KENAPA PETERPAN GA MAU JADI DEWASA?


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Ingat kah anda dengan cerita dongeng, seorang anak yang hidup di dunia, semacam dunia sihir. Anak itu bisa terbang, dan punya kemampuan sihir lainnya. Dia juga mahir memainkan pedang. Musuh bebuyutannya adalah Kapten Hook. Dia lah Peter Pan. Jadi yang jadi awal dari kisah ini bukan grup Band yang vokalis nya sekarang lagi ngaso dan nangkring di dalam tahanan akibat video asusilanya dengan 2 orang artis lainnya. Yang aneh, kenapa cuma yang cowo yang di tahan, tapi lawan main ga di tahan?? Selamat datang di dunia demokrasi, dunia yang tolak ukur baik buruk dan benar salah nya ga jelas. Tapi tulisan kali ini tidak akan menyoroti gemerlap dunia selebritis kaya di acara-acara gossip yang ada di TV. Yang mau kita omongin adalah Peter Pan “yang sesungguhnya”.

Konon katanya, tokoh anak sakti mandraguna yang satu ini dia tidak ingin menjadi orang dewasa. Saya lupa apa alasan pasti kenapa Peter Pan ga mau jadi orang gede (karena udah lama ga’ nonton film nya), tapi yang jelas dia merasa kalau dia jadi orang dewasa bakal membuat dirinya tidak tidak bisa berbuat yang baik-baik lagi. Dia melihat orang dewasa banyak melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Jadi lah dia bertekad untuk tidak mau jadi orang dewasa.

Beberapa hari yang lalu, pada sore hari yang mendung, langit terlihat begitu sedih seakan mau menangis dan menumpahkan air hujan ke bumi (hahay..lebay) aku mau berangkat ke mesjid kampus (sebut saja Al-Baythar) karena ada rapat kordinasi. Setelah sholat ashar di mushalla dekat kost, lalu pulang ke kost buat langsung siap-siap ke TKP. Waktu aku turun dari tangga kost (kost saya di lantai 2, lantai 1 rumah yang mpunya kost) di serambi rumah ibu kost sudah terdengar suara anak-anak yang lagi bermain. Dalam hati ku ini pasti anak ibu kost bersama kawan-kawan. Anak ibu kost ini mungkin sekitar kelas 4 ato 5 SD. Saya kurang tahu, karena juga ga pernah nanya. Sambil menuruni tangga yang sering bikin saya rada pusing (karena tangga nya muter-muter) terdengar percakapan-percakapan khas anak kecil. Dari percakapannya, saya analisis dan akhirnya saya mendapatkan kesimpulan ada 2 kemungkinan aktivitas yang mereka lakukan. Pertama, mereka sedang belajar bersama. Karena masing-masing anak memegang 1 buah buku (kira-kira ada 8-10 anak, sekitar 5 anak lebih perempuan, sisanya laki-laki) dan ada papan tulisya. Kedua, mereka ga bener-bener belajar bersama, tapi cuma bermain belajar-belajaran.

Yang menarik dari cerita ini adalah kalimat dari percakapan anak-anaka ini. Terdengar jelas oleh ku, seorang anak perempuan berucap, “mauk banar buhan lakiannya nih, beparak-parak tarus…!!!”, langsung disambung oleh anak perempuan yang lain, “iih, jangan beparak-parak pang, disana ja nah buhan ikam..!!”. anak laki-laki yang dimaksud hanya nyengar-nyengir sambil mundur teratur menjauh dari kerumunan anak perempuan, karena terlihat dari segi usia lebih muda dari yang lain, mungkin baru kelas 2 ato kelas 3 SD. Mendengar  percakapan mereka, saya juga ikutan nyengir sambil tersenyum, trus langsung ngambil motor dan segera take off ke Al-Baythar. Sambil di jalan, saya terus memikirkan ucapan anak-anak yang masih pada polos-polos tadi. Dan hasil dari apa yang saya pikirkan tadi adalah apa yang sekarang and abaca ini.

Betapa polosnya anak-anak kecil tadi. anak yang sebenarnya hisab amal baik dan buruk, pahala dan dosa belum berlaku bagi mereka.

Apa hikmahnya coba?? Anak-anak tadi bilang dengan polos nya, “jangan beparak-parak pang” (yang ga ngerti bahasa banjar, silahkan kursus dengan orang banjar ye..), padahal mereka sedang belajar ato sedang main “belajar-belajaran”. Anak sekecil itu sebenarnya telah mengingatkan kita bahwa ada batas interaksi antara laki-laki dan perempuan, termasuk dalam masalah pendidikan.

Islam sebagai suatu mabda (alias ideology) yang komprehensip telah mengatur batas-batas interaksi sosial (antara laki-laki dan perempuan). Intinya adalah, interaksi antara keduanya diperbolehkan dalam hal-hal yang sifatnya UMUM, bukan masalah PRIBADI. Apa saja hal-hal yang umum tadi?? yaitu hubungan dalam bidang kesehatan, jual beli (muamalah lain), dan pendidikan. Di luar itu, hubungan antara lawan jenis yang bukan ato “belum” muhrim tidak diperkenankan. Jangan tanya saya kenapa, tapi begitu lah adanya. Allah sangat menyayangi manusia, dan ingin memuliakan manusia dengan aturanNya.

Ternyata masalah yang muncul belakangan tidak sesederhana konsep di atas. Masih banyak “oknum-oknum” yang sebenarnya tahu batasan ini, tapi mencoba untuk “mengakalinya” entah sengaja ato memang ga tahu. Yang paling sering di mahasiswa adalah ATAS NAMA PENDIDIKAN.

ATAS NAMA PENDIDIKAN, lalu mahasiswa dan mahasiswi pada kumpul di satu tempat (biasanya di kost, ato di rumah salah satu dari mereka) belajar sama-sama. Canda dan gurau di antara mereka pun menghiasi interaksi mereka. Tak jarang mereka bahkan saling sentuh-sentuhan (baik sengaja ato tidak). Lalu apa bedanya aktivitas “belajar bersama” dengan IKHTILAT (campur baur antar lawan jenis yang buan muhrim)…?? Padahal Allah telah MELARANG IKHTILAT.

Ada juga yang lain, laki-laki dan perempuan kerja sama dalam melakukan aktivitas yang sifatnya menunjang akademis, tapi yang bikin ga asyik adalah kenapa harus selalu berdua..?? Sehingga sering memunculkan peluang untuk terjadi fitnah. Bukankah fitnah terbesar bagi laki-laki adalah perempuan.

Enak selalu jadi anak-anak adalah anak-anak belum dihisab. Tapi ini adalah dunia nyata. Bukan dunia khayalan cerita Peter Pan. Semua yang kita lakukan akan kembali kepada kita.

Anak kecil aja ga mau deket-deketan walaupun mereka belajar. Masa kita kalah dengan anak kecil…!! Apa kata dunia..?? mau menjawab apa nanti kita kalo di tanya ama malaikat…?

Wallahu ‘alam

Mohon maaf kalo ada kata-kata ato apapun dari catatan ini yang kurang berkenan. Semuanya tidak lain untuk saling mengingatkan. Dan yang paling penting, ini adalah untuk membentengi diri saya pribadi.

Artikel ini juga menjawab, kenapa selama ini saya sangat jarang terlibat kegiatan-kegiatan “belajar bersama” atau “mengerjakan tugas kelompok”. Bukan karena ingin lepas tanggung jawab, tapi dari pengalaman, kalo “belajar bersama” atau “mengerjakan tugas kelompok” di luar kampus pasti bakalan lebih banyak becanda tidak jelasnya. Karenanya saya lebih suka mengerjakan tugas kelompok di kampus ato saya langsung diberi tugas yang harus saya selesaikan, dan saya tinggal ngumpul ke bos kelompok. Jadi harap maklum ye…!!!

Banjarbaru, 4 Desember 2011

Pukul 23.03

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: