Aqabah Menyejarah


Oleh Muhammad F Romadhoni “Dhoni D’Kashinoda”

“Siapakah kalian ini?” tanya Rasul setelah saling bertatap muka.

“Kami orang-orang dari Khazraj,” jawab mereka.pedang

“Sekutu orang-orang Yahudi?” tanya Rasul.

“Benar,”

“Maukah kalian duduk-duduk agar bisa berbincang-bincang dengan kalian?”

“Baiklah.”

Sehingga terdapat tujuh orang dalam perbincangan tersebut termasuk Rasulullah di Aqabah, Mina. Diantaranya ada As’ad bin Zurarah, Auf bin Al Harits, Rafi’ bin Malik, Quthbah bin Amir, Uqbah bin Amir, Jabir bin Abdullah. Mereka menikmati perbincangan yang cukup indah dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah. Menjelaskan hakikat Islam, dakwah dan mengajak mereka mendekat kepada Allah dan tidak menyekutukan apapun denganNya.

Langit meyaksikan mereka, bebatuan, dan bukit Aqabah jadi saksi di tengah heningnya malam. Memang keadaan ketika itu Rasulullah mengalami tekanan yang begitu kuat dari penduduk Mekkah terhadap dakwahnya sehingga beliau membuat strategi berdakwah kepada kabilah-kabilah pada malam hari. Di malam tersebut juga Rasul sempat pergi bersama Abu Bakar dan Ali untuk berdakwah ke perkampunang Dzuhl dan Syaiban.

“Demi Allah, kalian tahu sendiri bahwa memang dia benar-benar seorang nabi seperti apa yang dikatakan orang-orang Yahudi. Jangalah mereka mendahului kalian. Oleh karena itu segeralah memenuhi seruannya dan masuklah Islam!” itulah kalimat yang terucap dari mulut keenam orang yang berasal dari Yastrib setelah lama berdiskusi dengan Rasulullah.

“Kami tidak akan membiarkan kaum kami dan kaum yang lain terus bermusuhan dan berbuat jahat. Semoga Allah menyatukan mereka dengan engkau. Kami akan menawarkan agama yang telah kami peluk ini. Jika Allah menyatukan mereka, maka tidak ada orang yang lebih mulia selain daripada diri engkau,” itulah janji mereka. Menyebarkan risalah Islam kepada penduduk Madinah. Sehingga tak ada satu rumah pun di Madinah melainkan sudah menyebut nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Inilah titik awal peristiwa sebelum Baiat Aqabah pertama.

***

Estafet dakwah berhasil dilanjutkan berkat keenam orang yang mulia tadi. Beberapa saat setelah masuk Islam, mereka sudah berjanji mendakwahkannya di tempat asalnya Madinah. Sehingga menimbulkan opini umum di tengah masyarakat madinah perihal Islam dan ke-Rasul-an Muhammad SAW.

Dari enam orang, di musim haji berikutnya setelah peristiwa pertama di bukit aqabah itu datang kembali dua belas orang yang ingin berjumpa langsung dengan Rasulullah SAW. Lima orang di antara mereka adalah orang yang sebelumnya sudah bertemu Rasulullah. Sedangkan tujuh orang yang lain adalah orang yang berhasil dibawa oleh mereka. Diantaranya mereka adalah Mu’adz bin Al Harits, Dzakwan bin Abdul Qais, Ubadah bin Ash-Shamit, Yazin bin Tsa’labah, Al-Abbas bin Ubadah, Abul Haritsam bin At-Taihan, Uwaim bin Sa’idah.

Mereka mengadakan pertemuan kembali di tempat yang sama yaitu di Aqabah di Mina. Dan kedua belas orang ini mengucapkan bai’at (janji setia) kepada Rasulullah. Marilah kita mendengar kalimat ba’iat yang dituturkan oleh Ubadah bin Ash-Shamit yang berhasil diriwayatkan oleh Ulama’ mulia kita Al-Bukhari,

“Kemarilah dan berbaiatlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak sendiri, tidak akan berbuat dusta yang kalian ada adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak mendurkahai dalam urusan yang baik. Barang siapa di antara kalian yang menepatinya, maka pahala ada pada Allah. Barang siapa mengambil sesuatu dari yang demikian ini, lalu dia disiksa di dunia, maka itu merupakan ampunan dosa baginya, dan barang siapa mengambil sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah. Jika menghendaki Dia menyiksanya dan jika menghendaki Dia akan mengampuninya.” Lalu aku (Ubadah bin Ash-Shamit) pun berba’iat kepada beliau.

Bai’at inilah sejarah mencatat dengan sebutan “Bai’at Aqabah Pertama”.

Setelah bai’at selesai dan musim haji selesai, Rasulullah mengutus salah satu sahabat terbaiknya. Yang paling baik parasnya, tajam lisannya, dan pandai membaca yaitu Mush’ab bin Umair. Beliau diutus untuk pergi ke Madinah bersama para kabilah tadi untuk menyebarkan Islam, mengajarkan syariat-syariat Islam dan pengetahuan agama kepada Muslim dan non Muslim  serta beberapa penduduk yang masih musyrik di sana.

Sesampainya di Madinah, keberhasilan Mush’ab bin Umair dalam menyebarkan risalah Islam kian hari kian terlihat. Beliau di sana tinggal di rumah As’ad bin Zurarah, lalu mereka menjadi rekan dakwah Islam yang begitu semangat dan bersungguh-sungguh menyampaikan risalah agung ini.

Akhirnya sebelum tiba musim haji tahun ketiga belas setelah nubuwah, Mush’ab memutuskan untuk kembali ke Mekkah guna mengabarkan keberhasilannya. Hingga saat itu seluruh kampung dari perkampungan-perkampungan Anshar di dalamnya sejumlah laki-laki dan wanita sudah masuk Islam berkat usaha Mus’ab. Terkecuali beberapa kampung yang belum dibukakan hatinya oleh Allah, yaitu perkampungan Bani Umayyah bin Zaid, Khatmah, dan Wa’il. Di antara mereka ada Qais bin Al-Aslat, seorang penyair yang sangat dipuja dan dihormati dikampungnya. Sehingga membuat penduduk kampung sulit menerima Islam dikarenakan halangan Qais bin Al-Aslat ini. Selain itu mayoritas penduduk Yastrib (Madinah) sudah menerima Islam, siap melindungi Islam dengan seluruh kekuatannya.

***

Estafet dakwah terus berkembang. Dari enam menjadi dua belas, dari dua belas bersama Mush’ab menjadi tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua wanita. Ke tujuh puluh lima orang ini kembali berkumpul di bukit penuh sejarah itu, Aqabah.

Sejarah mencatat kejadian besar ini, yang merupakan titik tolak dakwah Rasulullah yang cukup menyejarah, menyebutnya sebagai Bai’at Aqabah kedua.

Semua berkumpul di sana, berjanji beberapa hal kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mari kembali kita simak riwayat yang ditulis ulama’ kita yang mulia, Al-Imam Ahmad. Beliau meriwayatkan masalah ini secara rinci dari Jabir, dia berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, untuk hal apa kami berbaiat kepada engkau?”

Inilah Klausul baiat yang disampaikan Rasulullah :

  1. Untuk mendengar dan ta’at tatkala bersemangat dan malas.
  2. Untuk menafkahkan harta tatkala sulit dan mudah.
  3. Untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.
  4. Untuk berjuang karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela.
  5. Hendaklah kalian menolong jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri, dan anak-anak kalian, dan bagi kalian adalah surga.[1]

Setelah penetapan klausul-klausul ba’iat oleh Rasulullah, kemudian para sahabat segera melaksanakan ba’iat. Pertama ba’iat dilaksanakan secara khusus kepada pemuka-pemuka agama bagi orang-orang yang menyatakan bai’at tersebut. Kemudian baru ba’iat dilakukan secara umum oleh semua orang laki-laki kepada Rasulullah. Jabir menuturkan, “Lalu kami yang laki-laki bangkit menghampiri beliau secara bergiliran, lalu beliau membaiat kami dan berjanji akan meberikan surga kepada kami.” Sedangkan  yang wanita cukup dengan perkataan.

Begitulah kejadian ringkas bagaimana terjadinya Baiat Aqabah Kedua yang juga dikenal dengan Baiat Aqabah Kubra.Baiat ini mencerminkan kecintaan yang begitu mendalam dari saudara-saudara sesama muslim di Madinah yang begitu perih melihat penderitaan para mukmin di Mekkah. Rasa cinta ini benar-benar merasuk dalam jiwa dan hati mereka, sehingga menimbulkan kekuatan tersembunyi, kepercayaan yang mendalam, keberanian yang kuat, dan keteguhan baja meniti jalan ini. Perasaan ini tumbuh murni karena dorongan iman kepada Allah, Rasul, dan kitabNya. Iman inilah yang tidak akan pudar meskipun cobaan dan kezholiman musuh-musuh membuat mereka tak bisa berdiri lagi. Dengan iman inilah Muslim mampu menorehkan kehebatan dalam zaman dan mencatat sejarah-sejarah penting dalam masa-masa kegemilangan muslim selanjutnya.

Baiat ini  juga menunjukkan bagaimana titik tolak dakwah Rasulullah dari fase Mekkah ke fase Madinah. Dari fase Mekkah yang hanya terdiri atas kelompok-kelompok dakwah yang dipimpin Rasulullah hingga akhirnya menawarkan Islam ke penduduk Madinah yang kemudian diterima dengan baik. Hingga tercapainya tahap dimana Rasulullah dan Islamnya selalu menjadi pembicaraan di setiap orang, setiap waktu, setiap tempat hingga ke sudut-sudut perkampungan kota Madinah. Selanjutnya para pimpinan-pimpinan kabilah akhirnya menawarkan akan memberi perlindungan kepada Rasulullah SAW dengan segenap jiwa dan diri mereka. Melindungi Islam dan RasulNya. Membuktikan iman dan cintanya terhadap Islam dan dakwah. Hingga akhirnya, Rasulullah SAW mendirikan daulah Islam di Madinah dengan pertolongan Allah dan perlindungan para pemimpin kabilah tadi.

Wallahu ‘alam bishawab.

Referensi : Sirah Nabawiyah oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri

[1] Dengan isnad hasan. Al Hakim dan Ibnu Hibban menshahihkannya. Lihat Mukhtashar Siratir-Rasul, hal. 155. Ibnu Ishaq meriwayatkan yang serupa dengan ini dari Ubadah bin Ash-Shamit, yang di dalamnya disebutkan klausul tambahan, yaitu : Tidak menentang perintah yang memerintah.

  1. Allahu akbar,,,
    jazakallah khair akh…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: