Perfect Truth (POPCORNzine #6)




Ada sebuah cerita  yang masih gue ingat dan cukup seru buat gue ceritakan kembali..

Ceritanya begini, ada empat orang pemuda tuna netra yang ingin mengetahui apa itu gajah. Lalu, oleh seorang yang tidak tuna netra, mereka berlima diajak ke kebun binatang dimana gajah bunting berada. Setibanya dilokasi, masing-masing dari keempat pemuda itu kemudian meraba-raba si gajah bunting dan kemudian mendeskripsikan apa itu gajah menurut mereka.

Pemuda pertama mendeskripsikan lebih dulu, “gajah adalah sesuatu yang cukup lebar dan tipis juga elastis seperti kipas..”

“Bukan! Gajah itu sesuatu yang keras sekali, panjangnya kira-kira tiga jengkal, lumayan licin, runcing dan tajam pada ujungnya..”,Pemuda kedua menyalahkan pemuda pertama.

“Salah! Gajah itu lentur, kecil tapi panjangnya kira-kira sepanjang lengan, dan diujungnya ada sejumput rambut”, Pemuda ketiga menyalahkan kedua teman tuna netranya.

“eit..eit.. kalian salah! Gajah itu seperti telur yang amat besar sekali, tapi tidak keras melainkan cukup empuk meski permukaannya agak kasar..”, Pemuda keempat ikut menimpali.

Kalian salah!

Tidak! Kamu yang salah!

Kamu tuh yang salah..!

Tidak, Cuma saya yang bener!

Mbak cantik yang memakai topi biru gambar tengkorak yang membawa mereka ke kebun binatang tadi tidak ingin kericuhan terus berlanjut. Ia pun kemudian menjelaskan, “Kalian semua benar, tidak ada yang salah.. yang pertama tadi meraba telinga gajah, yang kedua meraba gading gajah, yang ketiga meraba ekor gajah, dan yang keempat meraba perut gajah. Tapi semuanya itu gajah. Jadi penafsiran kalian itu benar seperti yang kalian raba.. dan gak usah saling menyalahkan..”

“Maaf mbak..” gue yang hobi ke kebun binatang dan ceritanya juga lagi ada disitu ikut angkat bicara..

Ya ada apa mas yang ganteng kayak Brad Pitt..?” (kalau mau muntah, muntah aja. Gue udah duluan tadi..)

“Menurut saya penjelasan mbak cantik tadi kurang tepat. Bukankah telinga gajah hanya sebagian dari gajah. Gading gajah hanyalah sebagian dari gajah, begitu juga ekor dan perut gajah juga hanya sebagian dari gajah. Kita tidak boleh mengatakan ‘itulah gajah’ , tapi katakanlah ‘itu bagian dari gajah’. Seharusnya, kepada yang belum mendapat pemahaman tentang gajah, mbak memberikan penjelasan yang menyeluruh tentang gajah sehingga mereka memahami gajah dengan benar dan sempurna, tidak sebagian-sebagian. Karena ketidaksempurnaan pemahaman akan mengakibatkan kekeliruan perilaku..”

“Ya.. kamu benar sekali. Kalo gitu maafkan saya..”

“Ok, saya maafkan, tapi tau kah mbak apa maksud saya menceritakan ini..?”

“saya ndak tau, kan kamu yang nulis cerita ini?!”

“O iya bener. Baiklah akan saya jelaskan maksud saya deh..”

***

Para pembaca yang budiman, suatu ketika gue juga pernah mendapatkan pengalaman menarik. Dulu ditengah perjalanan menuju masjid untuk berangkat sholat jumat, gue bersama beberapa kolega berada dalam adegan menyebrang jalan.

Ditengah adegan menyebrang tersebut, kami melihat sebuah motor polisi yang melintas dengan lampu motor yang saat itu menyala. Karena saat itu belum ada peraturan light on disiang hari, kontan salah satu teman gue berinisiatif memberitahu polisi tersebut.

Sambil sedikit menunjuk, pemuda berambut poni  yang ditakdirkan bernama Agus tadi berucap, “lampu.. lampu..!”

Namun apa yang terjadi, bukan lampu yang matikan, justru polisi tersebut berhenti dan mendatangi teman gue tadi dengan muka geram nan indah sekali. Ia datang dengan wajah amarah berapi membentak si Agus. “Hei kamu beraninya ya..! cari gara-gara kamu..?! Ngomong apa kamu tadi..!”

Si Agus pun pucat pasi sembari bingung, “eh.. kenapa pak..?!”

“kamu ngomong apa tadi! Berani sama saya ya kamu?!” Polisi antagonis melanjutkan kegeramannya.

Orang-orang datang berkumpul kebingungan. Diantara mereka masing masing bertanya ada apa gerangan. Setelah lama ocehan tak karuan polisi tersebut membingungkan kami, akhirnya gue mulai menangkap ketidaknyambungan emosi si polisi dengan kebingungan si Agus.

“Pak.. kawan saya ini tadi cuma ngomong lampu. Tadi lampu motor bapak nyala, kok diingatkan bapak malah marah..? emangnya apa salah kawan saya?” sambil menirukan gaya bijak Si Doel anak sekolahan gue beranikan membela si Agus walau takut kalo si polisi hilang kontrol dan main-mainin pistol.

Setelah titah pamungkas gue ucapkan, kontan Si polisipun menunjukan muka yang aneh (entah malu, kaget, karena sadar akan kesalah pahamannya) yang akhirnya menurunkan nada bicara, dan mengucapkan kata-kata terakhir sebelum ngeloyor pergi, “lain kali hati-hati kalo bicara kamu..”

Kemudian pergi begitu saja. Tanpa maaf pada si Agus..

Gue dan banyak orang yang terlanjur ngumpul disitu akhirnya tertawa karena melihat adegan konyol barusan. Kamipun akhirnya mengerti, mungkin polisi tersebut marah karena mengira si Agus mengatakan ‘Lempo’ (artinya : tolol!), padahal yang di ucapkan si Agus yang berlogat asli kota Barabai tadi adalah ‘Lampu’ (yang artinya ya lampu!)..

Sekali lagi ketidaksempurnaan pemahaman, mengakibatkan kekeliruan perilaku..

***

Gue sudah sering menjadi korban terhadap orang-orang yang salah presepsi dan timpangnya informasi sehinga gue sering kali ditimpakan emosi atau tindakan yang menyakiti hati.

Gue juga masih ingat saat berumur lima tahunan tetangga sebelah rumah datang dan marah-marah kepada orangtua gue, karena menurut laporan anaknya sendal jepit berkepala gajah anaknya  dirusak hingga hancur oleh tangan mungil gue saat itu. Orang tua gue yang saat itu merasa malu bersedia menganti kembali sandal berkepala gajah anak tetangga tersebut, dan gue yang tak bersalah malah kena omelan tanpa dasar yang kuat dan stigma negatif sebagai berandalan cilik. Padahal saat itu gue tak melakukan penganiayaan sedikitpun terhadap sendal kepala gajah yang sekarat tersebut.. sumpeh!

Pun, pada akhirnya berselang beberapa hari kebenaran sejati terungkap. Anak tetangga yang memfitnah gue mengakui rekayasa kebohongannya, dan orangtuanya datang berbalik meminta maaf pada keluarga gue karena kepalsuan informasi yang mengakibatkannya salah presepsi terhadap kejadian yang sebenarnya.

Yah.. makanya gue bela-belain nulis kali ini karena gue udah capek mengalami kejadian yang tak mengenakkan hati macam itu. Mungkin banyak yang juga pernah menyaksikan atau bahkan mengalami salah tindak, salah ambil langkah, salah memahami, salah sangka akibat informasi yang kita serap tidak sesuai dengan fakta.

Pemahaman seseorang sangat bergantung terhadap pengetahuan-pengetahuan yang telah ia serap. Dan pengetahuan tersebut tersusun dari informasi-informasi dan fakta-fakta dari objek yang ingin diketahui. Kalau ternyata informasi yang diperoleh salah atau tidak sempurna, maka wajar pemahaman yang terbentuk akan pula keliru dan tidak sempurna. Hasilnya perilaku ia terhadap sesuatu itu akan ikut salah karena perilaku dipengaruhi oleh pemahaman. Bingung-bingung lu..! J

Pokoknya, berhati-hatilah terhadap informasi yang kita terima atau kita peroleh tanpa sumber yang jelas. Karena bisa jadi informasi yang kita terima tersebut merupakan informasi yang tidak tepat terhadap keadaan yang sebenarnya. Bisa saja suatu saat beredar isu bahwa penulis selebaran butut ini sebenarnya adalah bencong yang sering mangkal disimpang empat belakang kampus anda.. Maka saran gue sekali lagi janganlah percaya! Jangan percaya sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya apalagi sumber informasinya tak jelas seperi itu. Padahal jelas-jelas gue bukanlah bencong pangkalan simpang empat. Tapi simpang tiga! :p

Bertabayyun lah terhadap informasi yang kita terima. Karena bertabayun lebih baik dari pada mengobati..! []

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: