Sepercik Api


oleh Abdurrahman Saleh

setetes darahpun belum pernah mengalir dari pori tipismu

lalu, pernah juakah kau bersilang belati dengan serdadu

menikam, menghujam di bawah auman mesiu dan peluru

 

sayangnya, keluhan generasi kini yang terlantang

melebihi suara generasi dahulu yang lebih pantas jika harus mengaduh

kita, sedikit saja tersandung aral melintang

gumam kemenyerahan begitu riuh bergemuruh

 

berkaca pula pada pasukan badar

mereka, yang menjual nyawa untuk menebus firdaus

maju menantang sekutu berhala tanpa gentar

memekik takbir diantara denting pedang yang terhunus

 

disini, di negeri muslim ini

kita belum pernah mengalami pergesekan yang begitu ganas

hanya saja kebekuan proletar yang kita hadapi

rakyat, belum seluruhnya sadar bahwa mereka sedang di tindas

mereka berdiam, acuh seperti mati

 

sebuah perlawanan harus lahir untuk mengambil hak kita yang terampas

sebelum kekayaan habis dilibas dan harga diri benar-benar terhempas

 

karena islam adalah kemuliaan dan keselamatan

ia tidak layak bersembunyi di bawah ketiak demokrasi

 

maka, lantangkan teriakmu kawan

revolusi dan tegakkan khilafah

atau mati berdarah-darah

–garisdepan–

*KabarburukuntukkaumbarbaR*

–ketika KONJAB 1432 H semakin dekat–

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: