Akankah Kita Menang?


oleh Ahmad Adityawarman

Di akhir bulan mulia ini apakah kemenangan yang ingin kita raih, sementara tatkala menahan lapar dan dahaga demi tujuan mulia lisan kita masihberkata yang sia-sia dan dusta, melahap daging saudara kita dengan sengaja, dan berbagai umpatan serta makian pun tak luput terucap begitu saja?

Apakah kemenangan yang ingin kita capai, tatkala kita abai terhadap esensi puasa sebagai media
pelatih mengendalikan hawa nafsu, sebab di sore-sore harinya kita hamburkan uang kita di pasar Ramadhan, hingga kita tak sadar bahwasanya kita malah membeli dan memakan lebih banyak daripada saat bulan-bulan lainnya?

Sungguh-sungguhkah mengidamkan kemenangan, sementara dimana-mana diselenggarakan buka bersama yang menghabiskan banyak anggaran dan akhirnya banyak makanan yang tak terhabiskan.. sedangkan masih banyak mereka yang kelaparan dan harus merasakan berpuasa lebih dari 24 jam? Di mana maksud puasa sebagai sarana agar kita merasakan apa kaum kurang beruntung rasakan? Mengapa bukan mereka saja yang diajak untuk berbuka puasa bersama?

Di penghujung Ramadhan nanti predikat pemenangkah yang akan kita sandang, padahal kita mengisi hari dengan dengkuran panjang atau di hadapan monitor sia-sia waktu kita terhabiskan, sementara seandainya ibadah sunnah kita laksanakan maka derajat pahalanya sama dengan kita laksanakan kewajiban, sementara seandainya menuntut ilmu yang kita pilih maka selepas dari Ramadhan engkau berkesempatan menjadi orang yang sedikit lebih faqih?

Benarkah menang yang mau kita dapat, sedangkan status itu hanya mampu kita dapat dengan sebelumnya meraih taqwa, yang mana taqwa itu berarti menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sementara hukum-hukum-Nya masih banyak yang tak kita laksanakan, sementara kita mengambil sebagian perintah-Nya dan menolak sebagian perintah-Nya yang lain, sementara yang banyak dikumandangkan adalah ayat ‘kutiba ‘alaykumush shiyam’ sedang ayat ‘kutiba ‘alaykumul qishash’ dan ‘kutiba ‘alaykumul qital’ entah kemana disembunyikan?

Mengapa kemenangan tetap kita inginkan, sementara kita tak mau berjuang menegakkan institusi tertinggi pelaksana syariat Islam, yang mana dengannyalah ketaqwaan individu benar-benar akan terjamin, dan ketaqwaan dalam segala aspek termasuk bermasyarakat dan bernegara mampu terwujud, sehingga akan Dia bukakan pintu berkah dari langit dan bumi?

Bumi Allah, hari keduabelas di Bulan Perjuangan

There is no social revolution without personal revolution
Semoga bulan penuh kemuliaan ini menjadi momen yang tepat, untuk keduanya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: