Everyday is Motherday


Everyday is Motherday

Entah kenapa beberapa hari yang lalu gue cekikikan sendiri saat tiba-tiba ingat kebandelan zaman SMP dulu. Saat itu gue membuat tulisan tempel yang isinya begini, “Sebod*h-bod*hnya orang terbod*h adalah yang mau sempat-sempatnya baca tulisan ini apalagi pake ketawa-ketawa sendiri!”

Eitss.. tulisan itu bukanlah untuk membuat dikau marah baca artikel ini. Tapi itulah tulisan yang gue bikin saat SMP dulu, dan dengan sengaja menempelkannya di papan tulis belakang kelas –yang niatnya cuman iseng bikin heboh kelas. Ketika ada yang baca, dia pasti awalnya mau tau, terus nyengir, kemudian sewot.. Hehehe entah kenapa gue bisa bahagia saat orang ketipu baca tulisan itu. Standar bahagia yang parah saat remaja. Ckckc..

Namun, apa yang terjadi jamaah sekalian?!!

Ya! Tak lama setelah tulisan itu gue tempelkan, dan memakan korban puluhan ribu orang (lebay..). Tibalah dimana ruangan kelas dimasuki oleh ibu guru pengajar bahasa Indonesia. Ibu guru yang masih gue ingat rupa wajahnya, namun (durhakanya) gue terlupa nama beliau, itu kemudian jalan-jalan keliling kelas sambil ngajar.

Tibalah sampai manuver beliau dibagian belakang kelas. Goncangan jiwa gue semakin berdisko. Degupan jantung mengalir deras, denyut nadi berdegup keras. Tulisan di papan tulis belum gue cabut! Bahaya!.

Dan benar sodari sodari! Benar!  Beliau –yang semoga atas kesabaran dan jasanya mendidik muridnya yang bengal ini dilimpahkan sorga bintang tujuh kepadanya– membaca tulisan gue, dan diam terpaku beberapa saat menatap papan tulis di belakang kelas itu.

Kemudian dengan menahan marah dipucat wajahnya, ibu guru berkata “Siapa yang nulis tulisan ini..?”. Gue gak bisa apapapapapa lagi, kawan-kawan dikelas tertawa dan memandang kearah kegantengan gue. Gue harus pasrah menerima kegantengan ini, dan mengakuinya kepada ibu guru.. “Ulun bu.. (translate : “Saya bu”)”.

Kemudian ibu guru bahasa Indonesia itupun berbicara dalam bahasa Indonesia, (yang rasanya begini), “Orang itu dilihat dari perkataannya dan tulisannya, dia akan menunjukan jati dirinya dari itu..”. Kemudian ia maju kedepan kelas,  melanjutkan pengajaran, dan..Ya gitu aja.

Beliau gak ngelempar gue pake pot bunga. Gak nyuruh gue ngepel lapangan basket. Gak nyuruh gue push up sejuta kali. Walau gue tau tulisan itu pasti menyabik-nyabik harga diri siapapun yang membacanya. Malah gue yang malu, dan kemudian mencabut tulisan itu, dan (rasanya) gak mengulangi itu lagi sampai saat ini.

Kelam.

***

Tiba-tiba seorang ustadz cilik siswa SMP pemenang lomba da’i cilik yang diadakan di kampungnya naik keatas podium menyampaikan tausiahnya ;

“Hadirin rahimakumullah.. Setiap manusia pasti memiliki potensi hebat dan kreatif, tinggal bagaimana dia menyuguhkannya dalam bentuk seperti apa. Seperti cerita anak berandalan diatas yang tidak patut dicontoh itu, menunjukan kepada kita semua bahwa potensi kreatif, ide kreatif dan kecerdasan nya membuat untaian kata yang anugerahkan dari Alloh kepada dia, malah digunakan dalam aktivitas yang negatif dan sia-sia..

Yah.. banyak sekali sebenarnya kasus-kasus lainnya yang sering kita dengar selama ini. Para maling laptop di kampus kakak saya yang menggunakan modus sholat di mesjid yang begitu tak terkira, kasus pembobol ATM yang dengan inteleknya mengandalkan kemajuan teknologi, teknik penipuan menggunakan hipnotis, sampai cybercrime yang dilakukan cracker (Black Hacker) di dunia internet.. MasyaAlloh.. sungguh sangat banyak sekali..!

Ada persamaan diantara kasus itu semua. Yaitu potensi, kemampuan, kreatifitas berusaha yang seharusnya bisa digunakan untuk menunjang berbuat kebaikan malah di salah gunakan untuk bermaksiat, melakukan kejahatan..

Mengapa? Oh mengapa tidak malah digunakan untuk melipat gandakan pahala, atau melancarkan datangnya rezeki secara halal?!

Namun pertanyaan lainnya, mengapa? Oh mengapa si Akbar ini malah bikin tulisan mengenai guru di momen hari ibu..? Bukankah hari ini tanggal 22 desember merupakan hari ibu?

“Kenapa dek ustadz..?” seorang penonton nyeletuk.

Mau tau jawabanya? Mau tau? Mau tau? Mau tau?

Kita lanjutkan di paragraf bawah berikut ini..”

***

Episode lainnya gue ingat disaat momen masih SMP kelas tiga beberapa juta detik sebelum UAN diadakan, dimana gemuruh jantung siswa-siswa kelas tiga saat itu seperti degup jantung syahrini saat menyambut David Beckham yang tiba di Indonesia.

Disaat mata pelajaran Agama Islam, Pak Ardi (Alhamdulillah ingat namanya), seorang guru yang gue kagumi karena kebijaksanaan dan ketegasannya menyampaikan sesuatu di kelas. Beliau menyampaikan kalau ingin dimudahkan melalui permasalahan (UAN) salah satu caranya ialah meminta ridha orangtua kita. Termasuk guru kita, dan doakan mereka, juga minta maaflah kepada mereka.

Saat itu sekali lagi gue merasa ditonjok tepat di dada, menohok. Selama itu kerjaan gue dan kawan-kawan adalah suka nyambatin guru-guru, suka tidak sopan, dan suka ngumpat cekikikan bikin cerita-cerita buruk guru-guru di sekolah. Saat itulah dengan waktu yang tersisa gue rubah tingkah laku terhadap para guru, gak lagi ngumpat, meminta maaf dan ridha kepada satu-satu guru, dan juga gak lupa  mendoakan disetiap kesempatan. Alhamdulillah saat UAN, diberikan keringanan sama Allah dan hasil yang memuaskan.

Sesuatu banged..

Kenapa ditulisan ini gue jadi ingat ibu-bapak guru saat SMP dulu, gue juga gak tau. Tulisan ini mengalir begitu saja. Paling tidak gue cuman ingin mengingatkan tidak harus di hari guru lah kita mengenang jasa-jasa guru kita. Dan juga, tidak harus di hari ini saja (hari ibu) kita mengenang jasa ibu kita. Karena seharusnya itu dilakukan setiap hari, setiap saat kita mengingat mengenang dan berusaha menyenangkan guru dan ibu kita. Sebagaimana mereka memberikan pengajaran setiap harinya tanpa lelah dan tanpa benci (walau kadang kita berikan perlakukan yang menyakiti hati mereka) dan tanpa menagih balasan, ikhlas untuk kita.

Sangat kurang ajar kita, kalau memfokuskan dengan cukup satu hari saja memberikan waktu untuk momen kasih sayang kepada ibu, sedangkan sang ibu menyayangi anaknya sepanjang waktu sepanjang detik, setiap mikro detik..

Sangat durhakanya kita, saat Rasulullah saja mengatakan bahwa surga berada ditelapak kaki ibu, namun kita masih suka melawan berbagai perintahnya, nasihatnya -yang sebenarnya untuk kebaikan kita..

Sangat tidak pantasnya kita, melawan dan menyanggah ibu padahal berabad-abad yang lalu Yang Mulia Muhammad saw. telah memperingatkan kalau mengatakan “Ah..!” saja sudah merupakan dosa terhadap ibu kita..

Sangat memalukannya kita, kalau hanya menjadikan satu hari dalam satu tahun sebagai hari ibu sedangkan, saat ditanyakan siapakah sosok yang harus dihormati didunia ini, Rasulullah sampai mengatakan berkali kali untuk menjawabnya : ibundamu, ibundamu, ibundamu..

Maka.., luapkanlah haru pada ibunda. Sampaikanlah terimakasih atas hari-harinya yang berat untuk membesarkan dan merawat kita, berikanlah persembahan terbaik -untuk paling tidak menyenangkan hatinya, karena kita yakin takkan mampu sampai kapanpun membalaskan keseluruhan jasanya pada kita..

Dan jangan pernah tertinggal dalam kesempatan do’a untuk menyembut nama ibunda, memohon kepada Sang Kuasa memberikan segala kebaikan kepada ia..

Sebagaimana doa yang diajarkan oleh ibu sewaktu kecil, gue akan selalu menyertakan doa yang pernah diajarkan beliau tersebut,

Allaahummaghfir lii wa liwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaanii shaghiiraa..” (Ya Allah ampunilah dosa aku dan kedua orangtua ku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil..)

Amin.

(15.46 wita, Selesai aat adzan ashar di hari ibu 22-12-2011)

  1. Tulisan yang cukup menggugah. Syukran.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: