Setapak Cadas


oleh Abdurrahman Saleh

Memang seharusnya begitu …

Kesibukan dan amanah-amanah adalah sebuah keniscayaan yang wajib di tunaikan jika kita menjatuhkan pilihan menjadi aktivis pergerakan. Kita seharusnya menyadari bahwa hidup adalah untuk menuntaskan amanah-amanah, bahwa hidup adalah untuk beribadah dan mencipta perubahan bagi ummah. Hidup bukan sebuah peristirahatan terakhir. Bukan pula sebuah parade yang berisi kesenangan-kesenangan belaka. Kita wajib menyadari ada hidup setelah hidup. Ada dunia setelah kefanaan yang ada.

Menjadi seorang aktivis adalah pilihan berat. Berat namun membahagiakan, itu menurut saya. Karena saya berharap dengan itu bisa lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Bisa lebih memberi manfaat bagi lingkungan sekitar dan bagi keadaan zaman yang semakin hari semakin rancu.

Di sini, di dunia aktivis, mentalitas benar-benar di uji. Ada uji kepribadian. Kesabaran. Keloyalan/ketaatan. Dedikasi. Dan yang terkadang sering gagal adalah ujian keistiqomahan. Bagaimana agar tetap tegar bergabung membela Din ini meski kemenyiksaan ramai menghampiri. Seperti sebuah “keharusan” dunia aktivis, dunia harakah mengalami pasang surut kader. Ada yang tumbuh dan tak sedikit yang memati. Gugur dan bertunas adalah sebuah keadaan yang wajar dalam organisasi dakwah. Sekali lagi, karena di dalamnya bertabur ujian, di dalamnya terhampar rintangan. Meski seharusnya tantangan tersebut kita rindukan sebagai tangga tahapan ujian yang akan menjadikan setapak menuju surga semakin lempang.

Pengorbanan menjadi fardlu ketika kita memilih menjadi aktivis harakah pergerakan. Organisasi pembebasan. Seharusnya kita bisa memberikan lebih diri kita pada organisasi yang kita ikuti. Karena bukan untuk mendapatkan materi kita bergabung. Bukan pula untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan kita berkecimpung. Melainkan karena sebuah konesekuensi iman yang mendalam dan keyakinan bahwa keimanan menuntut sebuah pengorbanan.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah hingga mereka membunuh atau terbunuh(sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan demikian itulah kemenangan yang agung (At-Taubah;111)

                Demikian sudah terpapar jelas dalam Al-Qur’an, bahwa Allah telah membeli setiap jiwa orang mukmin dengan surga. Itu jika kita mau menjual. Inilah sebuah konsekuensi nyata dari sebuah keimanan. Insya Allah setiap pengorbanan yang kita berikan akan Allah nilai dengan surga. Maka untuk itu, bagi kita para aktivis, jangan sesekali menghitung apa yang sudah kita berikan pada dakwah. Berkacalah pada para sahabat yang tak segan menggadaikan jiwa, harta, waktu, tenaga demi tegaknya kalimat Tauhid di muka bumi. Malulah kita pada mereka, karena pengorbanan kita belum ada apa-apanya.

Disini, di dunia harokah, dunia aktivis, rasa keberatan berkorban akan menjadi penentu keistiqomahan kita disana. Sebagai contoh, ketika datang perintah demi terlaksananya sebuah acara, yang bisa jadi itu berat bagi kita, belum lagi keharusan berkorban harta, waktu, tenaga atau bahkan nyawa tentu jika kita tidak memahami hakekat perjuangan akan bertanya-tanya ; begini mahalkah dakwah itu? Seabrek pertanyaan-pertanyaan yang membusukan hati dan mematikan langkahpun ramai menghampiri.

Saudara, enyahkan semua prasangka itu. Mari berikan yang terbaik untuk dakwah, karena sebaik apapun yang kita korbankan belum mampu menyamai pengorbanan para sahabat, belum tentu mampu menandingi sesobek luka prajurit Badar. Mari kawan, kita berkaca, jangan menyibukkan diri menghitung yang sudah kita berikan. Apalagi memilih berbalik arah lalu mundur teratur. Naudzubillah. (garisdepan)

Banjarmasin, 26 5 11

*KabaruburukuntukkaumbarbaR*

–menjelang detik-detik KR1432H–

    • hamba allah
    • Juni 8th, 2011

    “jika qt g berani berspekulasi di dunia,g berani tegas terhadap diri kita,mungkinkah qt bisamendapatkan kehidupan yg bahagia di akhirat,mungkinkah mendapatkan kedudukan tinggi di hadapanNya?tunggulah janji Allah di akhirat kelak”

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: