Mengurai Benang Kusut


oleh Rizka Kurnia Utami

Tiba-tiba saya teringat, suatu ketika seorang teman “protes” pada saya. Sejujurnya saya juga tidak tahu apakah itu dapat termasuk kategori protes atau tidak. Tetapi dari mata dan raut wajahnya cukuplah saya tahu bahwa didalam hatinya ada rasa marah, saya kira sangat malah.  Yang menggantung di hati saya, sebenarnya aneh bila teman itu melampiaskannya pada saya…  Bila saya pancing kembali ingatan saya tentang itu, ada pertanyaan di benak yang muncul. Mengapa harus demikian?? Apa salah saya? Toh bukan saya pelakunya?

Ketika itu saya tersadar. Memang, apalah saya di banding orang yang dihormati, di gugu dan ditiru. Hanya mahasiswi biasa yang sering telat, gengsi tinggi, dan banyak kekurangan lain. Terlebih sebelumnya saya memberitahukan teman saya itu tentang relatif tidaknya ‘sesuatu’.

Hmhhh…  Allah…

***

Fakta atau kejadian bukanlah standar. Begitu pula dengan kejadian yang menyebabkan munculnya protes itu. Melihat dan menilai sesuatu berdasarkan fakta sebagai standar/acuan tanpa analisa sangat berpotensi menjadikan kita salah dalam memandang bahkan bertindak. Dalam kedokteran, apabila dokter hanya melihat “fakta” bahwa pada kulit pasien terdapat bintik-bintik putih, lalu hanya memberikan obat panu, bisa jadi pasien akan sangat tersiksa nantinya, karena ternyata penyakit yang di derita adalah kusta. Bila dokter hanya melihat fakta bahwa pasien sering sakit kepala dan hanya memberi obat pereda sakit kepala, bisa jadi nyawa pasien terancam karena bisa saja pasien menderita kanker otak. Tidak usahlah jauh-jauh di kedokteran. Dalam arsitektur, bila  kita melihat seseorang ternyata “berperilaku menyimpang” seperti misalkan menginjak rumput di taman (padahal sudah ada tulisan: dilarang menginjak rumput). Jangan-jangan sebenarnya ada yang salah pada desain taman itu, dimana seharusnya mungkin ada jalur pedestrian yang khusus dibuat sebagai penghubung dan untuk memperpendek jalur.

Saya bukan menyalahkan orang lain atau teman saya itu. Tetapi liatlah bahwa sesungguhnya setiap kejadian tidak dapat dipandang secara sederhana hanya dengan melihat fakta. Ketika ada seseorang, yang katakanlah melakukan tindakan yang tidak semestinya dalam suatu harokah, apakah yang salah harokahnya atau orangnya, atau tindakannya? Atau justru sistem dan lingkungannya?

Di sisi lain saya sangat bersyukur, kondisi atau aturan kampus (dimanapun) cenderung lebih bebas dibandingkan lingkungan sekolah. Kita tidak lagi diatur dengan adanya  jam olah raga; harus split, salto, jumpalitan dengan celana dan baju yang ditetapkan. Tidak lagi harus mengikuti upacara hormat bendera setiap minggu. Tidak lagi harus pakai seragam baju putih, rok abu-abu dengan potongan khusus. Dan lain-lain yang bisa saja jadi problem bagi orang-orang (dalam hal ini perempuan) tertentu. Beberapa orang bisa saja menanggapi aturan-aturan (sekolah) itu dengan santai, atau sedikit diakali. Beberapa yang lain mungkin tidak bisa “santai” dan cenderung berontak. Tergantung karakter.

Tetapi sekali lagi saya berpandangan, fakta tidak bisa kita jadikan standar. Ketika kita menghadapi fakta bahwa lingkungan dimana kita berada mungkin sulit, maka, kitalah yang harus bersabar sedikit demi sedikit memahamkan orang-orang di lingkungan tersebut. Karena standar yang telah ditetapkan Yang Di Atas tidak bisa kita turunkan.

Standar inilah yang pasti dan tidak mungkin berubah, sebagaimana berubahnya standar jaman, atau standar lingkungan.  Di samping itu, bukankah kita yakin (jadikan selalu demikian ya Allah.. Amin…) standar dari Yang Diatas tidak mungkin menyulitkan hambanya?  Jika kita yakin+ berserah dan mengembalikan segala urusan kepadaNya, insya Allah PASTI selalu diberi kemudahan dalam menerapkan standar itu dalam kehidupan. Alhamdulillah, selama ini cara ini selalu bekerja.

Karena memang Allah Tidak Mungkin menyusahkan kita.

***

Bila dipikir-pikir wajarlah bila teman saya itu protes kepada saya. Karena memang saya terkait secara langsung dengan apa yang ia pandang buruk terhadapnya  (apalagi ditambah banyaknya kekurangan saya). Waktu Ia protes, saya diam. Sebenarnya jauh sebelumnya, saya sudah tau tentang hal yang disampaikannya itu dari sahabat saya. Apa yang harus saya katakan? Tidaklah akan berguna perkataan saya dibandingkan orang lain yang memang lebih pantas dihormati, bahkan oleh saya juga. Tetapi ingatlah kawanku, bukanlah membela harokah atau apa, bukan pula menyalahkanmu atau guru, ataupun orang-orang itu yang bahkan satupun saya tak tahu siapa namanya; saya hanya menyampaikan, mungkin mengkritisi pandangan.

Kalau boleh menyalahkan, satu-satunya yang ingin saya persalahkan adalah sistem. Lekat dalam ingatan, seorang dosen kita berkata: “Pada akhirnya menyalahkan tidaklah menyelesaikan apa-apa.”  Setuju. Memang menyalahkan tidak dapat menyelesaikan apa-apa! Karena itu dalam hal ini, ganti sistemnya.

Aksi konkret? Saya tidak tahu dengan yang lain, tetapi, selama ini masyiroh berpanas-panas bawa spanduk turun ke jalan-jalan, memberanikan dan membiasakan diri ‘ngobrol’ dengan orang tidak dikenal padahal ngomong dengan yang dikenal saja kadang sulit, jungkir-balik mengadakan acara ini acara itu, rapat ini rapat itu, dll. ditambah kegiatan mingguan untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas diri, yang bahkan mungkin tak jarang, kesemuanya menyusahkan jadwal tugas kelompok: Hanya agar orang lain paham dan sadar. Paling tidak menengok sebentar, bahwa ada kesalahan pada sistem. Menyiapkan masyarakat. Agar paling tidak setuju, bahwa  ada pilihan yang sempurna, dan tidak pantas yang lain itu digunakan atau disuburkan. Walaupun kemudian, banyak yang mengatakan lebay, keras, ekstrim, dsb.  Biarlah…   (Dan setelah dikatakan keras, lalu kesemua hal itu juga yang dimaksud dengan ‘berkoar-koar saja’, maka biar pula dipandang demikian. Hanya pandangan mahluk-Nya. Semoga tidak demikian dalam pandangan-Nya)

Satu hal yang saya dapat dari 99 untuk Arsitek. “Masyarakat adalah orang-orang super sibuk dan tidak punya cukup waktu untuk memperhatikan ‘hal-hal yang kecil dan tidak penting’. Maka disinilah, harus berteriak keras agar sekedar ‘didengar’. Kalau perlu, berteriak dengan megaphone atau amplifier. “Tetapi, ketika kita menggunakan pengeras suara, maka akan banyak orang yang resah dan sebal dengan suara yang dirasa terlalu kuat. ” That’s consequence. Biarlah saya dipandang demikian, tetapi saya tau hasilnya akan setimpal.

Inilah yang waktu itu tidak tersampaikan. Silahkan dikritisi, atau bahkan buang ke tong sampah pikiran. Saya hanya mengurai benang kusut di kepala, yang saya tidak bisa mengurainya tanpa tulisan dan atau mengadu kepadaNya.

(Kebenaran hanya  milik Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang ditujukiNya jalan. Amin.. Allahuma Amin…)

  1. Danke dir für diese Erklärung! Finde ich super!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: