dan juga hadits, tidak terbantahkan lagi kebenarannya.

Meski demikian, para jamaah Ahmadiyah tetap bersikeras dengan apa yang kini mereka yakini. Bahkan mereka tidak mengindahkan SKB Tiga Menteri yang dahulu pernah dibuat dan disahkan sebagai respon dan tindakan akan eksistensi Ahmadiyah. Mereka masih saja berani beraktivitas di tengah-tengah masyarakat, menyebarkan pemahaman mereka tentang Islam yang sudah jelas-jelas sesat, dan beribadah menurut apa yang mereka pahami.

Eksistensi mereka inipun didukung oleh para aktivis liberal yang menginginkan umat Islam ini pecah dan berantakan. Jelas sekali berbagai tindakan, perkataan dari para aktivis yang sangat mendukung eksistensi Ahmadiyah seperti para aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal), Wahid Institute, Setara Institute, dan Human Right Watch Group (HRWG).

Sebelumnya, aktivis JIL – Ulil Abshar Abdalla menyatakan bahwa Ahmadiyah hanyalah berbeda dalam konsep kenabian, sementara mereka tetap menjalankan semua rukun Islam yang lima. Di mata Ulil, Ahmadiyah hanyalah sebuah sekte dalam Islam. Karena itulah keberadaannya tak perlu dipermasalahkan bahkan ia menganggap bahwa keinginan untuk mengeluarkan Ahmadiyah dari Islam adalah sebagai sebuah kebodohan. Hal serupa dikemukakan Direktur Eksekutif Wahid Institute Yenny Wahid, menurutnya penetapan Ahmadiyah sebagai agama baru tidak akan menyelesaikan masalah tindak kekerasan terhadap pengikutnya. Ia berdalih, urusan sesat menyesatkan bukan urusan manusia namun urusan Tuhan.

Setali tiga uang dengan Ulil dan Yenny, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra mengatakan, pembubaran Ahmadiyah bertentangan dengan UUD 1945 yang menjamin kebebasan beragama, berserikat, dan berkumpul. Ia meminta masyarakat tak alergi terhadap keberadaan jemaat Ahmadiyah. Azyumardi percaya Ahmadiyah tak merusak agama Islam.

Dedengkot liberal Indonesia, Johan Effendy, menilai negara tak boleh terlibat dalam kontroversi keyakinan. Sesat ataupun tak sesat adalah urusan yang bersangkutan dengan Tuhan, “ Kami menolak agama ikut mengurusi hati dan keyakinan warganya.” Kata Johan.

Ya, begitulah argumentasi ngawur para pembela Ahmadiyah.

Demokrasi menyuburkan pelecehan terhadap Islam

Kebingungan mungkin menghinggapi kita, ingin mengatakan apa yang dilakukan Ahmadiyah adalah sebuah pelecehan agama namun di sisi lain hal tersebut hanyalah sebuah kebebasan beragama, kebebasan berpendapat. Lalu, jika seperti ini bagaimana? Siapa yang salah? Dan dimanakah posisi Ahmadiyah?

Sederhana sebenarnya, namun kita harus memahami bahwa apa yang dilakukan oleh Ahmadiyah jelas adalah pelecehan dan penodaan agama Islam, karena konsep beragama yang ada padanya jelas-jelas menyimpang dari pokok ajaran Islam yakni terkait masalah aqidah. Maka tidak bisa tidak, apa yang dilakukan Ahmadiyah memang benar adalah sebuah pelecehan, penodaan terhadap satu agama tertentu di Indonesia ini yang dalam hal ini adalah Islam.

Lalu bagaimana dengan kebebasan beragama atau berpendapat? Inilah kemudian yang menjadi masalah. Konsep kebebasan beragama dan berpendapat yang dilahirkan dari diterapkannya sistem kehidupan bernama demokrasi inilah yang kemudian menjadi titik masalah. Sistem yang sejak awal tidak pernah pro dan juga mendukung keberadaan agama Islam dan umatnya, sistem yang memang sejak awal ingin agar para umat muslim, umat Islam tidak mampu bangkit dari keterpurukannya, sistem yang sejak awal memang ingin memberangus dan menghancurkan Islam hingga ke akar-akarnya.

Walau bagaimanapun, karena apa yang dilakukan Ahmadiyah adalah menyerang pokok-pokok ajaran Islam maka negara harus melidungi ajaran Islam dan menindak Ahmadiyah, idealnya memang seperti itu. Karena pun ada aturan yang kemudian tidak boleh menyerang dan melecehkan pokok-pokok ajaran suatu agama di Indonesia. Namun sayangnya, hal itu tidak terjadi.

Negara demokrasi Indonesia ini justru terlihat seperti mengamini keberadaan Ahmadiyah penista agama Islam ini. Tidak ada langkah real yang benar-benar real untuk menindak apa yang telah dilakukan oleh Ahmadiyah dan kemudian menyelamatkan aqidah kaum muslim. Bahkan para wakil rakyat, pemerintah, terlebih presiden tidak berbuat banyak bahkan acuh tak acuh terhadap hal ini.

Pasca kejadian bentrok di Cikeusik yang sebenarnya sudah didahului oleh kejadian bentrok-bentrok lainnya,tidak pernah ada ketegasan dari presiden terutama, untuk menindak para aktivis Ahmadiyah. Padahal presiden memiliki kekuasaan penuh dan pasti mampu menindak Ahmadiyah ini dan menyelamatkan aqidah umat muslim. Tapi faktanya sampai sekarang pun seolah presiden dan kabinetnya menutup mata akan hal ini.

Negara yang notabene dihuni oleh mayoritas kaum muslim, pemimpinnya pun muslim, wakil rakyatnya pun muslim ternyata sama sekali tidak mau melakukan tindakan apapun yang lebih real untuk menindak Ahmadiyah dan menyelamatkan aqidah kaum muslim. Sistem di negara ini pun tidak pernah pro dan peduli serta mendukung eksistensi Islam, sistem yang bernama demokrasi yang telah ada pasca reformasi 1998 dahulu. Lalu, masihkah kita percaya dengan sistem di negara ini dengan konsekuensi tidak akan pernah selesainya masalah Ahmadiyah dan umat muslim akan selalu dihinakan?

Malang, 10 Apr 2011 pukul 6.32 PM

By : Ardiannur Ar-Royya

    • nurjanna
    • April 24th, 2011

    apapun alasannya…pokok permasalahan dari awal dimulai dari terbentuknya kelompok kelompok islam…ahmadiyah maupun islam liberal adalah salah satu bukti bahwa pendirinya adalah orang orang yg telah menyimpang…
    rasulullah tidak pernah mengajarkan bahwa dalam islam boleh diberlakukan kelompok kelompok ketika berbeda keyakinan…
    karena islam tetap islam..jadi jika ada sekelompok orang yg mengaku islam tapi memisahkan dari dari umat islam lainnya itu sudah jelas menyimpang dari ajaran…ditambah dengan mengakuinya da nabisetelah muhammad,…membuat kitab barui…mengakui bahwa allah itu tuhan semua agama….
    islam tetap islam rujukannya adalah alquran..sunnah..dan fiQih..zaman boleh berubah tapi agama tidak bisa dirubah rubah….
    ayo laskar laskar islam….perjuangkan islam yang sebenarnya yang bedasarkan pada asas bahwa islam itu tidak memisah misahkan manusia berdasarkan golongan tapi merangkul semua umat yang mengaku islam….masalah benar atau salah bukan alasan untuk membentuk kelompok sendiri sendiri…tindakan penyimpangan secara terang terangan adalah pelecehan yang jika tidak bisa lagi dibicarakn baik baik…harus dilawan dengan jiwa…terus berjuang mari kita bersatu tuntaskan kebathilan..demi islam yang harus kita jayakan

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: