If This Trip is The Last


oleh Ahmad Adityawarman

Sobat, jika kamu tengah berkendara, memacu sepeda motormu ke sebuah tujuan yang cukup jauh apakah kamu biasa mendengar music favoritmu lewat headset untuk menghilangkan kebosanan? Sering seperti itu? Hmm, saya sendiri cukup sering.

Tentu banyak aktivitas lain yang bisa sambil kita lakukan saat memacu gas motor atau menyetir. Mungkin ada yang sambil berusaha mengingat hapalan kuliah atau al-Qur’an. Ada yang hanya berpikir, mengevaluasi apa saja yang telah dilakukannya hari itu. Ada yang sambil makan cemilan atau minum air kemasan yang ditaroh di kantung bajunya dengan sedotan panjang. Bahkan ada juga yang dengan antusias sibuk menjelajahi lorong hidungnya dengan telunjuk untuk mencari ‘harta karun’ yang masih tersisa. Yang unik, saya pernah dengar ada seorang ustadz yang ketika dibonceng dalam suatu perjalanan, beliau malah ngomong-ngomong sendiri. Kontan sang pembonceng bertanya-tanya, jangan-jangan sang ustadz kerasukan dan perlu diruqyah? Ternyata pas ditanya langsung ke orangnya, ustadz tadi sedang melatih retorika dakwahnya dengan praktek langsung, mumpung ada waktu, meski sedang berkendara, sayang tidak digunakan.

Sobat, kita tak pernah tahu pasti apakah aktivitas yang kita lakukan merupakan yang terakhir yang bisa kita kerjakan atau tidak. Dan berkendara, sepertinya hal yang cukup beresiko mengantarkan kita kepada akhir kehidupan. Maaf, bukan menakuti, tapi buktinya manusia sadar hal itu dan telah berusaha ‘memperkecil resiko kematian’ dengan memakai helm, sabuk pengaman, lampu lalu lintas, dan lainnya. Bukan berarti manusia menolak kematian, tapi itu adalah usaha yang juga diperintahkan oleh Sang Pemilik Kehidupan.

Beberapa minggu ini masih hangat berita tentang ambruknya jembatan Kutai. Waktu itu ada puluhan bahkan mungkin ratusan orang yang berseliweran berkendara di atas jembatan tersebut, dan rasanya tak mungkin ada di antara mereka yang tahu pasti bahwa jembatan terbesar di Kaltim itu akan runtuh begitu saja. Kita tentu turut berduka cita atas apa yang terjadi dan mendoakan yang terbaik untuk para korban.

Nah sobat, saya jadi membayangkan, jika ketika berkendaraan saya asyik mendengarkan music lewat headset dengan volume maksimal, dan lagu yang didengar adalah lagu yang bertemakan maksiat seperti kekasih gelapku atau semacamnya, kemudian jalan yang saya lewati ambruk tiba-tiba dan saya mati, bagaimana jadinya? Apalagi jika saat itu saya sedang bersenandung menghayati lagu tersebut, sehingga kata-kata terakhir yang terucap bukanlah kalimat syahadat, tetapi ‘tinggalkanlah saja pacarmu, lalu bilang i love you’? Na’udzubiLlah ya, sesuatu banget!

Lantas bagaimana juga jika itu terjadi ketika kita membonceng seseorang yang bukan mahram kita? Atau ketika itu kita tengah mengenakan busana yang membiarkan aurat masuk angin, atau sedang masyuk ajep-ajep mendengar house music, atau saat itu kita dalam perjalanan pulang dari berjudi, atau pulang dari aktivitas maksiat lain? Tentu akan menjadi penutup yang buruk di penghujung ‘karir’ kehidupan kita bukan?

Sehebat apapun manusia membangun jembatan, berusaha memperkecil resiko berkendaraan dan usaha lainnya untuk menghindari kematian, tetap saja takkan mampu menahan maut jika Allah sudah menginginkan. Sekitar 1 tahun yang lalu, pesawat Tupolev TU-154 yang ditumpangi seorang kepala Negara polandia terjatuh dan hancur. Padahal coba bayangkan, bagaimana upaya yang biasa dilakukan untuk menjamin keamanan seorang presiden ketika terbang, dan setingkat apa kelas pesawat yang digunakan. Tentu luar biasa. Tapi tak bernilai apa-apa lagi di hadapan kematian.

Rasanya sudah banyak tulisan dan tausiyah yang mengingatkan kita kepada kematian. Dan begitu beragam kejadian di sekitar kita yang berisi pesan ‘woi, lu bisa mati kapan aja’ kepada kita. Maka mengapa kita tak berusaha selalu melakukan hal yang terbaik dalam setiap hembusan nafas yang masih ada?

Hm, sepertinya jauh lebih bermakna jika kita mengisi waktu perjalanan dengan memasang headset dan ikut ‘menyenandungkan’ apa yang kita dengar. Namun yang tertera di playlist MP3 kita bukan lagi ‘Cinta Satu Malam’ atau lagu-lagu jablay lainnya, tetapi : murotal Qur’an.

Kematian memang sesuatu yang menyebalkan bagi sebagian orang. Semoga tidak bagi kita.\

 

-untuk mengingatkan diri sendiri, syukur-syukur yang lain juga ikut teringatkan-

    • ghazia Faeyza
    • Desember 23rd, 2011

    tertohok

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: