Pengabdian


oleh Ahmad Adityawarman

Di dunia ini manusia hidup. Mereka berbuat dan bergerak berdasarkan dorongan yang berasal dari dalam atau luar diri mereka. Entah itu lembaran-lembaran rupiah, tempat tinggal yang megah, kendaraan pribadi yang mewah. Sanjungan, kedudukan yang terhormat di mata orang. Ataupun rasa kemanusiaan, ketulusan hati yang bisa berujung pada altruisme mendalam. Ada yang lain?

***

Dokter itu, mengajar dengan santai namun tegas, dengan kata-kata yang kadang ngawur dan serampangan. Bagiku gelar yang panjang di belakang nama seseorang bukan sebagai ukuran untuk kita menilai sehebat apa orang tersebut. Bukankah banyak orang bergelar professor tapi tak memiliki ilmu serta sikap sepantasnya professor? Bagiku ketika sebuah pesan disampaikan dan itu membawa kebenaran sekaligus nilai yang baik, tak peduli siapa yang menyampaikannya, pedulilah pada yang disampaikannya. Sebuah paradigma yang tertanam dari nasihat Ali ra. Dan terus terang aku tak mengenal sang dokter lebih jauh kecuali lewat introduksi yang ia selipkan di penghujung perkuliahan.

Sebenarnya ini berkaitan dengan masalah keprofesian yang klise, sudah sering disentil kepada kami, mahasiswa kedokteran yang masih hijau lumut imut-imut ini (wueeekkkk!). Hari itu, hal tersebut kembali ditegaskan oleh sang dosen. Retorikanya mengajak neuron demi neuron di korteks cerebri kami bekerja.

“Dokter itu apa sih? Dokter itu sebenarnya pelayan, dek. Lu pikir jadi dokter itu enak kayak jadi bos? Lihat beda bos sama dokter. Kalo bos ditelpon tengah malam sama anak buahnya, disuruh datang ngadepin si anak buah, kira-kira marah gak? Yah bahkan kalo perlu ditimpukkin aja sekalian tuh anak buah (wataaww!)”

“..kalau dokter? Tengah malam pas lagi tidur nyenyak sekalipun ketika disuruh nanganin pasien, bisa gak nolak? Tidak bisa! Makanya, dokter itu pelayan!”

“Nah, makanya aneh ya, banyak orang yang ingin sekolah di kedokteran. Banyak yang ingin jadi dokter, walau mereka harus mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk menempuh pendidikannya. Padahal bukankah mereka ujung-ujungnya cuma bakal jadi ‘pelayan’?”

Di pertemuan berikutnya..

“Lu mau jadi dokter apa motivasinya? Pengen jadi kaya? Yakin?”

Seluruh penghuni kelas itu senyap. “Mau jadi kaya kan? Betul gak?”

“Kalau mau jadi kaya, mending jadi penguasa aja eh. Lu salah besar kalo ngarep jadi dokter bisa jadi kaya!”

Yah, semenarik apapun yang diungkapkan beliau, itu jelas hanya konsep-konsep idealisme yang kadang tak sesuai dengan realita. Entah berapa jumlah dokter yang ia adalah ‘pelayan’. Dan, dalam pandangan awam profesi ini telah identik dengan bergelimangnya materi. Kebanyakan teman-temanku –sebagaimana mungkin aku sendiri- menjadikan alasan ‘membantu orang, kemanusiaan’ sebagai dorongan meraih cita-cita kami ini. Di samping berbagai alasan lain, klise juga, seperti membanggakan orang tua. Untuk alasan pertama, kita semua mungkin pernah merasakan bagaimana berbuat baik kepada orang lain itu menimbulkan perasaan nyaman di dalam hati, ada kepuasan tersendiri gitu.

Hari itu mungkin kebanyakan dari kami telah bersemangat, setelah idealisme profesi dokter diungkit dan dilemparkan telak ke muka kami. Tapi semangat menjalankan niat memang seperti gambaran gelombang transversal tak beraturan. Ia bisa saja membuncah dengan berbagai petuah dan nasihat seseorang, atau dorongan lain, tetapi bagaimana jika kita berhadapan dengan realita sesungguhnya? Akankah kita masih bisa mempertahankan idealisme yang sama? Bisakah kita teguh dengan tujuan awal pengabdian kita?

Sistem yang buruk bukannya membuat semua orang ikut menjadi buruk, tapi seringkali menjadikan orang baik tak bisa berkutik. Ketika kita sudah sangat berniat menolong pasien nantinya, menjadi ‘penyambung tangan Tuhan’ untuk menyelamatkan nyawanya, bagaimana jika ternyata kondisi finansial si pasien tak memungkinkan bagi kita untuk mengambil tindakan? Atau suatu saat berbagai korporasi-korporasi farmasi melakukan lobinya, mengintimidasi dengan hadiah-hadiah yang dijanjikan, akankah kita akan bertahan?

Yah, para idealis harus bersiap menghadapi segala konsekuensi atas idealisme mereka. Kita berada di dunia nyata kawan, bukan di dunia khayalan Masashi Kishimoto dimana suatu saat sang jagoan akan menang setelah sebelumnya habis-habisan mempertahankan prinsipnya. Di dunia ini kita bisa saja habis duluan sebelum menikmati hasil idealisme kita. Realita memang kejam, terkadang sangat.

***

Dunia kedokteran. Belajar di dunia ini, bukan saja tentang mempelajari mengapa seseorang bisa hidup dan bagaimana mempertahankan kehidupan. Namun lebih dari itu, juga tentang makna kehidupan itu sendiri. Setidaknya bagi saya.

Di balik semua yang kita pelajari ini, bisakah kau temukan tanda-tanda luar biasa yang bisa teridentifikasi logika manusia? Mencermati sebuah sel, kita akan menemukan susunan seperti miniatur sebuah kota, dimana terdapat berbagai struktur sedemikian kompleks di dalamnya. Membran sel, inti sel, sitoplasma dan organel-organel yang mengapung di dalamnya seperti mitokondria, ribosom, lisosom, dan sebagainya. Kerja mereka terintegrasi memunculkan kehidupan. Pertanyaannya, mengapa mereka bisa melakukan kerja yang sedemikian teratur seperti itu? Apakah kita punya hak dalam memerintahkan mereka? Bisakah misalnya kita menyuruh mitokondria agar berhenti sejenak dalam mensintesis ATP? Mampukah kita meminta ribosom memproduksi protein sesuai dengan kehendak kita?

Ingat kawan, itu hanya sel, unit fungsional terkecil pada manusia. Satu sel saja, para ilmuwan ada yang berkata memikirkan kerumitannya saja mereka tak sanggup. Apalagi menciptakannya. Dan berapa jumlah sel dalam tubuh seekor manusia? Di buku ajar fisiologi kedokteran karya Guyton dan Hall, entah dengan perhitungan seperti apa dari dokter sekaligus ilmuwan hebat itu, tertera angka 100 trilyun. Bayangkan berapa mangkuk bubur kacang yang bisa kita beli dari uang segitu.

Dari sini, jelaslah bahwa ada semacam ‘Invisible Hand’ yang mengatur itu semua. Yang menciptakan lalu membuat ciptaan itu teratur. Dialah Rabb atau Pencipta. Allah SWT, orang Islam menyebut-Nya. Maka seharusnya, kami, mahasiswa yang terbiasa menggunakan otaknya dalam memikirkan tanda-tanda kebesaran-Nya ini, adalah orang-orang yang dekat dengan Rabbnya. Atau setidaknya, berkeinginan yang sangat dalam mendekatkan diri. Karena sadar bahwa betapa agung kuasa-Nya, betapa maha besarnya Dia. Betapa kecilnya manusia itu dihadapan-Nya dan betapa hinanya manusia tanpa ketaatan terhadap-Nya.

Sesungguhnya apa yang dikehendaki Sang Pencipta kepada kita?

“Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Ku”

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Itulah misi utama kita diberikan kesempatan menapaki hidup di permukaan bumi ini. Yang seharusnya menjadi landasan utama kita dalam berbuat, motivasi terbesar kita dalam bergerak. Lebih dari sekedar dorongan meraih materi ataupun semangat humanisme semata. Aku dan kamu yang menjalani pilihan takdir menggapai cita yang sama, semestinya meniatkan semua itu utamanya demi pengabdian teragung ini!

Apakah itu juga idealisme? Bisakah bertahan?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: