cinta MONYET vs cinta SEJATI


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan seorang teman lama. Teman ketika aku masih bersekolah di MTsN Mulawarman. Kami bertemu di salah satu rumah makan, ketika aku dan keluargaku mau berbuka puasa. Sudah lumayan lama kami tidak berjumpa. Rasanya terakhir kali bertemu saat SMA, kami bertemu di MAN 2 Bjm (dia sekolah disana) waktu itu saya ada acara MD disana.

Tidak banyak berubah tampilan dirinya. Hanya badannya saja yang tambah jangkung. Akhirnya kami ngobrol-ngobrol sebentar. Dari pembicaraan yang singkat itu, bisa ku simpulkan bahwa dia sedang buka puasa bersama dengan teman-temannya dan juga pacarnya. Pacarnya yang juga kalau tidak salah juga teman satu sekolah di MTsN Mulawarman, tapi aku tidak pernah satu kelas dengannya.

Manusia yang satu ini emang aneh. Masih ingat aku ketika Tsanawiyah dulu dia bilang naksir (cinlok) dengan teman se kelasku juga. Dia bilang, si-Do’i adalah wanita paling sempurna yang pernah dia temui (rada gombal memang, dia orangnya terkenal gombal plus lebay). Aku yang masih “jahiliyyah” dulu cumin cengar-cengir mendengar ucapannya.

Beberapa tahun berselang, setelah lulus dari MTs kami berjumpa lagi saat ada acara buka puasa bersama alumnus MTs. Acara buka puasa bersama alumnus MTs pertama dan terakhir bagiku. Karena acaranya kacau balau. Atmosfernya tidak cocok dengan keadaanku yang sekarang. Sejak saat itu aku bertekad tidak akan hadir lagi. Dan terbukti aku hanya sekali itu saja ikut.

Di acar buka puasa tadi, temanku tadi datang bersama “gandengan” baru nya. Yang aku tidak kenal siapa perempuan yang jadi pacarnya itu. Kalau tidak salah dia juga dari MAN 2. Lagi-lagi dia mengucapkan hal yang sama dengan bangga di hadapan aku dan teman-temanku yang lain. “Nih calon bini ku”, kurang lebih begitu lah.

Dan saat bertemu kemarin, ternyata gandengannya beda lagi dengan yang ku ingat waktu di acara buka puasa itu. Dalam hatiku hanya tertawa “dasar playboy cap kadal”. Tiap kali kami bertemu pasti dengan pacar yang berbeda.

Mungkin ini yang namanya cinta MONYET. Cinta yang cuma main-main, cinta semu, cinta yang sebenarnya tidak pernah ada. Kalau kita bicara taksonomi, kalo ada cinta semu atau cinta MONYET biasanya pasti ada cinta SEJATI. Cinta yang dicari dan diharapkan semua insane yang bernyawa, seperti lagu qasidah yang sering kita dengar, “Rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa..syalalala”.

Tapi kali ini aku tidak akan berlebay-lebay ria menjelaskan apa itu CINTA. Tapi cerita di atas hanya sebuah pengantar. Aku Cuma mau menggambarkan bahwa ada yang namanya taksonomi. Pembagian. Ada siang ada malam, ada manis ada pahit, ada suka ada duka, ada semu ada nyata. Kemerdekaan pun seperti itu. Ada kemerdekaan semu alias kemerdekaan MONYET ada kemerdekaan nyata alias kemerdekaan sejati.

Besok katanya sudah 66 tahun Indonesia merdeka. Usia yang kalau kita konversi ke manusia tentu sudah jadi manusia yang dewasa. Manusia yang seharusnya sudah mapan. 66 tahun, benarkah Indonesia sudah merdeka? Pertanyaan sederhana yang tiap tahun selalu menjadi pertanyaan musiman saat bulan Agustus. Dan sebenarnya juga sudah sering dijawab.

Secara fisik memang Indonesia sudah tidak di duduki oleh para penjajah. Secara fisik kemerdekaan Indonesia memang nyata sejak 17 Agustus ‘45. Tapi ternyata dalam aspek  kehidupan kita masih terjajah. Faktanya negeri kita disetir oleh Negara lain, oleh korporasi-korporasi asing, oleh orang-orang pemilik capital. Tak percaya? Tahukah anda bahwa sampai saat ini ada 70 UU lebih yang telah ditelurkan oleh wakil-wakil kita di DPR yang ternyata adalah pesanan asing. Contohnya UU Migas dan penanaman modal. UU yang semuanya tidak berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Yang hasil dari UU itu sudah bisa kita rasakan. Bagi yang tinggal di KalSel pemadaman listrik bergilir masing sering dirasakan, padahal KalSel adalah penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Lain lagi di salah satu provinsi di Indonesia yang di satu daerahnya adalah penghasil aspal terbesar juga di Indonesia, tapi ternyata jalanan kotanya hancur lebur, kalau hari panas debunya minta ampun, kalau lagi musim hujan bisa jadi kolam lumpur. Inilah Indonesia.

66 tahun “merdeka” apa yang dihasilkan oleh Indonesia?3 kali ganti system demokrasi, mulai dari demokrasi terpimpin, demokrasi liberal, sampai ala reformasi sekarang apa yang bisa dibanggakan. Pendidikan mahal, banyak sekolah yang tidak terawatt bahkan hampir rubuh. Anak yang tidak sekolah juga begitu banyak, system ujian nasioanl kalau balau, pendidikan Indonesia pada dasarnya tidak mendidik, tapi hanya memproduksi robot-robot pekerja. Kesehatan, slogan “orang miskin dilarang sakit” masih sangat relevan bagi negeri ini. Fasilitas kesehatan yang memprihatinkan, biaya sekolah kesehatan pun melambung tinggi. Jaminan social kesehatan malah mau diserahkan kepada masyarakat sendiri, Negara mau lepas tangan dari kewajibannya untuk menjamin kesehatan masyarakat melalui UU SJSN dan RUU BPJS. Di bidang ekomoni tidak mau kalah, hutang luar negeri Indonesia bengkak. Sampai-sampai bunga hutangnya saja bisa untuk menghidupi beberapa provinsi. Setengah rakyat Indonesia hidup tepat di garis kemiskinan. Akibatnya kriminalitas pun meningkat. Politik bagaimana? Pemimpin-pemimpin di negeri ini sibuk mengisi perutnya sendiri. menjual asset-aset negerinya sendiri demi mempertebal dompet pribadi. Masyarakat dibodohi oleh politik pencitraan. Budayanya juga terjajah. Anak mudanya dicekoki oleh budaya-budaya asing mulai dari makanan, cara perpakaian, cara bergaul dan segalanya. Inilah Indonesia!

Tapi tenang Indonesia juga punya prestasi-prestasi yang mendunia. Indonesia runner up surga pornografi di dunia setelah Rusia. Salah satu Negara paling korup di dunia. Mulai dari yang triliunan sampai bikin KTP pun ada korupsinya. Indonesia juga telah berhasil mencetak koruptor-koruptor ternama sekaligus mafia-mafia, mulai dari mafia hokum sampai mafia pemilu, mulai dari gayus sampai udin yang korupsi (nazaruddin).

66 tahun merdeka. Ada lagi?

Inikah yang namanya masa kemerdekaan? Hari kemerdekaan yang diperingati setiap tahunnya dengan lomba makan karung balap krupuk sampai panjat pohon pinang(untung ga panjat pohon salak). Walaupun sepertinya tahun ini ritual-ritual tahunan tadi tidak akan kita jumpai.

Mungkin lebih tepatnya inilah kemerdekaan MONYET, kemerdekaan SEMU. Rasanya sudah merdeka padahal secara hakiki TIDAK. Kemerdekaan seharusnya membawa kesejahteraan kepada semua rakyatnya. Kemerdekaan seharusnya menjadikan pemimpin negeri ini menjalankan perintah Tuhannya.

Tak ada kemerdekaan SEJATI tanpa syariat Allah. Tak ada syariat Allah tanpa KHILAFAH. kalau mau merdeka SEJATI ya harus dengan KHILAFAH. KHILAFAH yang akan menggratiskan pendidikan, kesehatan, keamanan. KHILAFAH yang akan menegakkan hokum dengan adil. KHILAFAH yang akan memberikan kesejahteraan kepada warga negaranya, muslim maupun non-muslim.

Mau merdeka tanpa KHILAFAH…?? MIMPI……!!!!!

 

Banjarmasin, 17 Ramadhan 1424 H

16 Agustus 2011

pukul 19.30 WITA

Terinspirasi dari salah satu orator aksi yang dilakukan oleh DPD I HTI KalSel sore tadi. Walaupun sedang puasa tak jadi alasan untuk tidak semangat masyiroh. Rasulullah memenangkan perang besar pertama dalam sejarah umat Islam (perang Badar) juga pada bulan Ramadhan. Karena bulan Ramdhan bulan JIHAD…!!! TAKBIR…!!!!

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: