Refleks Against Refleks (POPCORNzine #2)



Alkisah disuatu pagi minggu, gue lagi asik berkendara dengan manisnya..

Berangkat dipetangnya pagi dengan irama tarian rintikan gerimis, menuju kota Banjarmasin seorang diri..

Sepanjang perjalanan diawali dengan suasana asoi geboy..  menghirup udara segar yang merfresh paru-paru, melalui berbagai pemandangan unik, melalui senyuman acil penjual bensin eceran, dan juga bermacam burung-burung genit yang berkeliaran mencari makan.. Saat itu semuanya nampak mengalir ramah bagai lagu balada sang pengelana.. Tak ayal tembang klasik Lemon tree pun mengalun dari bibir gue yang seksi..

“I wonder how.. I wonder why..  yesterday you talking about a blue blue sky.. and all that I can see.. it’s just the yellow lemon tree…”

Yeahh.. Bagi gue saat berkendaraan jauh  merupakan momen yang tepat melepas kepenatan sisi hidup  yang lain.. Saat itulah gue bisa menikmati perubahan waktu. Karena ditengah perjalanan itu lah gue bisa merenung, gue bisa memikirkan perencanaan hidup, bisa juga mikirkan bahan tulisan, bikin lirik lagu serampangan, atau dengarkan lagu di earphone sambil membayangkan jadi model video clipnya. Hehe..

Namun seperti biasa, kestabilan kisah ini tidak bertahan lama.. Saat gue masih berkendara dengan seimut-imutnya tiba-tiba suasana kemudian berubah mencekam!

Secara mengejutkan, sebuah motor yang ditumpangi sepasang suami-istri terlihat memblokir ditengah jalan. Kontan, gue panik setengah ganteng! Hah?! Apa yang terjadi? Apakah kedua orang tua tersebut merupakan orangtua dari gadis yang menjadi korban ulah pria-pria gombal? Yang telah menghamili anak mereka diluar nikah, kemudian mentelantarkan anak mereka..? waduh..! Tapi gue kan belum pernah ngehamilin anak orang.. apalagi anaknya bapak-ibu tersebut. Gue sumpah cuma mau ngehamilin anak mertua gue. Tapi kesalahan apakah yang membuat gue jadi dihadang begini sama mereka..? Apalagi kalau motor si Bapak itu tetap ditengah jalan, bisa-bisa gue jadi nabrak mereka, jebbreet!!

Suasana berubah genting, gue pencet tombol klakson, yang sayangnya gue sendiri  lupa kalau klakson dimotor gue udah lama rusak!. Gue lupa berkali-kali lupa mau beli klakson angin tenoot.. tenoot ala paman pentol yang hemat listrik buat di pasang di motor! Gimana nih..?

(sebenarnya waktu saat itu sangat pendek, tapi di dramatisir kayak kartun tsubasa mau nendang bola. Hehe..)

Namun Allah tetaplah yang Maha Keren, Alhamdulillah.. orang Keren kayak gue dengan kemurahan-Nya diselamatkan dari –hampir terjadi- tabrakan maut tersebut. Gue berhasil menghindar.  Padahal sedikiiiit lagi menghantam ban depan motor bapak tersebut. gue berhasil..! namun saat itu perasaan lega hanya terasa sesaat sampai rasa geram mengambil alih hati ini.

Gue yang saat itu terkondisi jantung berdegup keras memalingkan muka kearah mereka, dan dengan ‘panas’nya melepaskan emosi dengan nyaring “hhhhhaaah!!!”

Orang di sekitar kontan memperhatikan, bapak-ibu tadi pun dengan muka tak kalah terkejut memandang tanpa ekspresi karena ikutan shok (bisa jadi shok karena keget ada muka pembunuh mau nabrak mereka). Saat itu, orang memang tidak melihat ekspresi wajah gue karena tertutup kaca helm, namun dari nada emosi penekanan, mereka yang mendengar mungkin bisa merasakan kegeraman gue saat itu..

Gue ngaku bergeram ria seperti itu memang tidak pantas dilakukan. Guepun bersyukur sekali saat selamat dari kemungkinan tabrakan maut tersebut. beristighfar berkali-kali sepanjang perjalanan, dan mengurangi kecepatan motor. Gue pun merasa berdosa sekali membentak dan berharap orang yang dibentak ketakutan dengan bentakan tersebut.

Tapi syukurnya pada saat itu umpatan kasar tidak keluar dari mulut gue. Umpatan kata-kata kotor yang kalau kita ucapkan pada saat SD dulu mungkin segera dijewer oleh guru kita, kata-kata yang kalau kita ucapkan ke seorang tentara membuat pipi merah-biru, kata-kata yang kalau kita utarakan ke dosen berefek nasib nilai kita nasakom.

Gue senang refleks gue saat mendapat musibah yang terucap adalah istighfar. Tidak seperti dulu zaman masih hobi menggunakan kata-kata tersebut sebagai pelengkap kalimat keseharian. Kata-kata yang mudah dan enteng gue lepaskan sehingga mencabik-cabik hati yang mendengarnya. Semacam “bungul”, “bangsat”, “kampret”, “anjing”, “babi”, dan berbagai hewan kebun binatang berandalan lainnya yang menjadi bumbu kata-kata pergaulan sekarang.

Yah.. gue sudah lama mencoba tidak menjadikan kata-kata tersebut refleks dari omongan yang dibicarakan. Setidaknya itu gue tinggalkan setelah menyadari penggunaan diksi sangat bisa mempengaruhi untaian kalimat yang diutarakan. Gue ingat, dulu saat masih kelas satu SMA, yang dengan kasarnya mengucapkan kata “brengsek!” kepada seorang teman perempuan, yang ternyata itu membuat dia menangis karena sakit hati. Sampai gue ingat saat itu dikecam oleh satu kelas akibat diksi kata-kata yang tidak pantas dipilih.

Diksi yang kita ‘rekrut’ untuk menjadi susunan kalimat bisa membuat penekanan yang menjurus pada maksud yang berbeda. Memanggil seseorang dengan “pian..” akan terasa lebih halus dan hormat dibandingkan memanggil seseorang dengan “nyawa!”. Makanya pantas banyak yang mengatakan lidah itu lebih tajam dari pada pedang. Lebih sangar dari pada pemicu nuklir. Dan lebih mengerikan dari pada upil (lebay..).

Lidahlah yang bisa membuat dua kampung saling serang karena dimulai dari cekcok mulut, lidahlah yang bisa membuat seorang benci atau tidak dengan sang pemilik lidah, dan mungkin lidahlah yang membuat ayam tetangga mati karena kalau mandi gue selalu nanyi gak karuan..

Hati-hati dengan kata-kata yang ternyata menjadi refleks dan kebiasan omongan kita. Hati-hati pula, kalau ternyata kata-kata yang menjadi refleks itu adalah kata-kata kasar dan tak pantas diucapkan. Lawan dan penuhi refleks ‘kotor’ kita itu dengan kata-kata yang enak didengar, kata-kata yang sopan, kata-kata zikir, dan kata-kata salam. Karena ibarat air kotor dalam gelas, dapat kita murnikan dengan memenuhi gelas tersebut lagi dengan air jernih hingga air kotornya meluap keluar.

Gue jadi ngeri aja seandainya selama didunia kita terbiasa menggunakan kata-kata anjing, babi, monyet, kera, kampret, bangsat, dll. Sehingga kata-kata itu menjadi refleks dari kelatahan kita.. Bagaimana nanti ketika kita dialam kubur ditemui tiba-tiba oleh malaikat, dan karena kita terkejut refleks keluarlah kelatahan kita “eh kampret..! eh kempret..!”.

Dan akhirnya, “cetar..!!!” suara cambuk..

Hehe, mau? Jaga mulut, jaga hati..

(akb, 4-10-2010)

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: