Hidden Power


Hidden Power

Lama tak bersua. Kemana gerangan POPCORNzine imut-imut yang biasanya nampang di mading, meja, kursi, bahkan dibak sampah kampus dengan judul-judul serampangannya..?

Mati kah ia. Oooh pasti semua yang pernah mengenalnya dan membacanya pasti kan menyanggah tidak. Karena POPCORNzine memang sudah mati sejak ia dilahirkan. Merupakan takdir bagi selebaran butut tersebut menjadi benda mati yang digunakan penulisnya sebagai sarana memuntahkan berbagai pemikiran yang mungkin sesak ia pendam sendiri, yang mungkin akan lebih berwarna dunia baginya kalau ia mampu membagi..

Serorang lelaki tua itu terduduk termenung seorang diri. Pandangan matanya yang kabur diarahkan menghadap cakrawala langit yang kelabu. Ia megidap gundah gulana yang bergejolak, seolah terdapat bom C4 pada dirinya yang kini membunyi melekik tiap detiknya menunggu waktu meledak. Oh.. seandainya ia mampu untuk sebentar membuka laptop dan mengakses internet, maka perasaan yang saat ini tren dikatakan galau itu akan tersampaikan pada dunia.. akan ia kabarkan pada semesta maya,  bahwa sebuah cerita muram mengalun tentang dirinya..

Seperti halnya komedi gue pun muncul tiba-tiba.. tring!

“maaf bung.. bisa duduk disamping Anda..?” sapa gue sopan sambir nyegir kuda.

“Maaf silahkan saja, tapi siapa Anda wahai lelaki tak jelas..?” sambil tetap memandang langit ia membalas sapa.

“Oh panggil aja saya VJ Daniel..”

“Wah siapa VJ Daniel toh mas..?”

“VJ Daniel itu sahabatnya Noam Chomsky, Noam Chomsky itu bukan orang sumedang dan dia juga gak kenal sama Bunda Dorce, Tapi Saya kenal kok siapa Dorce, siapa Noam Chomsky..”

“apa sih…mas ini.. saya ini udah bingung malah ditambah bingung..”

Feeling gue mengatakan bahwa inilah kesempatan! Inilah kesempatan menjadi seorang konsultan gadungan, karena  kata seorang Morce (Dorce gadungan) ‘kesempatan itu tak datang dua kali.. tapi bisa tiga kali, empat kali, dan banyak kali.. namun kalau bisa dikesempatan pertama. Kenapa tidak..? ‘

Gue pun mulai bersungut-sungut. “eeng.. kira-kira apa yang bisa saya bantu yah pak..?”

“Gini mas, saya masih merasa kecewa dan juga bahagia tentang kejadian yang pernah saya lewati beberapa tahun dahulu..” bapak itu memulai kisah, gue pun menyiapkan POPCORN buat kami berdua.

“Loh kejadian apa pak.. kayaknya menarik..?”

“kejadian itu saat saya berumur 16 tahun… [ceritanya tema adegan menjadi hitam putih]

..saat tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakak saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh dari pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Makanya  saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop..”

“Oh bapak ini orangAfrika toh..?”

“Bukan mas saya asli India loh.. jangan ganggu dulu deh.. saya kan masih cerita..

Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantar beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Tentu saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Mengetahui bahwa saya akan berangkat ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang diperlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti nyervis mobil di bengkel.

Pagi itu, sampai di tempat konferensi, ayah berkata, “Tunggulah kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.” Saya segera menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Saat itu, saya benar-benar kagum dengan dua film yang dimainkan oleh John Mayne sehingga lupa waktu. Dan saat saya melihat ke jam, betapa terkejutnya saya karena Begitu melihat jarum jam telah menunjukkan pukul 5.30 sore..!”

“Opp dulu pak.. nih makan POPCORN dulu mumpung masih hangat..” tawar gue.

“Oh iya makasih. Enak yah beli dimana..?”

“Di bioskop yang diceritakan bapak tadi kan.. pas bapak cerita lagi nonton di bioskop saya sempatkan beli POPCORN..”

“Oohh.. pantesan rasanya pernah ngerasain gituh..”

“Eh gimana tadi ceritanya pak..? katanya udah kaget tadi gimana.. terlambat gimana tadi pak..?”

“Oh iya! Gara-gara kamu sih..!

..Saya pun segera berlari menuju bengkel mobil, buru-buru menjemput ayah.  Saat itu hampir pukul 6.

Dengan gelisah ayah menanyai saya, “Kenapa kau terlambat?”

Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton film John wayne sehingga saya menjawab, “Tadi mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”

Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu sebelumnya. Dan, kini ayah tahu kalau saya berbohong.

Ayah pun berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kamu sehingga kamu tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu, dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata.

Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama setengah jam saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau. Melihat penderitaan yang dialami oleh ayah hanya karena  kebohongan bodoh yang saya lakukan, maka Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi.

Seringkali saya merenungi kejadian itu dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya seperti kita menghukum anak-anak kita, apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran? Saya kira tidak. Saya mungkin akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa-kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa-kekerasan” Tutup bapak itu.

Gue pun terperanjat dengan kisah sang bapak tadi. Mukanya yang diawal gue temui tampak muram tampak kusut kini terlihat cerah secerah lampu petromax disiang hari. Gue pikir doi bakalan merentet cerita gerundung masalah, tapi ternyata malah memberikan inspirasi luar biasa.

“Wuih.. bapaknya bapak hebat sekali dalam mendidik bapak ya..?” ucap gue berbelit-belit.

“itulah pelajaran berharga yang diwariskannya ke saya. Sebuah kekuatan tanpa kekerasan..”

“Ngomong-ngomong nama bapak siapa ya..? biar kalo saya masukan ceritanya nanti di POPCORN zine semuanya bisa tau..”

“Idih genit deh nanya-nanya nama saya.. nama saya Dr. Arun Ghandi, cucunya Mahatma Gandhi .”

Tring! Tiba-tiba Dr.Arun Ghandi menghilang dalam sekejap. Kayaknya kembali ke kampung halamannya di India. Ah biarlah.. lagi pula halaman zine ini tak cukup untuk menambah cerita konyol gue dan si Doktor india..

Kekuatan tanpa kekerasan..? Menurut gue itu lebih pada konsep perubahan yang diawali dari menyentuh akal, dan mencolek hati. Memberi pendidikan menawan yang membentuk pola pikir, dan mengelus emosi, tanpa melukai.

Dan jauh sebelum Gandhi’s Family menerapkannya, Sungguh seorang Muhammad saw.telah mengimplementasikan saat diawal dakwah di kota Mekkah.. Tahapan mencerdaskan manusia, melawan kemaksiatan dengan laa madiyah tanpa kekerasan. Yang uniknya justru sikap melawan tanpa kekerasan beliau malah membuahkan kekuatan besar yang mampu menakjubkan dunia dengan mendirikan sebuah Daulah dikota Madinah. Yang berikutnya terangkum dalam rentetan sejarah kekuatan itu mampu mencerahkan dunia dan seisinya dengan sebuah sumber kekuatan taqwa..

Gue jadi ingat sebuah  pepatah unik; “Anda mungkin bisa memaksa menggiring seekor keledai ke pinggir sungai. Namun, percayalah. Anda tidak akan bisa memaksanya untuk minum..”

[Palembang, 14-08-2011]

dari  : http://popcornzine.wordpress.com/2011/08/15/hidden-power-7/

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: