Editorial


BASA-BASI IDUL FITRI

oleh Ahmad Adityawarman

Hari Kemenangan
Hari Raya Idul Fitri, seperti yang kita ketahui biasanya kita makan ketupat, eh maaf, maksudnya hari raya Idul Fitri seperti yang kita ketahui disebut juga sebagai hari kemenangan. Lalu, apakah maksud kemenangan disini?

Arti kemenangan itu sendiri banyak. Pernah nonton MotoGp? Dalam MotoGp, kemenangan adalah ketika kita berhasil mencapai garis finish atau menyelesaikan balapan lebih dulu daripada pembalap yang lain. Kalau sepakbola, lain lagi kemenangan itu artinya. Di sini kemenangan berarti ketika kesebelasan kita mencetak jumlah gol yang lebih banyak dibandingkan kesebelasan musuh hingga akhir pertandingan.

Untuk mencapai kemenangan, tentunya kita harus melewati berbagai hambatan terlebih dulu. Sebelum mencapai garis finish, kita harus melewati berbagai tikungan yang tajam, dan juga saling salip-menyalip dengan pembalap yang lain. Untuk mencetak gol, kita harus melewati dulu hadangan bek lawan baru kita berhadapan dengan kiper musuh. Yang paling penting, kemenangan tidak disebut kemenangan bila kita tidak mengalahkan musuh-musuh kita.

Begitu juga dengan hari raya Idul Fitri. Disini kita dianggap menang setelah kita berhasil menyelesaikan misi kita mengalahkan musuh kita, yaitu hawa nafsu. Selama satu bulan penuh kita berpuasa, berlatih untuk mengekang hawa nafsu kita. Hawa nafsu adalah wajar dan lumrah, fitrah yang dimiliki semua manusia. Namun jika tak dikendalikan dengan becus akan menjerumuskan kita kepada hal-hal yang dimurkai Tuhan sehingga hawa nafsu berbalik menjadi musuh yang harus diwaspadai. Oleh karena itu kita perlu berpuasa. Selain itu puasa memiliki tujuan yang paling penting.

Menurut Surah Al-Baqarah Ayat 183 tujuan dari segala tujuan puasa adalah agar kita bertaqwa. Anggap saja puasa adalah sebuah misi yang diberikan Allah, artinya kita akan berhasil jika kita dapat meraih ketakwaan. Kita menang karena berhasil mengalahkan hawa nafsu dan mendapatkan predikat taqwa.

Taqwa itu sendiri pengertiannya adalah melindungi diri dari azab Allah Swt. dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Berarti kita diharapkan setelah kita selesai menjalankan puasa, kita mampu menaati semua aturan yang telah ditetapkan-Nya. Hal itu tak cuma dilakukan ketika bulan Ramadhan, tapi kita terapkan di setiap waktu.

Apakah Kita Sudah Menang?
Mungkin selama bulan Ramadhan banyak yang mendekatkan diri kepada-Nya. Shalat lima waktu yang dulu belang kambingan tak lagi seperti itu. Puasa tak pernah bolong, tadarrus tak lupa dilakukan, shalat tarawih pun tak ketinggalan.

Stasiun-stasiun televisi bersaing menayangkan tayangan religius, entah untuk meraup keuntungan atau menarik simpati penonton. Meskipun tayangannya tetap saja tidak syar’i seperti sinetron percintaan religi, komedi waktu sahur yang lebih banyak ketawanya dibanding nilai agamanya, atau malah acara gosip selebritis spesial Ramadhan (lho??).

Band-band papan atas pun berlomba-lomba menelurkan album religi.
Selepas Ramadhan, maka kembali kita menurutkan hawa nafsu dan kompatriot sejatinya yaitu iblis. Segala ibadah yang wajib dilupakan, semisal shalat lima waktu. Pergaulan ala liberal dan kehidupan yang serba hedonis, berfoya-foya dilakukan. Perzinaan, mabuk-mabukkan, bahkan narkoba dimarakkan.

Tempat-tempat hiburan malam yang sarat kemaksiatan, yang pada bulan Ramadhan ditutup, dibuka lagi sebagai wadah pemuasan hawa nafsu belaka bagi mereka yang tak ingat azab Allah. Tayangan-tayangan televisi pun kembali ke habitat asalnya. Acara-acara yang tak mendidik, seperti sinetron yang arahnya condong pada kehidupan serba mewah, pergaulan yang bebas, dan kisah-kisah pelajar yang baru SMP saja sudah pacaran, dihadirkan dengan dalih hiburan, padahal sama sekali tak mendidik. Bahkan tak jarang tayangan berbau pornografi dan pengumbaran aurat ditampilkan.

Akhirnya bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum memperbaiki diri malah tak memberikan apa-apa, kecuali rasa lapar dan haus ketika berpuasa. Padahal Rasulullah SAW pernah berkata bahwa sungguh sangat rugi orang yang tak mengalami perubahan sedikit pun (ke arah yang lebih baik) setelah melalui bulan Ramadhan. Sudah berapa Ramadhan yang dialami negeri ini, namun masih sering terjadi tindak-tindak kejahatan (pembunuhan, pemerkosaan, perampokan), beredarnya miras dan narkoba, pergaulan bebas, korupsi, serta penolakkan hukum-hukum Allah, yang membuktikan bahwa kita memang sangat rugi.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah betul-betul meraih kemenangan? Disini tak ada maksud untuk menghakimi tentang hal itu. Namun paling tidak kita tahu kalau hal-hal di atas terjadi artinya kita berbalik “dikalahkan” oleh hawa nafsu, musuh kita tadi.

Be The Real Winner
Tadi sudah disebutkan tujuan dari manusia berpuasa adalah agar mereka bertaqwa. Namun kebanyakan hasilnya tak seperti yang diharapkan. Apakah ada yang salah dengan firman Allah tadi? Tentu tidak. Lalu apa yang salah? Apakah saya yang menulis artikel ini? Eit, jangan main hakim sendiri dulu coy!

Tak perlu menyalahkan siapa-siapa, kita koreksi diri sendiri saja dulu. Apakah kita sudah memahami betul-betul ibadah puasa itu. Apakah selama menjalani puasa kita sudah melaksanakannya sungguh-sungguh. Silakan kalau mau menjawab “Ya”, namun kita introspeksi lagi.

Ingatkah ketika berpuasa, kita hanya melakukan aktivitas yang sia-sia tanpa berusaha mendekatkan diri kepada Illahi dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya? Ingatkah ketika berpuasa kita semata-mata hanya menantikan kapan bedugh maghrib tiba dengan pergi ke game center, main PS, bahkan tidur seharian dan bermalas-malasan saja? Ingatkah ketika berpuasa sering kata-kata kasar dan tak sesuai pada tempatnya sering keluar dari mulut kita? Atau, tanpa sadar kita sering membicarakan kejelekan orang lain, bahwa si anu ini, dan si anu itu, sambil tertawa-tawa? Mata kita pun tak kita jaga dari pemandangan-pemandangan yang tak pantas dan telinga tak terbendung dari mendengarkan hal-hal yang terlarang.

Ketika itu terjadi nilai-nilai puasa tak terasa lagi seakan-akan yang kita lakukan hanyalah menahan haus dan lapar, sedangkan sisanya kita masih dikuasai hawa nafsu. Pahala puasa kita pun perlahan-lahan berkurang hingga habis sama sekali. Sesuai dengan perkataan Rasulullah, banyak orang yang berpuasa namun yang didapatkannya tak lebih dari hanya rasa haus dan lapar.

Jika kita menjalani puasa dengan sungguh-sungguh, kita akan dapat memahami bahwa selama menjalankan shaum, manusia dilatih untuk berdisiplin dengan syariah-Nya. Kita diingatkan bahwa tidak ada tempat yang tersembunyi dari penglihatan dan pendengaran Allah Swt. Dengan itu, di ruangan paling tertutup sekalipun, tak ada yang berani makan walaupun sesuap; minum air meski seteguk; berzina biarpun tak ada orang yang tahu. Apabila keyakinan itu kita terapkan tak hanya dalam puasa, namun juga pada seluruh aktivitas kehidupan, maka akan menghasilkan pribadi-pribadi yang bertakwa, yaitu pribadi yang selalu patuh dan taat pada perintah dan larangan-Nya, di mana pun dan kapan pun berada.

Ibadah-ibadah sunah yang selalu kita utamakan di bulan Ramadhan semakin membuat kita mendekatkan diri pada Allah. Di saat menjalankan ibadah sunnah, hati kita terasa tentram dan tenang. Kita pun terhindar dari perbuatan sia-sia dan dosa. Sikap taqwa akan semakin kukuh tertanam pada diri. Allah SWT berfirman :

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itulah , Kami menyiksa mereka karena perbuatan mereka itu (QS al-A’raf [7]: 96).

Ingatlah, ketika kita berhasil menjalani Ramadhan dengan sebaik-baiknya, kita yang semula berlumur dosa, akan diampuni oleh Allah SWT, Sang Maha Pemberi Ampunan. Maka kita seperti terlahir kembali dalam keadaan yang fitri, bersih dan suci. Hal ini patut kita syukuri dan kita rayakan, namun itu semata-mata demi memuja-Nya, bukan untuk berpesta pora.

Di hari raya idul fitri ini kita bagaikan dalam keadaan yang putih bersih. Oleh karena itu janganlah kita mengotorinya lagi dengan percikan lumpur-lumpur kemaksiatan dan noda kejahatan serta debu-debu dosa. Tapi keadaan fitrah ini harus senantiasa dijaga dengan meningkatkan ketaqwaan kita, artinya menerapkan segala peraturan yang telah ditetapkan-Nya pada seluruh aspek kehidupan. Sebab bagaimana mungkin kita mampu menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan Allah tanpa mematuhi peraturan-Nya. Kesadaran untuk itulah kemenangan yang sebenarnya.

Kemenangan yang membuat kita merasa patut untuk merayakannya, bukan kemenangan yang didapat oleh orang yang sebenarnya kalah telak namun ikut merayakannya dengan ‘cara tak pantas’.

Mungkin kita masih belum mampu mengoptimalkan peluang pada Ramadhan kali ini. Oleh karena itu pada Ramadhan tahun depan kita harus mampu memanfaatkannya semaksimal mungkin. Dan jangan menunggu tahun depan, pada saat ini pun kita bisa berubah. Sebab siapa tahu kita tak akan sempat lagi bertemu dengan bulan penuh kemuliaan itu.

Berdoalah, agar kita masih diberikan kesempatan dipertemukan kembali dengan bulan tersebut, yang di dalamnya terdapat ladang amal seluas samudera dan kita mampu menjaring pahala sepuas-puasnya. Bulan yang penuh ampunan. Bulan yang dimana Allah membukakan pintu-pintu surga dan menggemboki pintu neraka. Bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ya Allah, semoga ini bukan Ramadhan yang terakhir bagi kami!

Minal aidin walfa idzin, mohon maaf lahir dan batin. Ehem, kita mulai dari nol lagi ya!

Wallaahu a’lam bi ash shawab

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: