Dari Polandia-Ukraina Mari Beranjak ke Rohingya


oleh Ahmad Adityawarman

Tak bisa dipungkiri, saya memang menyukai sepakbola. Entah apa, mengapa dan bagaimana awalnya saya sudah lupa. Dulu waktu kelas 4 atau 5 SD kami sudah sering bermain tebak-tebakkan berkenaan klub sepakbola, mulai dari Perugia di Liga Italia sampai Kaiserslautern di Liga Jerman. Saya juga takkan lupa, ketika pada dini hari memanjat dinding pembatas belakang rumah untuk masuk ke rumah tetangga sekaligus sahabat bernama Sabda, untuk menyaksikan bersama duel tim besar dunia.

Ada masa dimana saya menikmati pembicaraan hangat mengenai skor pertandingan, prediksi kemenangan tim yang bakal bermain, nilai transfer atlet dan lain-lain. Saya pernah menikmati ketika tim yang saya jagokan menang, saya pun sedikit sesumbar dihadapan teman-teman. Begitupun ketika SMP saat ikut-ikutan bermain bola plastik di jam pelajaran olahraga, meski dilarang oleh guru dan bahkan sampai bola plastik tersebut dibelah dua.

Minat yang cukup kuat mendorong saya untuk bergabung di ekskul sepak bola di SMA. Hampir tiap minggu biasanya saya ikut latihan di lapangan bola beneran dengan bola beneran. Rasanya beda! Saya dengan potongan agak gundul itu sudah berasa seperti Zinedine Zidane. Selanjutnya saya pun ikut pada satu-dua perlombaan futsal. Dengan semangat kapten Tsubasa, kami berupaya main sepenuh hati. Dan hasilnya pun bisa ditebak. Ya, tak pernah perlombaan yang timnya saya ikuti, menang.

Meskipun mungkin tak berbakat, saya tetap menyenanginya. Mungkin inilah yang dinamakan hobi. Ia bukan kebutuhan yang harus terus dipenuhi, tapi bila ada waktu luang saya berusaha menyempatkan diri jika teman-teman mengajak bermain futsal. Lagipula olahraga itu penting. Bukankah Allah lebih menyukai muslim yang kuat dibanding yang lemah? Futsal ataupun sepak bola sepertinya sarana cukup bagus untuk maksud tersebut.

Namun kita adalah manusia yang seringkali dihadapkan pilihan-pilihan dalam hidup kita. Lebih pada itu, kita adalah muslim yang tujuan hidupnya tak lain adalah mengabdi kepada-Nya. Maka selalu ada prioritas dalam hidup, bagi kita sebagai manusia yang ingin mendapatkan sebuah pencapaian, juga sebagai konsekuensi iman.

Saat ini kebanyakan manusia terlarut dalam euphoria perhelatan sepakbola akbar di Eropa, Polandia-Ukraina. Mungkin milyaran perhatian tertuju pada belasan tim yang tengah bertanding memperebutkan title terbaik di benua biru. Termasuk di Indonesia. Ditambah media mainstream yang begitu luar biasa mengemasnya, euro 2012 menjadi trending topic di perkantoran, sekolah-sekolah, kampus hingga warung kopi pinggiran tempat kumpul para buruh dan pekerja.

Namun apakah kita tahu, di saat yang sama, telah terjadi tragedy kemanusiaan yang sangat mengenaskan? Mungkin tak banyak di antara kita yang tahu, dan semoga saja bukan karena tak mau tahu, hingga saat ini rezim Bashar Assad terus melakukan pembantaian kepada rakyatnya yang muslim. Sampai sekarang jumlah yang tewas hampir mencapai angka 15.000. Tak tahu apakah Bashar Assad dan kronco-kronconya itu masih layak digolongkan ke dalam spesies yang sama dengan kita. Sebab bila kamu coba buka situs berita yang memuat foto-foto dan video pembantaian rakyat sipil oleh tentara Suriah, mungkin jika tak mampu mengontrol diri bukan istighfar lagi yang terucap, namun makian terkasar bisa meluncur tanpa sadar.

Di Myanmar, kaum muslim Rohingya tengah mengalami masa-masa yang tak kalah sulit. Mereka difitnah dan dibunuh, ribuan lainnya terlunta-lunta dalam pengungsian. Muslimahnya diperkosa, rumah-rumah mereka di Arakan dibakar, ada yang mengungsi ke negeri tetangga tetapi malah diusir. Dan sampai saat ini kejadian tak jauh beda masih terjadi di Jalur Gaza, Pakistan dan lainnya.

Sobat, saya tak ingin langsung mengatakan bahwa banyak di antara kita yang terjebak. Tapi memang betul bahwa ini adalah jebakan. Ya, jebakan yang kemungkinan besar dipasang oleh kaum kuffar. Yang tak rela Islam kembali menjadi mercusuar dunia. Dan yang takkan pernah rela hingga kaum muslim mengikuti mereka bahkan sampai masuk ke lubang biawak sekalipun. Maka dialihkanlah perhatian kita, para pemuda yang dalam masa emas ini, ke suatu hal yang tak berguna. Lalu apatislah kita, tak sadar lagi bahwa sedang dijajah dengan softpower dan muslim di belahan dunia lain dihabisi populasinya.

Maka saudaraku, jika hiburan telah melalaikan kita dari prioritas seharusnya, bila perhatian kita lebih banyak tercurah demi menyaksikan atraksi pemain idola daripada prihatin terhadap nasib saudara kita, jelas ada sesuatu yang salah. Bahkan sangat salah. Apalagi ketika kita jauh lebih kesal ketika tim yang kita jagokan tersingkir, ketimbang melihat foto seorang anak yang wajahnya dikuliti hidup-hidup oleh kaum kafir.

Apa yang bisa kita lakukan? Tak banyak saudaraku, dan sungguh itu mengesalkan. Bahkan kepala negara kita, kaum muslim lain begitu juga, takkan mau mengirimkan tentara-tentara yang gagah perkasa berikut amunisi untuk menolong mereka. Bagaimana dengan dunia internasional? Kurang lebih saja!

Yang kita bisa lakukan adalah mendoakan mereka. Di setiap akhir shalat kita, dan kapan saja di kala yang ampuh untuk berdoa. Bangunlah di sepertiga malam terakhir saudaraku, panjatkan kepada Allah SWT permintaan kita. Untuk memberikan pertolongan, keteguhan, kesabaran kepada mereka. Agar Dia menjadikan mereka yang tewas sebagai syuhada, agar Dia memaafkan segala kebodohan kita karena lalai dan tak mampu banyak berbuat apa-apa.

Mintalah kepada Allah yang maha perkasa, untuk memberikan kita keberanian. Ya, keberanian untuk mengumpulkan pundi-pundi kekuatan, untuk mengusahakan persatuan dan menyongsong janji kebangkitan. Supaya tak lagi kita hina, tak lagi dipandang sebelah mata dan diinjak-injak begitu saja. Kemudian mari bergabung ke dalam barisan pembebasan. Mari bergerak. Itupun adalah salah satu usaha. Demi terwujudnya rahmat untuk sekalian alam.

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaih dari al-Nu’man bin Basyir)

WaLlahu a’lam bis shawb.

Bahan bacaan:

http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3465-aturan-islam-dalam-olahraga-sepakbola.html

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/07/13/124469-ada-konspirasi-zionis-di-balik-piala-dunia-benarkah-1-

http://syabab.com/akhbar/ummah/2627-rezim-bashar-al-assad-bantai-anak-anak-dan-warga-di-haula-homs-sampai-kapan-umat-diam-fv.html

http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/06/22/m60ohi-derita-pengungsi-muslim-rohingya

http://arrahmah.com/read/2012/06/23/21150-sejumlah-foto-bukti-kekerasan-di-arakan-para-korban-dan-pengungsi-muslim-rohingya-bagian-2.html

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: