Riang Pengamen Cilik


oleh Fajar Gemilang Ramadhani

Nafas ku masih terasa ngos-ngosan. Maklum habis tanding futsal. Derby…hehe. Karena ada urusan di Banjarmasin, jadi aku harus segera pulang ke kampung halaman, 40 km dari dari kota perantauan.

Angin cepoy-cepoy menghantam tubuh yang sudah lumayan sepanjang perjalanan. Ketika sampai di Banjarmasin, ternyata penyakit ku kambuh. Penyakit yang juga dimiliki oleh beberapa orang temanku. Penyakit psikiatri. Fugue disosiatif. Ada yang masih ingat?? Penyakit hilang ingatan akan identitas diri, orang sekitar dan lingkungan, ditambah melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang ga biasa dijalani sebelumnya. Bahkan salah satu kawan ada yang sampe Kandangan…hehe. Walaupun sebenarnya ga segitunya, coz aku masih inget identitas ku sendiri, Cuma kadang-kadang sering iseng jalan-jalan ga jelas.

Ketika sampai di lampu merah km 3 di Banjarmasin, entah bisikan “ghoib” apa yang membuatku ingin terus. Padahal kalo pengin pulang ke rumah seharusnya aku belok kanan. Dan akhirnya terus lah aku. Pengen muter-muter dulu. Melewati jalan-jalan kota Banjarmasin, menikmati gemerlap lampu kota. Trus belok lah aku ke jalan Jati. Karna lama ga pernah lewat situ. Untuk kesekian kalinya, Banjarmasin memang banyak lampu merah. Beda dengan Banjarbaru, cuma ada 2 ato 3 lampu merah, itu juga simpang tiga aza. Kalo di Banjarmasin yang simpang 5 pun ada. Ada penampakan yang sebenarnya sering ku lihat sebelumnya tapi entah kenapa, kali ini memberikan inspirasi buat aku nulis note yang satu ini. Karena juga udah lama banget ga nulis note.

Sambil nunggu lampu hijau, seorang anak perempuan yang masih kecil datang menghampiri. Pake baju yang sudah lumayan kusam, trus pake kerudung yang juga ga kalah kusam. Di tangannya, ia membawa sebuah “kecrekan” dari tutup botol soft drink yang di paku ke potongan kayu kecil. Ku perkirakan umur anak perempuan tersebut sekitar 7 tahun. Sebuah lagu pun angsung ia nyanyikan, lagu yang sebenarnya juga ga jelas, dia nya cuma menggoyang-goyangkan kecrekannya sambil bergumam ga jelas. Aku jadi teringat kata-katan seorang teman, “aku suka dengan orang yang mau bekerja, daripada orang yang meminta-minta”. Ya langsung az ku keluarkan uang yang ada di kantong k uterus ku berikan kepada anak tadi. wajah sumringah langsung memancar dari wajahnya. Trus dianya pergi menghampiri pengemudi kendaraan yang lain.

Penampakan yang sebenarnya pasti juga sangat sering kalian jumpai. Anak kecil, jadi pengamen, jadi tukang jualan koran, ato bahkan ada yang jadi pengemis. Kalo dipikir-pikir dimana tuh yang katanya orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. Mana tuh UUD pasal 34 kalo ga salah. Yah, wajarlah rada-rada lupa, udah lama ga belajar yang kaya gituan. Semuanya hanya jadi pemanis di setiap pelajaran PPKn ato Kewarganegaraan, yang ga pernah ada realitanya.

Seharunya anak sekecil itu tak harus menjalani semua kehidupan keras ala jalanan seperti itu. Mereka harusnya belajar. Apalagi malam-malam kaya tadi, ga aman banget. Siapa tahu ada pengendara yang lagi “teller-teler” gitu trus ga ngeliat ada anak kecil, trus nabrak tuh anak. Bahaya kan jadinya…

Kalo mereka di tanya, “mau sekolah de..??” aku yakin kebanyakan mereka pasti mau sekolah, mau hidup normal, sesuai umurnya. Tanya az lagi, “kenapa ga sekolah de..??” jawabannya pasti jawaban klasik, “ga ada biaya ka..” ato jawaban yang lebih ada rasa interprneur nya “daripada sekolah yang bayar, mending saya ngamen ato jualan Koran, lumayan dapat duit ka…”

Selamat datang di zona yang ga pernah ada keadilan di dalamnya, ga pernah ada kesejahteraan. Zona penuh kemelaratan.  Zona yang hanya enak buat orang-orang berduit, buat orang-orang berdasi dan bersafari, buat orang-orang yang punya capital. Jangang harap anak kecil lusuh, yang kerjanya ngamen di lampu merah bisa dapat menikmati keadilan, kesejahteraan, keamanan, dan lain-lain lah pokoknya.

Aku rindu masa-masa penuh kegemilangan kaum muslimin, masa-masa yang berhasil ditulis dengan tinta emas dalam lembaran sejarah peradaban dunia. Masa yang didalamnya kaum muslimin hidup dengan sejahtera, berdampingan dengan non-muslim juga. Islam mensejahterakan semuanya. Masa itu adalah masa keKHILAFAHan. Masa dimana kaum muslimin menerapkan Islam totalitas, masa dimana kaum muslimin dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang takut pada AL-Khaliq nya.

Khilafah inilah nanti yang akan memberikan keamanan, keadilan dan kesejahteraan buat anak kecil tadi, buat anak-anak yang lain, buat kaum muslimin di seluruh dunia, buat semua manusia sejagad bumi ini. Ini buka sekedar tuntutan sejarah, ini adalah tuntutan aqidah. Yang pernah berikrar Allah adalah tuhannya, dan Muhammad adalah rasulnya harusnya merindukan KHILAFAH dan juga menuntut kembalinya KHILAFAH. Berjuang untuk mengembalikannya.

Buat warga KALSEL, sebuah moment untuk menyatukan visi perjuangan syariah dan KHILAFAH, sebagai salah satu bukti kita percaya akan janji Allah dan RasulNya,

Konferensi Rajab yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia marathon diseluruh Indonesia, dan KALSEL adalah pembukanya. Stadion 17 Mei akan jadi saksi bisu pekikan gema takbir perjuangan SYARIAH dan KHILAFAH. mau jadi salah satu yang ada disana..???

Buat Fak. Kedokteran bisa hubungi saya, tiket mule dari 50 ribu perak, dan VIP 300 ribu perak saja….

TAKBIR….!!!!

Banjarmasin,  21 Mei 2011

Pukul 21.07

Iklan
  1. saya setuju dengan anda

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: