Gak Mau Debus Itu Wajar Beibeh..! (POPCORNzine #12)


Gak Mau Debus Itu Wajar Beibeh..!

oleh Akbar K. Laksana

Halooo apa kabar? Lama bener rasanya selebaran butut ini gak bermain-main dialam pikiran pembacanya, yang biasanya meletup-letup dengan berbagai ide dan celetukan menarik mengenai kehidupan sebagaimana jagung popcorn yang meletup saat dimasak namun nikmat saat disantap.. Juga dengan harapan hasil letupan pemikirannya bisa menjadi cemilan renyah menemani perjalanan hidup kita yang kadang terjal, kadang landai bagai tumpukan jerawat dianak SMA yang puber dan alay..

Rekan-rekan sesama Homo Sapiens, pernahkah dikau berandai-andai tidak dilahirkan menjadi manusia seperti sekarang ini? Dan lebih memilih untuk dilahirkan menjadi lalat, cacing, onta, atau keledai..? Gue yakin pasti gak ada yang berandai seperti itu, tetap kita bakalan milih dilahirkan sebagai manusia. Kalaupun ada yang memilih untuk dilahirnya menjadi cicak, kemungkinan besar ia sudah / sedang stress tingkat tinggi.. Yang bahkan mati pun lebih asoi bagi dia dari pada menanggung kesemrawutan hidup penuh duka penuh luka.. (-sesuai prespektif dia).

Nah, mengapa oh mengapa dikau, dia, kakanda, adinda, dan gue lebih memilih tetap menjadi manusia..? Gue mungkin bisa menjawab secara serampangan sederhananya seperti ini ; karena kita lebih suka menjadi manusia, dibandingkan menjadi hewan. Manusia banyak memiliki hal yang tidak bisa dilakukan oleh hewan, dan hewan memiliki kemampuan dibawah kemampuan manusia. Khususnya kemampuan otak untuk berfikir secara cemerlang. Dan fitrahnya manusia, adalah tidak ingin menjadi orang yang lemah, apalagi turun derajat menjadi sebangsa hewan.

Yah.. tentu aja kita gak mau hidup kayak kambing. Tiap hari keliling-keliling cari rumput. Kalau gak ada kerjaan cuma bisa ngembeek, bengong, atau neduh dibawah pohon. Dan pas idul adha, atau pas mpok hindun mau bikin kari kambing atau tongseng, maka sebangsa kambing-bandot-domba lah yang jadi sasaran penjagalan manusia.. naas!.

Bedanya dengan manusia. Manusia memiliki anugerah yang gak dimiliki oleh hewan manapun, yaitu anugerah akal. Dengan akalnya manusia bisa membaca, internetan, atau berorganisasi. Dengan akalnya itulah pula manusia dapat berfikir mengenai apapun dialam raya ini. Ia bisa memikirkan mengenai hakikat hidupnya yang sebenarnya, dapat memikirkan mengenai proses berlangsungnya alam raya, memikirkan dan memahami bagaimana wujud cair air dapat membeku, sebuah algoritma dalam perangkat lunak komputer, hingga penyakit batu ginjal dan penanganannya.

Sedangkan sejenis binatang, jangankan untuk memikirkan sistem ekonomi kapitalisme yang saat ini sebagai biang kehancuran ekonomi global, memikirkan masa depan pun mereka tidak. itu karena binatang tidak memiliki akal, mereka hanya menggunakan insting untuk bertahan hidup. Saat lapar baru nyari makan, saat merasa terancam baru siaga, saat mules baru gali lobang buat boker.. atau saat besok ujian baru malamnya belajar.. Uppss!

Namun, dibalik anugerah akal yang dimiliki manusia, sebenarnya manusia juga harus menanggung konsekuensinya. Dengan akal yang dimiilikinya, akhirnya manusia dapat membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya, pilihan bertingkah laku, pilihan berkata, pilihan bertindak, termasuk pilihan untuk berkeyakinan. Konsekuensi yang harus ditanggung manusia, adalah mempertanggung jawabkan segala pilihannya itu sesuai standar Sang Pencipta, Allah swt. Kalau ternyata pilihan yang ia ambil ternyata tidak memiliki kesesuaian dengan aturan yang sudah digariskan Allah, -dan malahan menyimpang, maka manusia mendapatkan dosa atas pilihannya itu. Sebaliknya jika pilihan yang kita putuskan adalah pilihan yang tidak menyimpang dari aturanNya, bahkan klop dengan syariatNya maka hadiahlah pahala bagi kita.

Pertanyaanya, dari mana kita tahu itu semua (?)

Tentu dari sumber-sumber aturan islam; Al qur’an dan As sunnah. Melalui the MOGSAW (Messenger Of God Shalallahu ‘alaihi Wa ssalam) Muhammad, yang mencontohkan dan menyampaikan dalam bentuk lisan, perbuatan, dan perilakunya berabad-abad silam. Dan hingga kini milyaran umat islam meyakininya. Karena memang sumber-sumber itu tak terbantahkan kebenaran dan kevalidannya.

Kemudian dari sumber-sumber aturan islam itu lah terpaparkan seluruhnya, mulai dari aturan yang mencakup hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri, dan juga interaksi manusia dengan manusia lainnya. Mulai dari kewajiban meyakini perkara-perkara ghaib yang diperintahkan, hingga perbuatan nyata yang harus dilakukan.

Seorang mukmin dengan keyakinan islamnya yang kuat, ia pasti akan sangat meyakini adanya Allah, malaikat-malaikat, hari pembalasan, hingga kahidupan akhirat (surga  & neraka). Bahkan mukmin sangat yakin atas adanya surga walaupun mereka belum pernah kesana. Dan saking yakinnya, kalau ditanya mau masuk surga apa enggak, pasti semuanya bakalan jawab dengan yakin ; mau!. Kalaupun kita tanya lagi, “Yakin nih..?”, pasti mereka jawab lantang “Haqqul Yaqin!”, kalau coba tanya lagi.. “beneran..? Sumpeh lu..?”, bagi yang gak sabar dengan pertanyaan konyol itu pasti kamu bakalan digetok atau ditinggalkan.. karena menanyakan sesuatu yang gak wajar bagi pandangan si mukmin.

Sama halnya dengan neraka. Pasti mukmin sangat yakin atas keberadaanya dan meyakini pula para pendosa semacam perampok bengis, pembunuh berdarah dingin, pencuri jemuran, dan pensodomi anak sekolahan bakalan dicemplungkan kesana -jika mereka gak bertaubat. Mereka yakin betul! Bahkan gak pernah ada seorang mukmin yang dengan kurang ajarnya berani mengatakan dengan lantang, “Beneran deh! Sumpah gue lebih memilih masuk neraka ajaaa!!!!”. Gak pernah..kan?! Mukmin pasti bakalan takut ngomong begitu. Walau mereka pun sebenarnya semumur-umur belum pernah masuk keneraka..

Hebat. Itulah keyakinan. They believe in something that can not seen by eyes! Umat islam itu melihat dengan keyakinannya.. Dan itu melampaui kehidupan dunia.

Sangad inginnya seorang islam masuk surga merupakan sesuatu yang wajar. Begitu pula ketiidak sudi-an muslim masuk neraka, juga hal yang wajar-wajar aja.. Karena kewajaran mereka dibangun dari sebuah keyakinan yang kokoh akan adanya keduanya itu.

Sebagaimana kita yakin bahwa yang namanya api dikompor itu panas, tentu sampai kapanpun kita gak bakal mau memasukkan tangan kita keatas jilatan api yang panas dan membakar. Gak bakalan mau, walau lauk dikosanmu sudah gak ada lagi, pasti kamu gak bakalan kepikiran untuk memanggang tangan dijadikan santapan.. dan itu memang wajar bung..! Yang gak wajar justru yang sudah yakin bahwa api itu panas, tapi tetap mau mencemplungkan dirinya ke kobaran api. Palingan, yang berani melakukan itu adalah orang-orang yang biasa melakukan atraksi sirkus atau debus. Para debusser, berani memainkan api dan melakukan atraksi unik menggunakan api walau resikonya adalah terbakar.

Namun beiybeh..! Sadar gak sadar dizaman sekarang orang-orang yang bermain debus semakin banyak kita liat. Bahkan dikampus gue pun banyak loh..

Ya, mereka misalnya cewek-cewek yang dengan beraninya memperlihatkan aurat asoi mereka ditempat umum sehingga menjadi konsumsi siapapun. Bukankah itu debus juga men.. Yoa! Soalnya mereka sudah berani mengambil resiko terjilat api neraka.. Bukankah menutup aurat merupakan sebuah kewajiban. Dan bahkan melanggar perintah itu diganjar dengan dosa yang bisa cemplungkan kita keneraka..

Atau orang-orang yang pada asyik pacaran, ikhtilat, hubungan gak jelas diluar ikatan pernikahan. Mondar-mandir ‘atraksi’ berduaan dimana-mana, bahkan mungkin ketempat sepi. Bukankah itu debus juga brur..!?  Soalnya mereka berani mengambil resiko terbakar dengan api neraka, melanggar perintah-Nya, karna berani mendekati zina..

Atau orang-orang yang dengan entengnya menjadikan riba hal biasa. Makan harta riba, bahkan menjadikan sumber nafkah dengan bisnis-bisnis funding ribawi zaman sekarang. Bukankah itu juga debus level jaringan bung..?! Buset dah padahal jelas di Al qur’an banyak larangan dan makian terhadap orang yang dengan entengnya memakan harta riba, terlibat dengan riba, juga mengajak orang berbisnis riba..

Gitu juga yang suka mabok-mabokan, asik ngisap cimeng, narkobaan. Saat mereka sedang asik nengguk Jack Daniel, Pil Koplo, ataupun miras racikan cap murahan, sebenarnya mereka sedang memasukkan api neraka ke lambung mereka. Debus! yang realisasi terbakarnya diakhirat kelak dineraka..

Dan juga jenis debus yang lainnya. Yang parahnya ‘debus’ begitu sudah menjadi hal biasa dimata kaum urban sekarang. Berbagai perilaku kemaksiatan tersebut semakin banyak orang melakukannya, sehingga dianggap wajar bagi kebanyakan orang. Padahal, seharusnya kalau kita yakin itu perbuatan maksiat, justru melakukannya adalah sesuatu yang gak wajar. Melanggar nurani, yang selama ini dibentuk melalui peroses keyakinan.

Wajar gak wajar itu sebuah pandangan. Pandangan tentu dibentuk dari keyakinan.. Kalau udah bener-benar yakin islam itu bener. Ya udah jalanin aja, jangan banyak alasan untuk menunda pelaksanaannya. Jangan banyak alasan untuk melakukan kemaksiatannya, seolah-olah kalau melakukan kemaksiatannya itu wajar.

Ya gak?!

Yah.. makanya kalau suatu saat ada banci bohai, paling cantik, pake make up kinclong, pakai maskara paling mahal, ditambah rok mini paling seksi, terus ngajak gue kencan.., dengan mantab gue bakalan jawab tantangannya, “Maaf deh.. saya gak mau main debus sama situ. Udah resikonya api neraka, tertusuk pedang anggar pula..! “

Wajarkan? 😀

http://popcornzine.wordpress.com

Iklan

Raja Tega!


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Suatu hari anda dipanggil oleh orang tua anda. Lalu orang tua anda berkata, “nak, kamu ini membebani saja… boros betul, menyulitkan orang tua, jadi uang saku kamu kukurangi, terus kalo mau makan harus bayar sama aku,,,!!!”. Kira-kira apa yang anda rasakan seandainya orang tua anda Berkata seperti itu kepada anda?? Mungkin akan terucap, “TEGA”, atau mungkin “SUNGGUH TERLALU” tak lupa dengan logat Bang Haji nya. Padahal di satu sisi, mereka menghambur-hamburkan uang mereka untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, tidak penting, dan untuk melengkapi kemewahan pada diri mereka sendiri.

Alhamdulillah, untungnya orang tua kita tak pernah berkata seperti itu kepada kita. Dan aku yakin, Insya Allah orang tua kita semua, orang tua yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung. Tapi ternyata di era yang serba edan seperti sekarang ini, ternyata ada orang tua seperti itu. Ada orang tua yang tega memangkas nafkah wajib untuk anaknya, sedangkan orang tua itu sendiri hidup dalam lembah kemewahan. Tak percaya? Percayalah..!! Baca lebih lanjut

Everyday is Motherday


Everyday is Motherday

Entah kenapa beberapa hari yang lalu gue cekikikan sendiri saat tiba-tiba ingat kebandelan zaman SMP dulu. Saat itu gue membuat tulisan tempel yang isinya begini, “Sebod*h-bod*hnya orang terbod*h adalah yang mau sempat-sempatnya baca tulisan ini apalagi pake ketawa-ketawa sendiri!”

Eitss.. tulisan itu bukanlah untuk membuat dikau marah baca artikel ini. Tapi itulah tulisan yang gue bikin saat SMP dulu, dan dengan sengaja menempelkannya di papan tulis belakang kelas –yang niatnya cuman iseng bikin heboh kelas. Ketika ada yang baca, dia pasti awalnya mau tau, terus nyengir, kemudian sewot.. Hehehe entah kenapa gue bisa bahagia saat orang ketipu baca tulisan itu. Standar bahagia yang parah saat remaja. Ckckc..

Namun, apa yang terjadi jamaah sekalian?!!

Ya! Tak lama setelah tulisan itu gue tempelkan, dan memakan korban puluhan ribu orang (lebay..). Tibalah dimana ruangan kelas dimasuki oleh ibu guru pengajar bahasa Indonesia. Ibu guru yang masih gue ingat rupa wajahnya, namun (durhakanya) gue terlupa nama beliau, itu kemudian jalan-jalan keliling kelas sambil ngajar.

Tibalah sampai manuver beliau dibagian belakang kelas. Goncangan jiwa gue semakin berdisko. Degupan jantung mengalir deras, denyut nadi berdegup keras. Tulisan di papan tulis belum gue cabut! Bahaya!.

Dan benar sodari sodari! Benar!  Beliau –yang semoga atas kesabaran dan jasanya mendidik muridnya yang bengal ini dilimpahkan sorga bintang tujuh kepadanya– membaca tulisan gue, dan diam terpaku beberapa saat menatap papan tulis di belakang kelas itu.

Kemudian dengan menahan marah dipucat wajahnya, ibu guru berkata “Siapa yang nulis tulisan ini..?”. Gue gak bisa apapapapapa lagi, kawan-kawan dikelas tertawa dan memandang kearah kegantengan gue. Gue harus pasrah menerima kegantengan ini, dan mengakuinya kepada ibu guru.. “Ulun bu.. (translate : “Saya bu”)”.

Kemudian ibu guru bahasa Indonesia itupun berbicara dalam bahasa Indonesia, (yang rasanya begini), “Orang itu dilihat dari perkataannya dan tulisannya, dia akan menunjukan jati dirinya dari itu..”. Kemudian ia maju kedepan kelas,  melanjutkan pengajaran, dan..Ya gitu aja.

Beliau gak ngelempar gue pake pot bunga. Gak nyuruh gue ngepel lapangan basket. Gak nyuruh gue push up sejuta kali. Walau gue tau tulisan itu pasti menyabik-nyabik harga diri siapapun yang membacanya. Malah gue yang malu, dan kemudian mencabut tulisan itu, dan (rasanya) gak mengulangi itu lagi sampai saat ini.

Kelam.

***

Tiba-tiba seorang ustadz cilik siswa SMP pemenang lomba da’i cilik yang diadakan di kampungnya naik keatas podium menyampaikan tausiahnya ;

“Hadirin rahimakumullah.. Setiap manusia pasti memiliki potensi hebat dan kreatif, tinggal bagaimana dia menyuguhkannya dalam bentuk seperti apa. Seperti cerita anak berandalan diatas yang tidak patut dicontoh itu, menunjukan kepada kita semua bahwa potensi kreatif, ide kreatif dan kecerdasan nya membuat untaian kata yang anugerahkan dari Alloh kepada dia, malah digunakan dalam aktivitas yang negatif dan sia-sia..

Yah.. banyak sekali sebenarnya kasus-kasus lainnya yang sering kita dengar selama ini. Para maling laptop di kampus kakak saya yang menggunakan modus sholat di mesjid yang begitu tak terkira, kasus pembobol ATM yang dengan inteleknya mengandalkan kemajuan teknologi, teknik penipuan menggunakan hipnotis, sampai cybercrime yang dilakukan cracker (Black Hacker) di dunia internet.. MasyaAlloh.. sungguh sangat banyak sekali..!

Ada persamaan diantara kasus itu semua. Yaitu potensi, kemampuan, kreatifitas berusaha yang seharusnya bisa digunakan untuk menunjang berbuat kebaikan malah di salah gunakan untuk bermaksiat, melakukan kejahatan..

Mengapa? Oh mengapa tidak malah digunakan untuk melipat gandakan pahala, atau melancarkan datangnya rezeki secara halal?!

Namun pertanyaan lainnya, mengapa? Oh mengapa si Akbar ini malah bikin tulisan mengenai guru di momen hari ibu..? Bukankah hari ini tanggal 22 desember merupakan hari ibu?

“Kenapa dek ustadz..?” seorang penonton nyeletuk.

Mau tau jawabanya? Mau tau? Mau tau? Mau tau?

Kita lanjutkan di paragraf bawah berikut ini..”

***

Episode lainnya gue ingat disaat momen masih SMP kelas tiga beberapa juta detik sebelum UAN diadakan, dimana gemuruh jantung siswa-siswa kelas tiga saat itu seperti degup jantung syahrini saat menyambut David Beckham yang tiba di Indonesia.

Disaat mata pelajaran Agama Islam, Pak Ardi (Alhamdulillah ingat namanya), seorang guru yang gue kagumi karena kebijaksanaan dan ketegasannya menyampaikan sesuatu di kelas. Beliau menyampaikan kalau ingin dimudahkan melalui permasalahan (UAN) salah satu caranya ialah meminta ridha orangtua kita. Termasuk guru kita, dan doakan mereka, juga minta maaflah kepada mereka.

Saat itu sekali lagi gue merasa ditonjok tepat di dada, menohok. Selama itu kerjaan gue dan kawan-kawan adalah suka nyambatin guru-guru, suka tidak sopan, dan suka ngumpat cekikikan bikin cerita-cerita buruk guru-guru di sekolah. Saat itulah dengan waktu yang tersisa gue rubah tingkah laku terhadap para guru, gak lagi ngumpat, meminta maaf dan ridha kepada satu-satu guru, dan juga gak lupa  mendoakan disetiap kesempatan. Alhamdulillah saat UAN, diberikan keringanan sama Allah dan hasil yang memuaskan.

Sesuatu banged..

Kenapa ditulisan ini gue jadi ingat ibu-bapak guru saat SMP dulu, gue juga gak tau. Tulisan ini mengalir begitu saja. Paling tidak gue cuman ingin mengingatkan tidak harus di hari guru lah kita mengenang jasa-jasa guru kita. Dan juga, tidak harus di hari ini saja (hari ibu) kita mengenang jasa ibu kita. Karena seharusnya itu dilakukan setiap hari, setiap saat kita mengingat mengenang dan berusaha menyenangkan guru dan ibu kita. Sebagaimana mereka memberikan pengajaran setiap harinya tanpa lelah dan tanpa benci (walau kadang kita berikan perlakukan yang menyakiti hati mereka) dan tanpa menagih balasan, ikhlas untuk kita.

Sangat kurang ajar kita, kalau memfokuskan dengan cukup satu hari saja memberikan waktu untuk momen kasih sayang kepada ibu, sedangkan sang ibu menyayangi anaknya sepanjang waktu sepanjang detik, setiap mikro detik..

Sangat durhakanya kita, saat Rasulullah saja mengatakan bahwa surga berada ditelapak kaki ibu, namun kita masih suka melawan berbagai perintahnya, nasihatnya -yang sebenarnya untuk kebaikan kita..

Sangat tidak pantasnya kita, melawan dan menyanggah ibu padahal berabad-abad yang lalu Yang Mulia Muhammad saw. telah memperingatkan kalau mengatakan “Ah..!” saja sudah merupakan dosa terhadap ibu kita..

Sangat memalukannya kita, kalau hanya menjadikan satu hari dalam satu tahun sebagai hari ibu sedangkan, saat ditanyakan siapakah sosok yang harus dihormati didunia ini, Rasulullah sampai mengatakan berkali kali untuk menjawabnya : ibundamu, ibundamu, ibundamu..

Maka.., luapkanlah haru pada ibunda. Sampaikanlah terimakasih atas hari-harinya yang berat untuk membesarkan dan merawat kita, berikanlah persembahan terbaik -untuk paling tidak menyenangkan hatinya, karena kita yakin takkan mampu sampai kapanpun membalaskan keseluruhan jasanya pada kita..

Dan jangan pernah tertinggal dalam kesempatan do’a untuk menyembut nama ibunda, memohon kepada Sang Kuasa memberikan segala kebaikan kepada ia..

Sebagaimana doa yang diajarkan oleh ibu sewaktu kecil, gue akan selalu menyertakan doa yang pernah diajarkan beliau tersebut,

Allaahummaghfir lii wa liwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaanii shaghiiraa..” (Ya Allah ampunilah dosa aku dan kedua orangtua ku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil..)

Amin.

(15.46 wita, Selesai aat adzan ashar di hari ibu 22-12-2011)

KENAPA PETERPAN GA MAU JADI DEWASA?


oleh Fajar Gemilang Ramadani

Ingat kah anda dengan cerita dongeng, seorang anak yang hidup di dunia, semacam dunia sihir. Anak itu bisa terbang, dan punya kemampuan sihir lainnya. Dia juga mahir memainkan pedang. Musuh bebuyutannya adalah Kapten Hook. Dia lah Peter Pan. Jadi yang jadi awal dari kisah ini bukan grup Band yang vokalis nya sekarang lagi ngaso dan nangkring di dalam tahanan akibat video asusilanya dengan 2 orang artis lainnya. Yang aneh, kenapa cuma yang cowo yang di tahan, tapi lawan main ga di tahan?? Selamat datang di dunia demokrasi, dunia yang tolak ukur baik buruk dan benar salah nya ga jelas. Tapi tulisan kali ini tidak akan menyoroti gemerlap dunia selebritis kaya di acara-acara gossip yang ada di TV. Yang mau kita omongin adalah Peter Pan “yang sesungguhnya”.

Konon katanya, tokoh anak sakti mandraguna yang satu ini dia tidak ingin menjadi orang dewasa. Saya lupa apa alasan pasti kenapa Peter Pan ga mau jadi orang gede (karena udah lama ga’ nonton film nya), tapi yang jelas dia merasa Baca lebih lanjut

Soal Jawab Seputar Gerakan Islam [download koleksi dokumen]


Artikel-artikel ini diambil dari Buku Seputar Gerakan Islam karangan Abdurrahman Muhammad Khalid, Pustaka Thoriqul Izzah, Januari 1994.

01. Klasifikasi Harakah Islamiyah

02. Aktifitas Harakah Islamiyah

03. Penentuan Target dan Metode Da’wah Harakah Islamiyah

04. Berjuang Untuk Islam di Jalan Yang Keliru

05. Darimanakah Harakah Islam Harus Mulai

06. Membentuk Kesatuan Antar Gerakan

07. Membangun Pemerintahan Islam Melalui Pemilihan Umum

08. Bolehkah Suatu Gerakan Memberontak

09. Perlukah Mendirikan Organisasi Sosial Kemasyarakatan

11. Ketertinggalan Sains dan Teknologi Bukan Kendala Mendirik

12. Mengapa Belum Ada Daulah Islamiyah

13. Ingin Berjuang Tanpa Resiko

14. Peranan Wanita Dalam Dakwah Islam

15. Melepaskan Baiat

download semuanya (*.zip, 140KB)  .:: disini ::.

Pra-KMII Jatim 2011


oleh Ardiannur Arroya

“Tugas itu selalu ada, terlebih sebagai seorang pengemban dakwah. Tugasnya tidak akan pernah berakhir hingga kedua kakinya berada tepat dan pasti di surga.”

Hari ini tepat H-1 sebelum sebuah Hari Bersejarah yang kembali akan diukir oleh para pengemban dakwah yang Insya Allah selalu dan senantiasa tsiqoh dalam mengemban sesuatu yang saya katakan sangat berat dan terkadang tidak semua orang yang tahan untuk memperjuangkannya. Karena inilah yang membuat manusia paling mulia dimusuhi, dibenci, dan dihina secara luar biasa oleh bangsanya sendiri, inilah yang membuat seorang Mush’ab bin Umair dengan keelokan parasnya dan tutur katanya meninggalkan harta-hartanya yang melimpah ruah, inilah yang membuat seorang budak berkulit hitam rela tetap mempertahankan apa yang dia yakini walau dadanya remuk di hujam batu besar dan punggungnya yang terbakar oleh panasnya padang pasir, inilah yang membuat sebuah peradaban yang luar biasa yang tidak pernah muncul sekalipun di dunia dan tak ada duanya di kancah peradaban dunia. Inilah Islam, dengan seperangkat peraturannya yang sempurna dan para pengembannya yang tak pernah berpaling sedikitpun dari yang haq.

Sayang, ia kini tenggelam oleh zaman, dihancurkan oleh mereka para musuh sejatinya dan yang lebih menyedihkan lagi justru dihancurkan oleh mereka-mereka yang mengaku sebagai pengembannya. Ya inilah fakta yang sangat menyedihkan, nyata dan ada serta jelas sekali. Inilah kondisi saat ini, kondisi Islam yang telah dicampakkan oleh sebagian besar pengembannya sendiri. Menyedihkan….
Baca lebih lanjut

Keselek Jihad..


oleh Akbar K. Laksana

Bom Solo meledak. Meledak tiba-tiba di gereja pula. Ekspos media berlebihan. Menutupi kasus diserangnya umat islam di Ambon. Menutupi berita ditusuknya punggung  tukang ojek muslim di Ambon yang akhirnya diberitakan kebanyakan media nasional sebagai kecelakaan. Di Ambon pemberitaan diredam, dengan alasan menjaga kerukunan antar umat beragama. Di Solo berita malah di ekspos habis-habisan padahal dapat menyebabkan ketegangan antar umat beragama pula. Bahkan dalam pemberitaan, yang melakukan bom bunuh diri itu adalah seseorang yang ingin berjihad. Dan lucunya karena yang melakukan bom bunuh diri itu sebelum melaksanakan aksinya berkunjung ke warnet dulu, dan membuka situs-situs islam, kemudian polisi mengatakan bahwa situs situs islami itu sebagai media jihad radikal yang membahayakan. Bahkan ada seorang tokoh islam yang membuat pernyataan yang lebih heboh untuk menghakimi situs situs tersebut, dalam pernyataannya  ia mengatakan bahwa situs-situs seperti itu lebih bahaya dari pada situs porno.

Sedangkan saat dicek di situs yang katanya dikunjungi oleh pengebom itu (arrahmah.com) gue lihat gak ada yang aneh-aneh mengerikan seperti yang ditakutkan dan diutarakan sama polisi. Situs itu menyampaikan berita masih menggunakan kode etik jurnalistik. Menyampaikan fakta dengan sumber yang nyata. Menyampaikan pernyataan berdasarkan pihak yang Baca lebih lanjut