Monster Dalam Diri..


Monster Dalam Diri…

Sesuatu yang fitrah apabila diaplikasikan dengan salah dapat membuahkan fitnah..

 

Entah kenapa akhir-akhir ini sangat sulit sekali untuk bersabar.. walau akhirnya saya tetap bertahan sampai saat ini untuk tidak meledakkan emosi yang meluap-luap dalam diri.

Saya memang berwatak keras dan emosional. Sejak kecil sudah biasa berkelahi dengan banyak kawan. Sudah biasa gebak-gebuk menyelesaikan masalah layaknya kaum barbar. Hingga bedan memar sudah menjadi aksesoris tubuh, sehingga percaya-tidak percaya rasa pukulan itu menjadi tidak terlalu sakit saat itu saya rasakan. Mungkin sama halnya dengan seseorang yang biasa berada digurun, dan tersengat matahari tak lagi mengeluh walau badannya penuh peluh..

Bukan untuk menyombongkan diri, karena tak ada yang patut disombongkan dari pengalaman berbuat salah. Tak pantas kita berbangga ria disaat kita melanggar perintah Sang Kuasa.. tak pantas seseorang nyengir kuda, sedangkan dibibirnya tersisa khamr minuman neraka..

Suatu ketika saya pernah terlontar kata tak senonoh ditengah emosi yang pelik, suatu ketika pula saya pernah membentak saat kesabaran tak lagi terkontrol. Memang saat meluapkan nya ada rasa menenangkan sedikit kegalauan hati yang sedang panas. Memang lega, layaknya melepaskan kentut dengan rileks luar biasa tak tahu malu ditengah orang banyak yang sedang menikmati makan.

Disisi lainnya juga, pasti kita merasa bersalah dan berdosa saat terlanjur reaksi pelampiasan (emosi) itu kita luapkan sebarangan. Kita merasa tak pantas saat ungkapan yang kita harap menunjukan diri kita yang sedang kesal dan butuh pengertian, malah mendapati diri kita menjadi objek yang dibenci atas kelalaian sikap kita. ‘saya sedang menunjukan kegalauan.. mengharap pengertian bukan ejekan..’ mungkin itu jerit hati kita. Tapi itu juga kesalahan kita, karena kita tak bisa serta merta mewajibkan orang harus berempati atas segala perbuatan kita..

Pernah, saat mengendarai sepeda motor dalam kondisi lelah, pikiran membuncah, dan energi telah terkuras terperah, ditengah perjalanan tiba-tiba disalip serampangan oleh orang yang tengah berpacaran berpelukan. Sudah mereka tidak memakai helm, naik motornya membahayakan, menyalip tanpa berfikir dulu keselamatan dia dan disalip, tertawa cekikikan menganggap dunia hanya milik mereka berdua.. yah..saya hanya bisa mengeluh.

Pikiran saya saat itu hanyalah ide beringas yang muncul saat monster dalam diri mengamuk. Pingin sekali rasanya membalab mereka dan menendang mereka sampai jatuh terjerembab. Kemudian tertawa licik dan berteriak sumpah serakah kemudian kabur tanpa rasa bersalah.

Namun, oh.. semesta sungguh bukankah perbuatan itu sangat tercela..? sungguh perbuatan menyalurkan hasrat kebinatangan tersebut sejatinya tak memberikan kedamaian bagi saya, yang ada mungkin kepuasan sementara diliputi rasa bersalah yang meletup bunyi dalam hati nurani yang berbicara..

Saya yakin banyak diantara para pengejar surga, pemburu pahala, dan loper kebenaran adalah orang-orang yang tak luput dari rasa ingin untuk melakukan kemaksiatan. Bahkan bisa jadi ada diantaranya yang tak kuat untuk melakukan sebuah kebrengsekan, saat rasa sakit hati meledak-ledak dibenaknya maupun nafsu memberingas dalam dirinya,.. contohnya ya saya.

Sering kali saya dan beberapa sahabat bercakap penuh kepolosan saat saling mengutarakan kisah jujur masing-masing. Mulai dari keinginan ikut-ikutan pacaran, mencemplungkan diri kebisnis ribawi, jalan-jalan kelokalisasi, sampai keinginan menempeleng bahkan membunuh orang yang bagi kami memang harus dimusnahkan dari muka bumi.. seram bukan..?!

Syukurnya semua itu hanya terbatas pada sebuah kata ‘ingin’ yang kami tambahkan dengan kalimat ‘seandainya dihalalkan’.. Kami memang ingin. Namun masih lebih ingin selalu mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kami yakin seyakin-yakinnya islam bukanlah agama yang mengekang pelampiasan naluri seorang hamba. Namun islam adalah mengatur bagaimana cara melampiaskannya, agar segala kebaikan dapat tercurah kembali pada yang mentaatinya.

Siapapun kita pasti memiliki monster dalam diri yang suatu waktu berontak untuk memaksa melakukan pelecehan kebenaran dengan melampiaskan nafsu setan. Siapa pun pernah merasakan pemberontakan jiwa tersebut.. Namun tidak semua mampu untuk menahan, seraya membangun bendungan kesabaran juga kesadaran bahwa tindakan tersebut tiada pantas untuk diterapkan.

Kesadaran dalam melakukan segala perbuatan adalah penting bagi kita seorang yang beriman. Bagaimana seonggok kesadaran diri sebagai hamba yang diciptakan oleh Sang Kuasa, harus mampu menuntun setiap detik langkah aktivitas hanya berpatokan pada garis hukum syara’ yang telah ditetapkan-Nya. Tak ada penyelewengan, tak ada berani penentangan. Karena segala keselamatan diakhirat kelak sungguh ditentukan pada apa yang telah diperbuat. Sebutir pelanggaran akan bersaksi dan menuntut pertanggung jawaban diakhirat..

Monster dalam diri setiap individu bisa dianggap sebagai musibah, namun pula sebenarnya adalah fitrah. Monster dalam diri setiap kita juga sebenarnya adalah potensi. Potensi yang berharga jika mampu digunakan untuk mendukung aktivitas diri. Mendukung aktivitas diri mengukir prestasi khususnya dalam memompa semangat dan nafsu menyebarkan cahaya illahi.

Marahmu bukan lagi menjadi api yang merajalela membuta menghanguskan, namun berubah menjadi layaknya api yang menghangatkan dan mampu digunakan untuk mengubah bahan mentah menjadi makanan –jika digunakan secara benar. Tangismu menjadi mutiara jika dikeluarkan untuk merenungi dan bermuhasabah, namun justru menjadi cela jika dikeluarkan sia-sia. Bencimu menjadi halal jika diletakkan untuk membenci kemaksiatan yang mewabah, namun menjadi musibah jika diwujudkan untuk membenci seruan taqwa. Senangmu pun menjadi pahala jika diungkapkan untuk mensyukuri karunia, namun menjadi petaka jika mensenangi zina maupun riba.. Dan iri mu pula menjadi pelecut pahala jika teletak dihati untuk iri pada perbuatan taqwa, bukan larut iri pada kekayaan harta buta belaka..

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)” (Al-Balaad 10).

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“lalu memberikan kepada jiwa manusia potensi untuk mengerjakan yang maksiat dan yang taqwa”(Asy-Syams 8).

Pertanyaannya bukan mampukah kita meredam marah saat dicela maupun dihina, bukan pula bisakah kita menahan tangis saat hati menjerit. Namun mampukah kita mengendalikan kemunculan emosi itu dalam diri, bukan sebaliknya emosi dalam diri tersebut yang malah mengendalikan kita.., serta membutakan kita hingga lupa kepada garis syara’.. Karena bagaimanapun pilihan ada ditangan kita, dan pertanggung jawaban akan ditimpakan pada diri kita, maka berhati-hatilah semua dari kita.. (!!!)

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (Al-Mudatstsir 38).

[PLM,19-08-2011]

http://akbarlaksana.wordpress.com

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: