TERIKAT UNTUK KEMULIAAN


oleh Ahmad Adityawarman

Mungkin mereka terlalu sering menengadah memandang burung yang terbang bebas menembus awan. Sembari membayangkan, kebebasan yang seperti itu terasa damai dan menyenangkan. Mereka -yang menamakan golongannya sebagai anarkis-, menginginkan kehidupan tanpa otoritas, tanpa ada lagi strata kasta dalam hidup manusia. Ya, sekilas ide ini adalah ide yang menyenangkan, manis sekali kedengarannya. Tapi lebih jauh mereka mulai tidak sopan, tak hanya mengingkari otoritas penguasa di dalam kehidupan bernegara, mereka pun mencoba berontak melawan otoritas tertinggi -otoritas Tuhan-.

Saya pernah membaca sedikit tulisan mereka dari sebuah zine muslim yang meresensi isi zine-zine kaum punk anarkis, dengan tujuan mengcounter penghinaan yang dilakukan kaum anarkis terhadap agama bahkan tuhan. Sepertinya si peresensi sendiri terlihat jijik tatkala menuliskan lagi kata-kata yang ingin dicounternya. Ada juga tulisan tentang aksi mereka yang brutal, berombongan mengusir satpam sebuah bangunan di tengah malam, kemudian melakukan pesta miras dan aksi anarkis lain hingga dini hari.

***

Seperti juga kebanyakan yang lain, saya pernah mengalami masa muda tanpa kematangan pemikiran. Walaupun sebenarnya sekarang pun masih perlu dimatangkan karena baru sekitar tiga perempat matang. Dulu yang saya maksud, mungkin masih seperempat matang lah. Tapi saya bukan orang yang maniak eksistensi atau senang cari sensasi. Paling banter saya bolos tiap upacara 17-an dengan alasan yang tidak ideologis atau menjadikan main domino di mushalla sekolah sebagai ngabuburit di bulan Ramadhan hingga digrebek wakil kepala sekolah.

Masa itu ketika awal-awal naik motor, saya sering diingatkan orang tua untuk membawa segala kelengkapan yang perlu. Bahkan tidak diizinkan membawa motor kalau tidak memakai helm standar, dan tak lupa harus di’klik’. Dalam hati kadang saya mengeluh, masa untuk bermotor di daerah yang dekat harus memakai helm juga? Bukankah polisi dan razia cuma ada di jalan raya? Namun mau tak mau saya mematuhi otoritas bapak saya, karena walau bukan pihak yang berwajib bapak tentu mampu mencabut hak izin berkendara saya.

Pas kelas 1 SMA saya mengalami kecelakaan pertama yang tak mungkin terlupakan, karena bekas luka nya pun masih tercetak di kulit lengan. Setelah menikung memutar di jalan raya dekat sekolah, saya langsung tancap gas dan malangnya saya tiba-tiba terjepit di antara dua kendaraan. Sebuah angkot di sebelah kiri yang datang dari jalan, dengan motor yang dikendarai seorang bapak di sisi kanan yang tadi ikut menikung. Stang motor saya tersenggol pundak si bapak, sontak saya dan motor oleng lalu rebah terbanting ke kiri.

Saya terseret agak jauh dari motor saya, namun untunglah si bapak tak apa-apa. Lebih syukur lagi saya tidak terlindas angkot yang tadi, dan ketika terjatuh helm saya tidak lepas dari kepala karena di’klik’ sehingga pas terseret kepala saya terlindungi. Cedera saya juga tak terlalu parah, cuma lecet yang cukup besar di lengan kiri dan lutut, sehingga saya mampu langsung berdiri dan menaiki motor saya yang juga tak mengalami kerusakan cukup berarti. Hmm, kalau kamu sering lihat MotoGp, maka keadaan saya sepertinya mirip sekali dengan pembalap yang terjatuh di tengah balapan. Mulai dari gaya jatuh, terseret, hingga bangun kembali dengan cool-nya, hahaha.

Saya bersyukur lagi, bukan hanya karena si tukang angkot meneriaki saya dengan nada kesal “Woi, sukur kam kada mati!”, namun karena saya mematuhi aturan dengan memakai helm dan meng’klik’nya. Saya kenal beberapa teman yang sering enggan memakai helm bahkan ketika ngebut-ngebutan, dan ada juga seorang yang memotong tali peng’klik’ helmnya dengan alasan mengganggu penampilan dan merepotkan. Yah, pengalaman memang guru yang baik, termasuk pengalaman bermakna dari seseorang yang kita tak harus perlu ikut mengalaminya.

***

Apakah bisa terwujud kehidupan yang tanpa ada sedikitpun otoritas, tanpa terikat aturan sama sekali? Itu jelas hanya utopia. Bukankah manusia dari dulu sampai sekarang selalu berupaya mencari peraturan yang terbaik? Manusia perlu peraturan untuk keteraturan hidupnya, dan tentu perlu adanya sebuah otoritas agar manusia taat mematuhi dan melaksanakan aturan tersebut dengan baik

Sehingga, tak ada kebebasan yang benar-benar sejati di dunia ini. Jika pengertian kebebasan itu ialah tanpa terikat aturan sama sekali dan kita mampu berbuat apapun yang kita ingini. Dan saya tak bisa membayangkan akan jadi apa dunia dan kehidupan seandainya mayoritas orang berpikir seperti kaum anarkis.

Manusia sepertinya memang bukan makhluk yang suka dikekang, apalagi dengan alasan yang tidak benar. Tapi jelas manusia takkan ada bedanya dengan binatang jika tak terikat aturan yang benar. Jika terikat pada peraturan adalah sebuah keniscayaan, maka pasti kita tak ingin terikat dengan aturan yang abal-abal. Otoritas tertinggi yang kita yakini untuk membuat aturan, tentunya adalah Pencipta kita. Karena Dia Yang Maha Tahu secara detail dan sempurna apa yang baik untuk ciptaan-Nya. Logika yang sederhana bukan?

Aturan, seperti cerita di awal tadi memang seringkali kurang menyenangkan untuk ditaati jika kita tidak tahu apa makna dibalik aturan tersebut. Namun sepantasnya bagi Muslim mengimani bahwa apapun yang datang dari Allah pasti mengandung kebaikan, meski saat ini kita tak langsung merasakan manfaatnya. Belasan abad yang lalu, apakah ada di antara sahabat Nabi yang tahu bahwa gerakan nungging dalam shalat itu ternyata memiliki makna kesehatan yang penting, yaitu cara terbaik untuk mengalirkan darah ke pembuluh kecil arteri otak? Rasulullah SAW hanya bersabda simple, ‘shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat’. Rasulullah rukuk, mereka ikut rukuk. Rasulullah sujud, mereka pun sujud. Tak ada sedikit pun protes dari mereka, dan tak ada yang nyeletuk misalnya mengapa gerakan shalat tidak dengan posisi lilin atau loncat harimau saja? Atau dengan tarian ala Briptu Norman?

Aturan dari-Nya, sudah diturunkan dalam pedoman yang nyata dan diajarkan melalui messenger-Nya. Pilihan kita, setelah menyepakati bahwa manusia itu perlu terikat aturan, hanya ada dua: kehidupan kita diatur oleh aturan dari Dia Yang Menciptakan Kehidupan ataukah oleh aturan yang selain pada itu (buatan manusia sendiri). Sayangnya, manusia seringkali mencintai suatu hal yang sebenarnya buruk baginya, dan membenci hal yang sebenarnya baik untuknya. Yang jelas, Allah Maha Tahu dan manusia tidak mengetahui (al-Baqarah ayat 216). Maka saya dan harusnya kamu juga, memilih untuk terikat dalam kemuliaan.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: