Makanlah Upil Jika Wajib


oleh Akbar K Laksana

Ah.. entah sudah berapa lama saya tidak menulis apalagi mengedarkan selebaran seperti dahulu kala. Ya dahulu kala, namun bukan dahulu banged. Karena kalau dahulu banged saya rasa sayapun belum lahir. Tapi bisa pula yang dimaksud dahulu banged bagi kamu adalah dahulu dalam rentang waktu sepuluh tahun. Atau dahulu banged bagi dia dalam rentang dua puluh tahun. Kalaupun memang yang dimaksud dahulu banged adalah seperti yang kamu dan dia maksud. Tentulah saya telah lahir. Namun dahulu ternyata relatif. Dan terserah sajalah mau pakai yang mana. Gak usah dibahas panjang lebar kali ini. Ok

Ya jadinya gara-gara siangan tadilah. Saat berkendara sendirian yang membosankan menuju Banjarmasin.. Mengapa membosankan? Karena dari Banjarbaru, menuju Banjarmasin hanya ditempuh dengan bekendara dengan jalur lurus lurus saja. Palingan hanya sedikitan beloknya. Itupun kalau ketemu bundaran simpang empat diperjalanan. Lantas kenapa jalan menuju Banjarmasin dari banjarbaru hanya lurus? Tidaklah juga kita bahas disini. Cukuplah itu menjadi teka-teki yang tak terpecahkan. Mungkin itu disengajakan nenek moyang kita dulu agar cucunya bertanya-tanya seperti diparagraf tulisan ini.(1) 

 Jadi siangan itu tiba-tiba saya kangen dengan menulis. Saya kangen berhadapan dengan laptop, sambil mengawang-ngawang memikirkan apa yang hendak dicurahkan. Kemudian jari menari menjitak-jitak lembut keyboard hingga tersusun rapi barisan kata yang bisa ditafsir oleh sebangsa manusia. Saya kangen garuk-garuk kepala saat stuck bingung apalagi yang mau dicurahkan untuk menjadi serangkaian tulisan. Seperti saat ini, saya bingung sebenarnya mau tulis apaan agar kali ini juga bisa menjadi tulisan. Namun lebihnya, kali ini saya tidak hanya garuk-garuk kepala, tapi juga ditambah ngupil dan sesekali garuk-garuk pantat. Oh mungkin karena lupa mandi lagi.

Aha! Saya ingat.

Saya ingat beberapa milyar detik yang lalu saya pernah bertanya kepada seseorang teman yang kuliah di program studi kedokteran. Tak usahlah saya ceritakan kalau namannya Fajar. Soalnya kalau saya ceritakan nanti dia malah akan meneror saya. Dituduh mencemarkan nama baik katanya. Jadi saya nanya sama fajar, yang ternyata membuat dia tersentak. “Jar.. apa hukumnya makan upil?”

 Tidak hanya itu, sebelum dijawab saya tambah pertanyaannya karena tanya sekali gratis dua pertanyaan. “Apa hukumnya makan upil, termakan upil, dan memakankan upil..???”

 Harapannya karena dia mahasiswa kedokteran seharusnya paling tau kalau ditanya mengenai organ tubuh manusia. Walau itu hanya organ tubuh kasta sudra sederajat upil. Sayangnya fajar bukannya segera menjawab ia malah tertawa. Mengapa? Saya juga tidak tahu. Mungkin karena muka saya lucu kalau sedang serius.

“Ayo..! apa hukumnya..?”

 “Ngg… apa?! Upilkan najis.. tapi..” Fajar terhenti bingung , mungkin bisa jadi dia sudah terlanjur lebih dahulu menjadikan upil sebagi pengganti abon sapi. Dan itu membuatnya berat untuk menyampaikan yang haq.

“Ayo.. cari hukum perbuatannya. Haramkah, makruhkah, mubahkah, atau sunnah kah?” Tapi saya pikir ini bukan sunnah, soalnya kalau sunnah oh begitu menganehkannya.

“Ya harus ditelusuri dulu tuh..!” Kata kawan saya yang namanya Fajar dan awalnya tidak mau saya kasih tahu tadi.

“Yap harus dicari tau, nanti gimana seandainya ada anak TK menanyakan hukum tersebut sedangkan kita tidak tau?? Hancurlah kekaguman anak TK terhadap dikau jar.. Walaupun sebelumnya mungkin dikau telah hebat menjelaskan hukum islam potong tangan, telah retoris memaparkan hukum rajamnya penzina, telah runut menjelaskan betapa jijiknya memakan riba, telah bombastis menjelaskannya fardhu kifayah-nya daulah khilafah..”

  “Haha.. iya juga..” Jawab beberapa teman lainnya di waktu yang berbeda dengan pertanyaan yang sama ditanyakan ke Fajar.

Mungkin kamu menganggap saya iseng atau kurang kerjaan. Tapi tahukah pertanyaan tadi bukan tanpa sebab musabab. Tapi setelah menbrowsing di internet, banyak terdapat berita bahwa upil itu dianjurkan untuk dimakan. Sehat kata sebuah teori.

Ya. Adalah seorang dokter spesialis paru-paru dari Austria, Prof. Dr. Friederich Bischinger menyarankan untuk makan upil kita sediri, karena diklaim bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Prof Bischinger mengatakan, “ Makan upil kering adalah cara yang bagus untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh. Secara medis itu masuk akal dan hal yang wajar untuk dilakukan. Dalam sistem kekebalan, hidung adalah filter yang menyaring banyak bakteri menjadi satu dan ketika campuran ini tiba diusus akan bekerja seperti obat.”

  Oooo… kata saya setelah membaca pemaparan itu dengan takjub. Jadi..jadi..ja..dii.. yang selama ini kita buang-buang itu adalah obat!. Betapa mubazirnya kita kalau begitu. Asik sekali jika kita menjadikan upil kering yang mirip udang papai sebagi pengganti abon sapi sebagai lauk makan nasi. Kemudia apa yang saya lakukan setelah membaca itu artikel? Ya pasti kamu sudah bisa menebak. Saya mengupil dan kemudian……… Oh tak usahlah saya ceritakan disini..!

Karena itu rahasia pribadi. Lagipula kalau saya ceritakan nanti malahan menyebar kemana-mana. Ke tetangga-tetangga, kekomplek-komplek sebelah, hingga sampai berkilo-kilo jauhnya, sampai-sampai bisa jadi nanti cerita pokoknya terlah berubah. Kacau pula kalau ceritanya bakalan berubah jadi saya memperkosa kambing tetangga..

Pokoknya cukup satu klarifikasi deh. Saya meragukan teori tersebut. Dan sumpah belum pernah saya seumur hidup seganteng ini dengan sengaja memakan upil. Apalagi menikmatinya.

Ketika pertanyaan ini saya umbar lagi di twitter, ternyata lumayan banyak mendapatkan respon. Entahlah, mungkin kawan-kawan saya ditwitter itu tipe orang-orang yang memang memiliki mimpi dan yang bangga  menjadi orang sukses yang bisa makan dari karya kerja keras sendiri. Tapi begitu konyolnya kalau karya kerja keras itu adalah sebuah, eh sebutir, eh seonggok.. eh apa yang pasnya ya? Ya pokoknya upil lah..! Walaupun dalam mengoreknya kadang diperlukan kerja keras dan kesabaran,.. please deh. Mendingan ngisep kuaci dari pada makan upil. Toh sama-sama asin.. (Loh kok tau upil rasanya asin??)

Ya jadi macam-macam responnya saat saya nyeletuk tentang makan upil tadi ditwitter. Biasalah namanya mereka juga manusia. Jadi saya kalem saja. Gak sampai panik.

Ada seorang kawan yang bertanya, “Emang ada hukumnya gitu makan upil..?”

 “Eh iya dong, kan setiap perbuatan kita sebagai manusia selalu ada hukumnya..”

 “Bahkan untuk makan upilpun..?”

 “Yoa! kan hukum asal perbuatan manusia terikat dengan hukum syara’.. jadi kita mesti cari hukumnya dulu sebelum mengerjakan sesuatu apapun itu.” 

 Hukum syariat yang lima itu yang jadi pedoman untuk menentukan hukum sebuah perbuatan. Apakah perbuatan itu termasuk wajibkah, sunnahkah, mubahkah, makruhkah, atau haramkah.. Islam itu lengkap.(2) Dari mulai urusan masuk WC sampai sistem ekonomi ada didalam islam, mulai dari urusan kaderisasi malam pertama dua insan sampai urusan tata Negara, mulai dari urusan bersin hachie-hachiee.. sampai gimana mengelola sumber daya alam. Begitu pula urusan makan, termakan, memakankan upil juga pasti ada didalam islam.

Tinggal saya, kamu, dan dia kalau diringkas jadi kita, yang mesti mencari tahu apa hukum perbuatan tersebut. Kalau mencari sendiri bisa dengan cara berijtihad. Kalau gak mampu berijtihad bisa bertaqlid (mengikuti) mujtahid yang telah mengijtihad hukum tersebut. Dengan begitu kitapun bisa menjelaskan apa hukumnya kentut. Karena kentut dibeda momen bedapula hukumnya. Kalau kentut saat sholat, dan kentut saat manjat tebing aja ternyata berbeda. Apalagi  hukum poligami, poliandri, dan polipantai masing-masing bisa dijelaskan dengan hokum syariat islam.

Jadi kalau hukumnya sudah ditemukan, maka mudahlah kita berkspresi terhadap perbuatan tersebut. Kalau ternyata hukum sholat subuh itu wajib, maka mengerjakannya mendapat pahala dan meninggalkannya mendapatkan pula dosa. Maka berbahagialah saat sholat subuh.  Sedangkan ketika kita tahu haramnya mencoret muka teman.. mencoret dengan silet maksudnya. Tentu dikerjakan akan berdosa, maka takutlah kita akan dosa. Bukan pada muka teman kita.

Begitupula kalau makan upil nanti setelah digali ditemukan hukumnya adalah wajib.. Maka makanlah upil dengan riang gembira.(3) Toh setiap kali memakannya berbuah pahala. Namun makan upil belum tentu wajib. Dan sayapun belum mengetahuinya secara pasti bagaimana hukum makan upil, jika untuk obat, jika untuk mengenyangkan perut, atau jika untuk camilan. Bagaimana hukumnya memakankan upil kepada kawan, bagaimana hukumnya termakan upil gajah misalnya saat kita sedang mangap kemudian gajah bersin dan upilnya sampai kemulut kita..

Maka mari bersama-sama mencari tahu nasib upil dan yang lain-lain sebelum saya bikin tulisan seperti ini lagi.(4) Tentu kamu jijik kan..? Kalau tidak jijik ya Alhamdulillah deh.. 

  

(Banjarbaru, 27 Oktober 2012)

 

Catatan Jempol :

  1. Ciyuus miapahh..?!
  2. Jelas ustadz saya islam itu datang membawa seperangkat hukum yang konfrehensif untuk menjawab setiap persoalan yang terjadi pada manusia, apapun, kapanpun dan dimanapun itu. (Al Maidah ayat 3, An Nahl ayat 89)
  3. Ketika hokum syara’ menunjukan sebuah perbuatan adalah wajib. Maka seorang hamba harus yakin bahwa pasti ada mashalat dibalik Allah mewajibkan sebuah perbuatan. Begitupula pasti ada mudharat dibalik dilarangnya sebuah perbuatan. Walau kadang presepsi kita merasa berat dan kebanyakan orang tidak suka. Contohnya penggorokan sapi qurban yang dianggap kaum vegetarian tidak manusiawi, eh.. tidak hewani karena terlihat barbar sekali, sedangkan orang barat sudah menggunakan teknik pemotongan Captive Blot Pistol yang lebih elegan. Namun akhirnya terbuktikan, daging sapi yang sehat ternyata hanya bisa didapatkan dari penggorokan leher hewan qurban. Sedangkan dengan cara pemingsanan ala barat tersebut malah dihasilkan daging yang penuh antrax.

Saya menggunakan contoh extreme (Makanlah upil kalau wajib) begini untuk menjelaskan bahwa manusia tidak layak membenci sebuah hukum apabila memang mutlak adanya. Walaupun itu seperti memakan upil. Kalaupun ingin menndalami lebih lanjut silahkan berijtihad, yang tentunya dengan ijtihad yang benar.

Dan saya jadi ingat status facebook Si Doni yang –kurang lebih- katanya “Seandainya jilbab itu diwajibkan bagi laki-laki maka saya (Si Doni) bakalan siap memakainya dengan penuh ketaatan..” Kereenn..! tapi mungkin dibalik sami’na wa ata’na-nya Doni ada keinginan terpendam yang dari dulu memang ingin ia lakukukan kali ya.. ? 😀

Kebanyakan orang sekarangpun masih memilih-milih hukum islam sesuai dengan yang disukainya saja, kemudian membuang yang tidak ia suka. Contohnya didalam surah Al Baqarah ada seruan wajibnya puasa (ayat 183), yang padahal di surah yang sama ada seruan wajibnya qishas (ayat 178). Namun sekarang qishas tidak dijalanni bahkan seolah-olah hukumnya mubah.

4. Tulisan ini sengaja memang tidak menjelaskan apa dan bagaimana hukum makan upil. Karena kalau menjelaskan itu mesti runut dan dengan dalil yang mendukung, dan saya sendiri pun belum bisa menjelaskan secara runut dan jelas. Maka silahkan deh kalau aja ada yang sudi mencarikan/membuatkan penjelasannya.. Kalau kamu gak puas dengan tulisan saya. Biarin, karena saya memang bukan mamalia yang hidup dilaut. (Itumah paus! Bukan puas..!)

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: