Germo Riba!


Germo Riba!

Kalau gak salah beberapa bulan yang lalu, buka buka facebook dan ada yang share link sebuah berita yang sangad sangad sangad menggenaskan. Beritanya tentang sepasang kekeasih tak sah yang melakukan zine di bulan Ramadhan dan ternyata mereka (maaf) gak bisa ‘copot’ selama beberapa hari.

Namun kemudian karena kondisi tubuh keduanya yang semakin buruk akhirnya pihak keluarga gak bisa menyembunyikan aib tersebut lagi dan kemudian membawa mereka ke Rumah Sakit, sayangnya saat perjalanan ke RS itulah keduanya meninggal, dan akhirnya kedapatan oleh para wartawan yang berhasil meliput kejadian laknat tersebut..

Na’udzubillahi mindzalik!

***

Kalau yang ini baru hari sabtu kemarin di minggu pertama Oktober 2011,

Didalam Meeting Room sebuah perusahaan yang begitu sejuk dengan hembusan Air Conditioner..

Sambil menghisap sebatang rokok kemudian dia melanjutkan tawarannya pada gue,

“Gaji tertinggi di kantor wilayah Banjarmasin ini aja sebulannya 409 juta loh mas..! Kira kira tercukupi gak kalau gaji segitu..? Saya aja yang komisi perbulannya rata-rata 10-18 juta sangat tercukupi mas..”

Saat itu gue hanya melawan tatapan interviewnya ke gue sambil menghembuskan nafas.. Bukan, bukan karena gue terkesima apalagi bangga dipilih dan diajak menjadi karyawan di perusahaan broker saham tersebut, tapi gelisah gue ini lebih karena jijik dengan ajakannya menjadi germo riba yang mengajak orang berlumuran dosa riba.

Dia yang ternyata memperlihatkan KTP dan umurnya dua tahun lebih muda dari gue itu melanjutkan,

“Mas.. terus terang aja ya, saya sarjana mas. Tapi sarjana S1 saya cuma beli mas.. gampang pake uang. Hampir tiap malam saya dugem mas. Yah.. tiga malam seminggu lah saya dugem sama kawan-kawan saya, tapi pake duit saya sendiri mas. Nih.. beli Blackberry, Iphone, rumah, LCD TV, mobil, saya gak pake duit orang tua mas.. bahkan saya lagi nabung mas buat berangkatin orangtua saya umrah, gimana perasaan orangtua kita kalau kita sudah bisa beli macam-macam sendiri..?”

“Kerjaannya cari nasabah supaya mau transaksi investasi di bursa saham perusahaan gitu..?” Gue tanya lagi lebih detil, walaupun gue udah ngerti jenis perusahaan begini.

“Ya mas!, kita tinggal cari orang-orang kaya yang bersedia investasi ratusan juta diperusahaan kita, dan kemudian kita dapat komisi jutaan juga. Gampang mas nanti kita training dua bulan dulu dengan gaji awal 500 ribu, baru nanti dipersilahkan cari nasabah. Satu nasabah aja kita dapat perbulan kemungkinan bisa sepuluh juta gaji kita mas, apalagi bisa dapat dua,tiga, bahkan lima nasabah..!” dengan bersemangatnya lelaki berbadan gempal itu mengagitasi gue.

Gue pura pura culun, “Yah.. sebanding sih kerjaannya, cari nasabah yang mau transaksi ratusan juta kita kecipratan juga jutaan rupiah, tapi dilepas gitu aja mas cari nasabahnya..?”

“Ya enggak lah mas, kita difasilitasi kantor, nanti ada telepon rekam, mobil, ruang meeting, dll.. Ya anggap aja nasabah itu pacar mas.. Sama aja kan.. Coba deh, sebelum kenalan sama pacar, kita pasti kenalan dulu, sama nasabah juga, habis itu pedekate sama pacar, nah sama nasabah juga.. sudah cukup dekat, kita nembak pacar kita ya kan..? nah sama nasabah juga, kita tawarkan bisnis ini..? kalau udah ada hubungan gitu, sama kayak cewe kita kan mas.. mau ditidurin juga mereka gak nolak kan..? Sama! nasabah juga mas mau diajak transaksi juga gak nolak lagi.. Soalnya mereka udah percaya…! Saya udah ngelewatin semua itu mas.. gampang..”

Gue pura-pura mau, “Tapi saya masih kuliah mas, perusahaan bisa memahami gak..?”

“Yah iyalah mas.. tenang aja tapi asal mas mau bolak-balik Banjarbaru-Banjarmasin buat ngantor. Ya menurut saya dibandingin kerja dipukulin capek-capek  dapat 10 juta, mending kerja gini kan mas.. santai dapat 10 juta juga..” dia menutup omongannya dengan senyuman khas broker yang meyakinkan nasabah. Terlihat memang sudah pengalaman sekali..

Di dalam pikiran gue berkecamuk berbagai pikiran. Meronta-ronta bermacam perasaan. ibarat jagung popcorn yang sedang dimasak dalam panci, meletup-letup karena kepanasan. Gue pun akhirnya pulang kembali menuju Banjarbaru untuk mengkalibrasi jiwa dan pikiran.

***

Ditengah perjalanan pulang sebuah gerobak bakso rebah disenggol mobil. Gue lihat seluruh baksonya tumpah diaspal jalan A Yani Banjarmasin saat itu. Paman bakso terlihat sedih meringis karena dagangannya siang ini yang mulai mau dijajakannya habis sudah tumpah berantakan. Miris.. gue gak membayangkan kalau gue kerja seperti itu, mampukah..?

Di pinggiran jalan lagi, sesosok tua yang berjalan kaki ditengah panas terlihat kelelahan. Bapak tua yang mungkin sudah lanjut usia sehingga lebih pantas disebut kakek itu menjajakan poster ditengah terik. Ya Allah.. di zaman internet mudah mendapatkan foto idola dan klub sepak bola ini, siapa lagi yang  bakal beli poster. Posternya dijual dengan harga 2 ribuan.. untungnya paling gak seberapa dibandingkan usaha beliau menyusuri jalan yang demikian gersang penuh pekat debu kendaraan.

Mendekati Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru gue kembali ditayangkan sebuah perjuangan mencari sesuap nasi dan semangkuk intan kehidupan.. Seorang kuli angkut terduduk lemas sambil diiringin tawa antara mereka, memucat muka mereka, saat tak kuasa menahan lelah harus mengangkut pipa gorong-gorong jalan yang demikian besar ditengah matahari yang sedang beraksi menyinari bumi. Ditengah para broker saham mungkin sedang asik asik nya ngobrol dengan para nasabah mereka di lounge atau café sambil meneguk mochacino atau espresso..

Gue kembali mencapai titik kulminasi perenungan. Apa yang salah dari kerja keras yang terlihat ‘rendahan’ tersebut kalau ternyata halal..? Namun apa yang bisa dibenarkan dari kerja yang gampang dan terlihat ‘mewah’ namun ternyata haram..? Apa yang akan terjadi pada tubuh kita dan keluarga kita yang ternyata mengkonsumsi makanan dari nafkah yang haram..? ….

“Hoooekk!!!!” Umar bin Khatab muntah, mungkin begitulah bunyinya.

Umar muntah bukan karena ia mabok udara saat naik arena halilintar di Dufan. Bukan. Namun ia sengaja muntah tatkala mengetahui makanan yang baru ia konsumsi ternyata adalah makanan yang diperoleh dari cara yang haram. Ia tak ingin makanan haram tersebut menjadi bagian tubuhnya, setelah jelas mendengar peringatan Rasulullah, yang intinya “Setiap daging yang ditumbuhkan dari makanan haram, maka api neraka lebih berhak (membakar) atas daging itu..”

Umar muntah karena keimanan dia terhadap islam, bagaimana dengan muntah kita wahai alay alay sedunia..?

***

Loncat lagi keperadaban dimana alay-isme menjadi sebuah style yang wajar bagi seorang remaja menuju tahapan pendewasaan dirinya..

Seorang anak muda itu tidak terlihat seperti ustadz. Pakaiannya bukan baju koko’, peci, baju gamis, bahkan sorban. Dia hanya menggunakan sweater kaos dan celana jeans, ditengah teman nongkrongnya ia membuka sebuah diskusi, “Sebanyak-banyaknya keuntungan materi dunia yang bakal kita peroleh kalau memperolehnya dengan cara riba itu adalah haram. Dan walau seiprit-ipritnya pun harta yang kita konsumsi kalau itu juga harta riba, itu juga haram..!

Umat islam sekarang itu kebanyakan tidak konsisten untuk taat. Kenapa kita jijik dan enggan memakan babi, anjing,dan  juga tai kucing..? karena kita memahami memakan itu tadi adalah haram. Kenapa kita menyumpah benci pada perbuatan zina dan pelacuran..? karena kita telah diterangkan dalam nash nash syara’ kalau itu adalah perbuatan dosa.. Namun kenapa kita tidak jijik terhadap riba sebagaimana kita jijik memakan babi dan anjing..? kenapa kita tidak benci terhadap riba sebagaimana kita melaknat peraktik pelacuran..?!  Bukankah riba dan zina sama-sama dosa besar. Bukankah riba dan babi sama-sama diharamkan dalam Al Qur’an..? (1

Pemuda itu bukan sedang marah, ia hanya menyampaikan secara tegas dan membara. Teman-temannya saat itu pun tidak merasa digurui, karena mereka sadar apa yang disampaikan sahabatnya tersebut hanyalah hal yang jelas dan telah diketahui lama oleh siapa saja yang mengkaji islam.

Pemuda itu berkata seperti itu bukan karena mengawang mencari topik dalam perbincangan, namun ia menyampaikan pada seluruh temannya setelah ia menemukan sebuah hadist dalam sebuah artikel yang dibacanya dan membuat ia merinding.. :

“Riba itu mempunyai 73 macam. Sedangkan (dosa) yang paling ringan (dari macam-macam riba tersebut) adalah seperti seseorang yang menikahi (menzinai) ibu kandungnya sendiri…” (2

Na’udzubillahi mindzalik! []

 

Catatan kaki kaka kukunya kaku kaku :

1)   Coba ingat dalam surah Al Baqarah : 275 ,“Mereka berkata (berpendapat bahwa) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba; padahal Allah telah menghalal­kan jual beli dan telah mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepada mereka larangan tersebut dari Rabbnya lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya (dipungut) pada waktu dulu (se­belum datangnya larang ini) dan urusannya (terserah) Allah. Sedangkan bagi orang-orang yang mengulangi (meng­ambil riba), maka orang-orang tersebut adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”

 

Atau cek perkataan Rasulullah deh, “Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah.” (HR. Ath Thabrani, Al Hakim dari Ibnu Abbas, dalam kitab Fathul Kabir jilid I hal. 132)

Atau Sabda Rasululullah SAW, “Akan datang kepada umat ini suatu masa nanti ketika orang-orang menghalalkan riba dengan alasan: aspek perda­gangan” (HR Ibnu Bathah, dari Al ‘Auzai)

Kalau belum puas ingat peringatan ini deh, “Satu dirham yang diperoleh oleh seseorang dari (perbuatan) riba lebih besar dosanya 36 kali daripadaperbuatan zina di dalam Islam (setelah masuk Islam)” (HR Al Baihaqy, dari Anas bin Malik).

 

Masih belum takut? Lihat nih, “Bila muncul perzinaan dan berbagai jenis dan bentuk riba di suatu kampung, maka benar-benar orang sudah meng­abaikan (tak perduli) sama sekali terhadap siksa dari Allah yang akan menimpa mereka (pada suatu saat nanti)” (HR Thabrani, Al Hakim, dan Ibnu Abbas; Lihat Yusuf An Nabahani, Fath Al Kabir, Jilid I, halaman 132).

Kalau masih belum keder juga, gue turunkan Elias Pical. Gak takut karena Bung Pical udah tua..? bagaimana dengan Tessy Kabul..?! J

2) Hadist Riwayat Ibnu Majah, hadits No.2275; dan Al Hakim, Jilid II halaman 37; dari Ibnu Mas’ud, dengan sanad yang shahih

  1. t be for everyone, the decision quality and reception vary
    should you don. When you’ve insurance coverage on the phone and you make a claim for loss or
    damage, you’ll be sent an upgraded phone in no time.
    Once processed, it can be ready to be watched on your
    i – Phone or shared via email.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: