Manajemen Dakwah


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Gambar

Sering ketika kita melaksanakan suatu agenda dakwah, sebut saja sebuah training. Tapi ternyata, hasil dari training tersebut tidak sesuai harapan kita. Entah karena acara berjalan tidak sesuai scenario, sampai peserta yang hadir minim (mungkin ini yang paling sering). Lalu diadakan lah rapat evaluasi. Setelah evaluasi di sana sini, cap cip cus, cup cup waw waw, dst, diakhir evaluasi biasanya selalu ada kata-kata “pamungkas pelipur lara” bagi para panitia. “Yang penting upaya yang kita lakukan sudah optimal. Allah menilai kita bukan dari hasil yang kita dapatkan, tapi dari proses yang kita jalani.” Setelah mendengar kata-kata seperti ini, biasanya semangat mulai berkobar kembali, beban stress dan rasa bersalah serasa rontok dari otak ini.

Tapi entah kenapa otak ku serasa sangat usil kali ini. Mencoba berfikir dari sisi berbeda dan melihat dari sisi yang lain. Mencoba memutar balikkan logika.

Seandainya agenda dakwah yang kita laksanakan berjalan dengan lancar, acara sip, peserta sesuai target, tapi ternyata upaya yang kita lakukan untuk menuju acara tersebut terkesan sembrono, asal-asalan, dan ala kadarnya. Entah planning nya yang sebenarnya tidak matang, organizing yang tidak beres, action nya “galai”, atau controlling nya ga jalan. Lantas apakah acara yang sukses dari segi hasil ini lebih bernilai di hadapan Allah jika dibandingkan dengan acara yang hasilnya kurang maksimal tadi??

Wallahu ‘alam

Sudah jadi pemahaman kita bersama bahwa benar, Allah menilai kita dari usaha yang kita lakukan dan proses yang kita jalani. Perkara hasil itu ada di “zona yang menguasai kita”. Zona yang kita tak punya andil untuk menentukannya. Zona yang merupakan hak preogatif (bener ya tulisannya?) Allah. Mutlak Allah yang menentukan.

Yang menjadi kavlingan kita adanya di “zona yang kita kuasai”. Inilah zona ikhtiar. Zona yang Allah nilai, zona yang bernilai dosa atau pahala. Seberapa besar dosa dan pahala yang kita peroleh juga tergantung dari apa yang kita perbuat di zona ini. Sehingga logikanya, pasti kita akan lebih mengkhawatirkan proses dibandingkan hasilnya nanti

***

Sering mungkin rasakan, agenda-agenda dakwah yang kita laksanakan, training-training yang kita selenggarakan, persiapannya sangat jauh dari yang seharusnya. Manajemennya mengecewakan, atau waktunya terlalu mepet, dll. Mungkin perlu kita renungkan bersama kembali, akan maksimal kah Allah mengganjar ikhtiar kita nanti? Bukan kah yang kita cari dari dakwah ini pahala dan ridho-Nya? Wallahu ‘alam.

Memang benar, jika Allah memberi pertolongan, semuanya tidak ada yang mustahil. Walaupun dengan waktu yang mepet dan persiapan yang minim, jika Allah berkehendak acara tersebut sukses, pasti acara tersebut sukses. Tidak ada yang meragukan hal itu. Tapi jangan lupa, Allah meminta kita untuk berusaha menyempurnakan kaidah kausalitas, hukum sebab akibatnya. Kaidah kausalitasnya adalah, acaranya sukses kalau di manajemen dengan baik. Mulai dari planning, organizing, action, sampai controlling nya. Inilah “zona yang kita kuasai”. Dan logikanya inilah yang menjadi focus perhatian kita.

Walau tak bisa di pungkiri, kadang ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat kita memang terpaksa untuk tidak bisa optimal dalam manajemen dakwah ini. Tapi saya rasa itu jarang terjadi. Semuanya bisa kita persiapkan. Kita bisa buat kalender kegiatan per bulan, per enam bulan, per tahun, dst. Sehingga kita punya acuan untuk mempersiapkan suatu agenda dakwah. Oh sudah dekat dengan moment tertentu, satu atau dua bulan sebelumnya sudah bisa kita rencanakan teknis acanya. Kapan rapat, kapan bikin konsep acara,kapan promosi, kapan pendaftaran, kapan nyari perlengkapan sampai bagaimana follow up nya nanti bisa kita persiapkan dengan matang. Semuanya jadi lebih teraur dan terencana. Harapan kita, dengan begini acara kita sukses, dan Allah akan memberikan ganjaran yang sesuai dengan upaya kita.

***

Sekedar untuk introspeksi diri sendiri. Semoga bermanfaat untuk kesuksesan dakwah ini.

***

Setiap orang mungkin punya cara uniknya masing-masing untuk melepaskan kejenuhan dan “kepusangannya.” Cara ku dengan jalan-jalan ga jelas seorang diri. Menaiki kuda besi bermerk “Jupiter Z” (nyebut merk nih ye), keliling kota, walau kesannya hanya menghabiskan bensin tanpa tujuan yang jelas. Tapi bagiku, ini lumayan berhasil mengurangi segala “kepusangan” yang ada dan sering memberikan inspirasi-inspirasi tak terduga. Kalau di tanya kapan punya kebiasaan ga jelas seperti ini? Jawabnya adalah sejak aku kuliah di Banjarbaru. Dulu sering “fugu” sampai ke martapura,,hehe

Inspirasi tulisan kali ini ku dapatkan ketika sedang ga jelas, jalan-jalan ke rumah sohib yang baru aja nikah. Ya siapa tahu aja bisa minta wejangan-wejangan nya..hahay

Banjarmasin, 20 Juni 2013

Selesai Pukul 22.56 WITA

Mungkin hampir satu tahun tak menulis, tergesa-gesa menulisnya karena baterai laptop mau habis, dan charger ketinggalan di ruang DM Forensik,,,wkwkwk

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: